ID EN

Raja Ampat Dipromosikan Sebagai Surga Selam Kelas Dunia untuk Wisatawan Australia

Kamis, 4 Desember 2025 | 13:58

Penulis: Arif S

Raja Ampat
Raja Ampat di Papua Barat.
Sumber: Kemenpar

Di ujung barat Papua, gugusan pulau karst yang seolah muncul dari permukaan laut biru kehijauan kembali menjadi pusat perhatian dunia. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mempromosikan Raja Ampat sebagai destinasi premium bagi wisatawan Australia, pasar yang dikenal kritis, berpengalaman, dan selalu memburu titik selam terbaik planet ini.

“Mengingat Raja Ampat adalah destinasi premium, aspek keberlanjutan harus menjadi prioritas utama untuk menjaga kualitas dan kelestarian alam bawah lautnya,” ujar Deputi Bidang Pemasaran Ni Made Ayu Marthini di Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025.

Sebagai jantung konservasi laut Indonesia, Raja Ampat bukan sekadar tempat menyelam tetapi juga ribuan spesies yang tak ditemukan di tempat lain.

Menyelam di Jantung Megabiodiversitas Dunia

Promosi dilakukan melalui program Familiarization Trip (famtrip) bertema “Beyond the Barrier: Raja Ampat Awaits!” yang diselenggarakan bersama Katembe Indonesia. 

Kegiatan berlangsung 26 November - 2 Desember 2025, membawa peserta menyusuri dunia bawah laut Raja Ampat sembari memahami budaya lokal yang menjadi fondasi kehidupan kepulauan ini.

Made menjelaskan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kepedulian sekaligus memperluas eksposur Raja Ampat dan destinasi bahari Indonesia lainnya di pasar Australia. 

Famtrip dirancang untuk mempertegas citra Indonesia sebagai destinasi utama wisata bahari, terutama bagi penyelam profesional dan komunitas bawah laut global.

Empat perwakilan industri wisata selam dan seorang underwater photojournalist berpengaruh asal Australia menjadi peserta famtrip ini. 

Kehadiran mereka menunjukkan potensi besar pasar Australia, sebuah negara yang warganya tumbuh dekat dengan laut dan sangat selektif terhadap kualitas spot selam.

Lintasan Selam Terbaik dari Blue Magic hingga Melissa’s Garden

Para peserta diajak menjelajahi titik-titik legendaris Raja Ampat. Mioskon dengan ikan-ikan berkelompok. Friwen Wall yang penuh kipas laut raksasa. Batu Lima dengan formasi karangnya yang rumit, hingga Blue Magic dengan arus kuat dan kehadiran oceanic manta. 

Perjalanan berlanjut ke Sawandarek, Arborek, Manta Sandy, Melissa’s Garden, dan Piaynemo.

Pengalaman budaya turut memperkaya perjalanan mereka. Di Desa Wisata Arborek, peserta bertemu suku “Viking Papua”, mempelajari tradisi yang tumbuh berdampingan dengan laut. 

Dari puncak karst Piaynemo, mereka melihat panorama pulau-pulau kecil tersebar di laut sebening kristal.

Seluruh kegiatan didukung Katembe Indonesia dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. Peserta bermalam di Katembe Private Island, oase tenang yang memungkinkan mereka mengamati keheningan malam Raja Ampat.

Membangun Jejaring Wisata Bahari Indonesia

Famtrip ditutup dengan sesi business networking di Le Meridien Jakarta bersama stakeholders wisata bahari Indonesia. 

Pertemuan tersebut dipimpin Asdep Pemasaran Pariwisata Mancanegara II, Yulia, dan dihadiri perwakilan Katembe Indonesia, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, serta asosiasi seperti PADI, ASITA, IINTOA, dan JANGKAR.

Made menegaskan kegiatan ini menjadi momentum kuat untuk memantapkan Indonesia sebagai destinasi selam kelas dunia sekaligus mendukung target 1,8 juta wisatawan Australia, khususnya dari segmen pecinta laut dan penyelam.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 49 persen atau sekitar 820 ribu wisatawan Australia datang ke Indonesia pada 2024 untuk menikmati keindahan bahari. 

Angka ini mempertegas posisi Indonesia dan Raja Ampat khususnya—sebagai magnet bawah laut bagi pasar Australia.(Antara)