ID EN

Women’s China Open dari Awal Sederhana Hingga Melahirkan Generasi Juara

Senin, 6 Oktober 2025 | 11:26

Penulis: Respaty Gilang

Pegolf wanita
Ilustrasi pegolf wanita.
Sumber: Pixabay

Ketika Women’s China Open pertama kali digelar pada tahun 2006, suasananya mungkin terlihat sederhana, tapi momen itu sejatinya sangat bersejarah. Pada masa itu, golf putri di Tiongkok masih berada pada tahap awal untuk menapaki panggung dunia. Sirkuit domestik belum besar, jumlah talenta masih terbatas, dan jalan menuju tur elite seperti LPGA Tour terasa jauh bahkan menantang.

Namun, ayunan perdana di Xiamen menjadi titik balik penting. Dari sanalah dimulai sebuah era baru di mana pegolf-pegolf putri berbakat dari negeri Tirai Bambu mulai menemukan pijakan, sebelum akhirnya merambah dunia untuk menantang yang terbaik dan menorehkan sejarah.

Hampir dua puluh tahun setelah turnamen perdana, perubahan besar telah terjadi. Mulai dari kemenangan bersejarah Feng Shanshan di turnamen mayor pada 2012, hingga kiprah konsisten pegolf seperti Janet Lin Xiyu, Yin Ruoning, dan Miranda Wang di LPGA Tour. Belum lagi momen penting di Olimpiade Rio de Janeiro dan Paris, di mana Feng dan Lin berhasil membawa pulang medali perunggu.

Pertumbuhan golf putri Tiongkok ini bahkan menginspirasi para pegolf dari Asia Tenggara. Dua pegolf Indonesia, Holly Victoria Halim dan Patricia Sinolungan, kini menjadikan CLPG Tour sebagai batu loncatan menuju panggung dunia. Holly, yang baru berusia 19 tahun, bahkan sukses menjadi juara CLPG Tour Qualifying School pada Januari lalu. Di balik semua pencapaian tersebut, Women’s China Open tetap menjadi turnamen ikonik yang berperan sebagai motor kebangkitan golf putri Tiongkok.

Jejak Pencapaian Janet Lin Xiyu

Bagi Janet Lin Xiyu, yang saat ini tengah rehat sementara dari LPGA Tour menyambut kelahiran anak pertamanya, Women’s China Open adalah momen berharga. Pada 2019, ia mencetak sejarah sebagai pegolf Tiongkok pertama yang mengangkat trofi turnamen ini. Pencapaian tersebut ia sandingkan dengan raihan medali Olimpiade di Paris, yang sama-sama menjadi kebanggaan sepanjang kariernya.

Lin, yang kini berusia 29 tahun dengan koleksi tujuh kemenangan di CLPG Tour, mengakui bahwa turnamen ini selalu memotivasinya untuk terus berjuang. 

“Sejak awal karier, Women’s China Open selalu menjadi turnamen penting di kalender saya. Ia memberi panggung bagi pegolf lokal untuk menantang diri sendiri dan meningkatkan standar permainan,” kenangnya.

Generasi Baru, Ambisi Baru

Semangat itu kini diteruskan oleh generasi muda seperti Yin Ruoning, 23 tahun, yang sudah meraih gelar mayor dan pernah menduduki peringkat satu dunia. Ia masih mengingat jelas pengalamannya pada 2018 saat finis di posisi keempat Women’s China Open.

“Bertanding di turnamen ini selalu punya rasa berbeda, ada motivasi ekstra sekaligus tekanan untuk tampil maksimal,” ujar Yin, yang kini berada di peringkat tujuh dunia dengan lima kemenangan LPGA. 

“Sebagai pegolf junior waktu itu, saya sadar arti turnamen ini untuk kami semua. Sekarang, pengalaman itu terasa sangat berarti bagi perjalanan karier saya.”

Shanghai Jadi Babak Baru

Tahun ini, Women’s China Open menorehkan sejarah baru dengan debut perdananya di Shanghai, tepatnya di Enhance Anting Golf Club, pada 17–19 Oktober. Dengan promotor Sportfive, turnamen ini akan menjadi sorotan karena menghadirkan generasi baru bintang muda.

Nama-nama seperti Wang Zixuan (18), Xu Ying (16), dan Zhou Shiyuan (15), yang sudah menorehkan kemenangan di CLPG Tour musim ini, diprediksi akan mencuri perhatian.

CLPG Tour sendiri juga memberi kesempatan besar bagi pegolf Asia Tenggara. Sejumlah nama seperti Sherman Santiwiwatthanaphong, Onkanok Soisuwan, dan Kan Bunnabodee dari Thailand, Jocelyn Chee dan Ng Jing Xuen dari Malaysia, serta Amanda Tan dari Singapura, telah merasakan manfaat besar dari persaingan di level ini. Bahkan, naiknya Jeeno Thitikul dari Thailand ke peringkat satu dunia menjadi bukti nyata bahwa golf putri Asia Pasifik tengah berada dalam era kebangkitan.

Semua pencapaian ini menjadi bukti bahwa Women’s China Open bukan sekadar turnamen, melainkan titik awal lahirnya kejayaan golf putri di Tiongkok dan kawasan Asia. Dari sebuah permulaan sederhana, kini ia berkembang menjadi panggung besar yang melahirkan bintang-bintang dunia baru. (dailynorthwestern)