Wisata Jepang Makin Ramai Tapi Traveler Mulai Tinggalkan Rute Tokyo–Kyoto
Senin, 16 Maret 2026 | 12:41
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Canva
Minat wisatawan dunia terhadap Jepang terus melonjak. Negara Matahari Terbit itu bahkan mencatat lonjakan kunjungan internasional yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut data dari Japan National Tourism Organization, Jepang menerima lebih dari 42,7 juta wisatawan internasional sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan semakin besarnya minat traveler global untuk mengeksplorasi budaya, kuliner, hingga lanskap alam Jepang.
"Secara tren, dalam hal angka, memang meningkat. Jepang sedang booming," kata Sayaka Usui, direktur kantor Frankfurt untuk JNTO, dalam sebuah wawancara dengan Euronews Travel di pameran perdagangan perjalanan ITB Berlin.
BACA JUGA
Liburan ke Jepang Makin Digital, Turis Harus Isi Data Sebelum Berangkat
Inovasi Gila dari Jepang, Terbang ke AS Lewat Luar Angkasa dalam Waktu 60 Menit
Ketika Politik Mengubah Peta Liburan: Dampak Ketegangan Beijing-Tokyo pada Pariwisata Jepang
Bagi traveler yang baru pertama kali berkunjung, destinasi ikonik seperti Tokyo dan Kyoto masih menjadi pilihan utama. Dua kota ini memang terkenal dengan kombinasi modernitas, budaya tradisional, kuil bersejarah, hingga kuliner yang mendunia.
Namun Tren Traveling ke Jepang kini mulai berubah.
Traveler yang sudah pernah datang sebelumnya mulai mencari pengalaman yang lebih autentik, menjelajahi wilayah yang jarang masuk itinerary wisata mainstream.
"Ini campuran. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, Jepang adalah Jepang, jadi mereka mencari Jepang tradisional seperti Tokyo, Kyoto, kuil, makanan," ujarnya.
Traveler Mulai Menjelajah Jepang yang Lebih “Lokal”
Melihat tren ini, otoritas Pariwisata Jepang mulai mendorong wisatawan untuk mengeksplorasi destinasi yang kurang dikenal.
Bukan hanya kota besar, tetapi juga jalur pegunungan, desa bersejarah, hingga rute pesisir yang menawarkan Pengalaman Budaya lokal yang lebih mendalam.
Menariknya, eksplorasi ini semakin mudah karena Jepang memiliki sistem transportasi yang sangat efisien.
"Sistem Transportasi Umum di Jepang sangat signifikan. Kereta api tersedia, bus tersedia. Informasi dalam bahasa Inggris juga tersedia, jadi Anda tidak perlu khawatir atau takut untuk menjelajah lebih jauh," ucapnya.
Berkat jaringan kereta cepat dan Transportasi Publik yang rapi, traveler bisa dengan mudah berpindah dari kota besar ke wilayah pedesaan hanya dalam beberapa jam.
Tren Hotel Unik di Rumah Tradisional Jepang
Ledakan wisata ini juga memicu pertumbuhan hotel baru di berbagai daerah Jepang, tidak hanya di kota besar seperti Osaka.
Banyak properti baru mengusung konsep yang unik: mengubah rumah tradisional Jepang menjadi hotel butik mewah.
"Di daerah tertentu terdapat hotel-hotel baru yang merenovasi rumah-rumah tradisional lama untuk menjadikannya lebih seperti hotel mewah yang unik," jelas Usui.
Konsep ini membuat traveler bisa merasakan atmosfer Jepang klasik dengan kenyamanan modern.
"Jadi, pengunjung dapat menikmati arsitektur kuno, tetapi di dalamnya sangat modern dengan gastronomi yang sangat lezat dan indah," ujar Usui.
Alam Jepang Jadi Magnet Baru Traveler Dunia
Selain budaya dan kuliner, wisata alam juga menjadi tren perjalanan yang berkembang pesat di Jepang, terutama di kalangan traveler Eropa.
"Alam adalah salah satu tema minat yang penting, terutama bagi wisatawan dari Eropa. Jepang menawarkan banyak pengalaman, mulai dari tradisional dan budaya, tetapi juga terdapat perpaduan yang sangat baik antara pengalaman alam," lanjutnya.
Salah satu destinasi yang mulai populer adalah jalur bersejarah Nakasendo Trail di wilayah Nagano.
Jalur ini merupakan rute kuno yang pada masa lalu menghubungkan Edo—nama lama Tokyo—dengan Kyoto pada periode Edo.
"Ada rumah-rumah yang sangat tua tempat orang masih tinggal, sehingga Anda dapat menikmati kehidupan sehari-hari di desa-desa tradisional kuno semacam itu," kata Usui.
Sepanjang perjalanan, traveler bisa menikmati suasana desa Jepang yang autentik, berinteraksi dengan penduduk lokal di kafe kecil, hingga trekking di jalur alam yang indah.
Selain Nakasendo, Jepang juga memiliki rute spiritual seperti Shikoku Pilgrimage yang menghubungkan 88 kuil Buddha di Pulau Shikoku.
Ada pula jalur trekking dramatis di utara Jepang, yaitu Michinoku Coastal Trail yang membentang sejauh 1.025 kilometer di sepanjang pesisir.
Destinasi-destinasi ini dapat diakses dengan mudah dari Tokyo menggunakan jaringan kereta cepat Jepang.
Jepang Punya Empat Musim yang Selalu Berbeda
Melihat semakin tingginya minat wisatawan, otoritas pariwisata Jepang juga ingin mendorong wisata sepanjang tahun, bukan hanya saat musim sakura.
"Jepang menawarkan empat musim. Setiap bulan dalam setahun Anda dapat menemukan pengalaman otentik di Jepang," pungkasnya.
Artinya, kapan pun traveler datang ke Jepang, selalu ada pengalaman baru yang bisa ditemukan—mulai dari festival musim panas, dedaunan merah musim gugur, hingga lanskap salju di musim dingin.










