Kontroversi Infantino Beri Penghargaan Perdamaian untuk Trump, Netralitas FIFA Dipertanyakan
Kamis, 11 Desember 2025 | 17:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Xinhua/Wu Xiaoling
Presiden FIFA Gianni Infantino kembali diterpa kontroversi besar. Organisasi hak asasi manusia FairSquare mengajukan laporan resmi yang menuduh Infantino melanggar kode etik FIFA.
Tuduhan itu muncul setelah Infantino memberikan penghargaan “FIFA Peace Prize” kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut FairSquare, tindakan tersebut masuk kategori pelanggaran terhadap prinsip netralitas politik FIFA, aturan dasar yang selama ini dijaga ketat badan sepak bola dunia itu.
BACA JUGA
Terima Penghargaan Perdamaian Perdana FIFA, Trump Sebut AS Negara Terpanas di Dunia
FIFA Komitmen Bangkitkan Kembali Sepak Bola Palestina di Gaza
Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Muncul di Eropa, Respons Rencana Trump Caplok Greenland
“Pemberian hadiah semacam ini kepada seorang pemimpin politik yang sedang menjabat merupakan pelanggaran jelas terhadap kewajiban netralitas FIFA,” tulis FairSquare dalam laporan resminya kepada Komite Etik FIFA seperti dikutip ESPN pada Rabu 10 Desember 2025.
Kontroversi Meletup di Panggung Drawing Piala Dunia 2026
Polemik bermula pada sebuah acara undian (drawing) Piala Dunia 2026. Di panggung utama, Infantino memberikan penghargaan perdamaian kepada Trump, sambil melontarkan pujian.
“Inilah yang kami harapkan dari seorang pemimpin. Anda pantas mendapatkan Penghargaan Perdamaian FIFA pertama atas tindakan Anda dan Anda selalu dapat mengandalkan dukungan saya, Bapak Presiden,” ucap Infantino saat menyerahkan penghargaan tersebut.
Infantino memuji Trump sebagai tokoh perdamaian dunia yang disebut berhasil memediasi konflik internasional, mulai Israel-Palestina hingga Thailand-Kamboja.
Pernyataan itu menimbulkan tanya besar mengenai batasan FIFA dalam menjaga posisi apolitisnya.
Komite Etik FIFA belum memberikan komentar resmi maupun konfirmasi apakah laporan telah diterima sepenuhnya.
Bukan Pertama Kali Infantino Menuai Kritikan
Kontroversi terbaru ini menambah daftar panjang kritik terhadap kedekatan Infantino dengan Trump. Bulan lalu, pria berkewarganegaraan Swiss-Italia itu bahkan secara terbuka meminta publik mendukung kebijakan Presiden AS terpilih tersebut.
“Saya bukan orang Amerika, tetapi Presiden Trump terpilih dengan jelas. Dalam demokrasi besar seperti Amerika Serikat, kita harus menghormati hasil pemilihan. Dia hanya melaksanakan apa yang dia janjikan. Jadi saya pikir kita semua harus mendukung apa yang dia lakukan karena terlihat cukup baik,” kata Infantino saat itu.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa hubungan personal Infantino dan Trump kian memengaruhi gestur politik FIFA, terutama menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dengan AS sebagai tuan rumah utama.
Netralitas FIFA Kembali Dipertanyakan
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerhati sepak bola internasional.
Dalam momen ketika FIFA seharusnya menjaga jarak dari manuver politik, langkah Infantino justru dianggap memberi ruang bagi pengaruh politik dalam ranah sepak bola global.
Kritik terhadap Infantino tampaknya belum akan berhenti. Dengan laporan FairSquare yang masih menunggu tindak lanjut dari Komite Etik, sorotan dunia kini tertuju pada bagaimana FIFA akan menanggapi salah satu potensi pelanggaran etika paling sensitif dalam sejarah kepemimpinan Infantino.***










