ID EN

Rahasia Air Mata Dewi Laila Usai Raih Medali Emas di SEA Games Thailand

Minggu, 14 Desember 2025 | 10:47

Penulis: Respaty Gilang

Dewi Laila
Atlet menembak Dewi Laila berhasil meraih medali emas di SEA Games Thailand.
Sumber: Antaranews

Tangis itu akhirnya pecah bukan di momen penentuan, bukan pula ketika peluru terakhir meninggalkan laras senapan. Air mata Dewi Laila Mubarokah justru tumpah setelah semuanya selesai. Saat dua medali emas SEA Games Thailand 2025 telah resmi menjadi miliknya, dan rahasia besar yang ia simpan berbulan-bulan tak lagi perlu disembunyikan.

Di Photharam Shooting Range, Bangkok, Sabtu, 13 Desember 2025, Dewi Laila menuntaskan tugasnya dengan sempurna. Ia mempersembahkan emas nomor 10 meter Air Rifle beregu putri bersama Dominique Rachmawati Karini dan Yasmin Figlia Achadiat, lalu melengkapinya dengan emas nomor 10 meter Air Rifle putri perseorangan. Sebuah pencapaian paripurna yang menegaskan namanya sebagai salah satu penembak terbaik Asia Tenggara.

Namun di balik ketenangan, presisi, dan kontrol napas yang nyaris tanpa cela, Dewi Laila sesungguhnya tengah menjalani perjuangan lain yang tak tercatat di papan skor. Ia bertanding di SEA Games 2025 dalam kondisi hamil empat bulan.

“Alhamdulillah, saya benar-benar tidak menyangka. Saya kira pulang tidak membawa apa-apa. Paling nyangkut di perak atau perunggu,” ujar Dewi Laila dengan suara bergetar seusai lomba.

Kehamilan tersebut disimpannya rapat-rapat. Hanya segelintir orang yang mengetahui kondisi itu, termasuk pengurus Persatuan Menembak Indonesia, pelatih, dan satu rekan atlet. Bahkan Dominique, rekan satu kamar sekaligus rivalnya di final, sama sekali tidak mengetahuinya.

“Sekamar sama Dominique saja dia enggak tahu,” katanya sambil tersenyum, menoleh ke arah Dominique.

Menjaga rahasia berarti menjalani semua proses seolah tak ada yang berubah. Dewi Laila tetap mengikuti pemusatan latihan, menjalani tes fisik, hingga tampil di berbagai kejuaraan. Pada fase awal kehamilan, tantangan justru terasa lebih berat, terutama ketika rasa mual datang tanpa bisa dibagi.

“Waktu masih awal itu mual. Tapi biar enggak ketahuan teman-teman, ditahan sendiri. Cuma cerita ke suami,” ujarnya.

Kekhawatiran lain muncul dari hal yang kerap luput dari perhatian public, konsumsi vitamin. Sebagai atlet elite, setiap zat yang masuk ke tubuh harus dipastikan aman dan sesuai regulasi antidoping. Dewi Laila sempat diliputi kecemasan, takut vitamin kehamilan justru menjerumuskannya pada pelanggaran aturan.

Keresahan itu akhirnya terjawab lewat konsultasi resmi. Bersama tim, Dewi Laila berkoordinasi dengan Indonesia Anti-Doping Organization (IADO). Ia kemudian diarahkan untuk melaporkan penggunaan vitamin melalui mekanisme Pengecualian Penggunaan Terapeutik atau Therapeutic Use Exemption (TUE) yang diatur Badan Antidoping Dunia (World Anti-Doping Agency/WADA).

Langkah tersebut menjadi titik tenang di tengah tekanan. Kehamilan tetap terjaga, regulasi tetap dipatuhi, dan Dewi Laila bisa bertanding dengan pikiran lebih lapang.

Dukungan terdekat datang dari pelatih. Menjelang final, ketegangan tak sepenuhnya bisa dihindari.

“Saya bilang ke pelatih kalau tegang. Tapi pelatih cuma bilang, tarik napas, atur napas, kontrol seperti latihan biasa,” ujarnya.

