ID EN

Penutupan Jalur Pendakian Semeru Diperpanjang, Wisata Bromo dan Ranu Regulo Tetap Buka

Jumat, 12 Desember 2025 | 16:30

Penulis: Arif S

Foto udara Ranu Kumbolo di Gunung Semeru, Jawa Timur.
Foto udara kawasan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru, Jawa Timur.
Sumber: Antara/Irfan Sumanjaya

Penutupan jalur pendakian Gunung Semeru diperpanjang. Keputusan ini diambil Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) untuk menjaga keselamatan para pendaki dari ancaman cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung sepanjang Desember 2025.

Peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi dasar utama kebijakan tersebut. 

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan penutupan pendakian Semeru berlaku tanpa batas waktu. 

"Mengenai potensi cuaca ekstrem sepanjang bulan Desember 2025, Balai Besar TNBTS memutuskan untuk memperpanjang penutupan Pendakian Gunung Semeru hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan," ujar Rudi.

Keputusan itu tertuang dalam Surat Pengumuman Nomor PG.21/T.8/TU/HMS.01.08/B/12/2025, yang dirilis Selasa 9 Desember 2025. 

Langkah ini untuk mengurangi risiko kegawatdaruratan seperti hujan deras, tanah longsor, dan angin kencang, enomena alam yang sering terjadi di lanskap vulkanik dan dapat berubah drastis hanya dalam hitungan menit. 

Bagi para pendaki yang telah membeli tiket melalui sistem pemesanan daring di laman resmi bromotenggersemeru.id, terdapat kelonggaran. 

Penjadwalan ulang dapat dilakukan untuk pemesanan dengan rentang 20 November - 18 Desember 2025. 

"Mekanismenya akan diumumkan setelah terdapat kepastian pembukaan kembali jalur pendakian," kata Rudi.

Sementara itu, aktivitas wisata lain di kawasan TNBTS tetap berdenyut. Kawasan Gunung Bromo dan Ranu Regulo masih dibuka untuk pengunjung.

Kebijakan ini memberikan alternatif bagi wisatawan yang ingin tetap merasakan atmosfer alam Tengger. Namun kewaspadaan tetap dijaga. 

Rudi mengingatkan wisatawan agar menjauhi area rawan bencana, terutama di sekitar Kawah Bromo, area yang menjadi titik pemantauan kegempaan dan aktivitas vulkanik.

Lebih lanjut, TNBTS menegaskan segala bentuk aktivitas pendakian ilegal akan ditindak sesuai hukum. 

Imbauan ini disampaikan untuk menjaga keselamatan dan memastikan ekosistem kawasan tetap terjaga. 

"Kepada masyarakat, pengunjung, pelaku jasa wisata, dan pihak-pihak terkait untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab," tuturnya.

Di tengah dinamika cuaca dan suara vulkanik yang terus bergerak, TNBTS berharap kebijakan ini memberikan ruang bagi lanskap Semeru untuk bernapas.

Para pendaki bisa kembali suatu hari nanti, ketika jalur pendakian telah dinyatakan benar-benar aman.***