Nasihat sederhana itu menjadi pegangan ketika delapan penembak terbaik saling kejar angka di babak final. Dewi Laila sempat tertinggal, namun perlahan bangkit. Satu per satu pesaing tersingkir, hingga tersisa duel sesama Indonesia: Dewi Laila melawan Dominique.

Sorak penonton mengiringi setiap tembakan. Hingga akhirnya, Dewi Laila memastikan emas, sementara Dominique harus puas dengan perak. Keduanya berpelukan di tengah arena, menciptakan momen emosional yang sulit dilupakan. Tangis itu pun jatuh tanpa bisa dibendung.

Dominique mengaku terkejut saat rahasia tersebut akhirnya terbongkar.

“Saya sempat mimpi Dewi hamil,” kata Dominique. 

“Pas tahu ternyata benar, saya kaget. Saya langsung bilang, ‘tuh kan, benar hamil’.”

Tangisan kembali mewarnai arena, bukan hanya dari Dewi Laila, tetapi juga dari orang-orang terdekat yang selama ini ikut menjaga rahasia tersebut.

Di tribun, Fathur Gustafian, suami Dewi Laila yang juga atlet menembak, menyaksikan semuanya dengan emosi bercampur. Baginya, perjuangan ini bukan semata tentang medali.

“Kami sama-sama menguatkan, sama-sama percaya proses,” kata Fathur.

Keputusan melanjutkan kehamilan di tengah persiapan SEA Games 2025 bukan perkara mudah. Anak pertama mereka masih berusia dua tahun lebih. Rencana keluarga pun sempat dipikirkan ulang.

“Kami sempat berpikir menunda. Tapi dokter bilang, anak ini punya hak hidup, punya rezekinya sendiri,” ujar Fathur.

Sejak itu, keyakinan mereka menguat. Dewi Laila rutin mengonsumsi vitamin sesuai anjuran dokter, rajin kontrol, dan tetap berlatih dengan pengawasan ketat. Semua dijalani dengan kehati-hatian penuh.

“Allah sudah kasih takdir ke setiap makhluk-Nya. Kami hanya berusaha menjaga dan memberikan yang terbaik,” katanya.

Ketika dua emas akhirnya diraih, seluruh perjuangan itu menemukan maknanya. Dewi Laila menunduk, menyentuh perutnya perlahan.

“Walaupun belum bisa dengar, saya bilang terima kasih sudah bertahan, sudah berjuang sama-sama,” ucapnya lirih.

Bagi Dewi Laila, emas di Thailand juga menjadi peningkatan prestasi pribadi. Pada SEA Games 2021 Vietnam, ia meraih emas nomor 10 meter Air Rifle perseorangan dan perak beregu putri. Sementara di SEA Games 2023 Kamboja, cabang menembak tidak dipertandingkan.

“Dewi sangat ingin membuktikan dirinya masih bisa bersaing. Makanya dia sangat ingin tampil di SEA Games 2025,” kata Fathur.

Di arena tembak, Dewi Laila dikenal sebagai atlet dengan kontrol napas dan emosi yang matang. Di SEA Games 2025, ketenangan itu terbukti lahir bukan hanya dari latihan panjang, tetapi juga dari keyakinan bahwa prestasi dan kehidupan bisa berjalan beriringan, selama dijalani dengan jujur, disiplin, dan penuh tanggung jawab.

Dua emas itu pun menjadi lebih dari sekadar medali. Ia menjelma kisah tentang keberanian menyimpan rahasia, ketaatan pada aturan, dan keteguhan seorang ibu yang memilih tetap berdiri di garis tembak dengan amanah besar di dalam dirinya.

“Rezeki ‘si utun’,” kata Fathur sambil tersenyum, merujuk pada bayi yang masih dalam kandungan sang istri.

Perjalanan Dewi Laila dan Fathur belum berhenti. Di balik semua capaian ini, ada satu mimpi yang terus mereka rawat, tampil bersama di panggung olahraga tertinggi dunia.

“Mimpi Dewi bisa tampil bersama saya di Olimpiade, karena saya sebelumnya sudah tampil,” ujar Fathur.