ID EN

Gagal ke Piala Dunia 2026, Sanksi UEFA ke Israel Masih Diproses

Kamis, 4 Desember 2025 | 10:19

Penulis: Arif S

Stadion Sepakbola
Ilustrasi - Sanksi UEFA untuk Israel masih digodok.
Sumber: Pixabay

Proses pemberian hukuman UEFA kepada Israel belum selesai dan masih berjalan, bahkan setelah sempat tertunda akibat campur tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut laporan terkini, badan sepakbola Eropa masih menelaah kemungkinan sanksi, di tengah situasi politik dan sportivitas yang terus berubah.

Tekanan kepada FIFA dan UEFA agar menjatuhkan hukuman kepada Israel meningkat sejak September. Banyak pihak mendesak agar Israel dilarang tampil di Piala Dunia 2026. Namun desakan itu menurun pada awal Oktober 2025 seiring munculnya rencana perdamaian yang digagas Trump.

Situasi bergeser setelah Israel dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Norwegia, negara yang paling vokal menentang Israel, justru lolos otomatis. Italia yang memiliki sikap serupa harus berjuang lewat playoff. Kini situasinya berbeda lantaran Israel gagal ke Piala Dunia 2026.

Desakan Makin Besar agar UEFA Bersikap Adil

Meski perjalanan Kualifikasi Piala Dunia 2026 bagi Israel sudah berakhir, tekanan terhadap UEFA tidak ikut mereda. 

Sportbible melaporkan banyak pihak ingin UEFA memperlakukan Israel sebagaimana mereka memberi hukuman kepada Rusia usai invasi ke Ukraina.

Salah satu akar desakan tersebut adalah keberlanjutan serangan ke Gaza meski ada gencatan senjata. Dua bulan setelah campur tangan Trump, UEFA disebut tetap menyusun rencana hukuman untuk Israel.

UEFA Bertemu Kampanye Pro-Palestina

Tribuna menyebut setelah proposal perdamaian Trump, para pejabat UEFA mengadakan pertemuan dengan penyelenggara kampanye pro-Palestina pada pertengahan Oktober.

The Athletic melaporkan rapat antara UEFA dan kelompok “Game Over Israel” membahas kemungkinan larangan Israel mengikuti kompetisi internasional. Diskusi tersebut tetap berjalan meski gencatan senjata telah diumumkan.

UEFA Dinilai Hati-hati Mengambil Langkah

Meski tekanan meningkat, laporan menyebut sanksi paling ekstrem seperti pencabutan keanggotaan Israel dari UEFA sangat kecil kemungkinannya terjadi. Pasalnya, langkah itu dapat memicu kontroversi internasional yang jauh lebih besar.

UEFA saat ini disebut sedang mencermati dua gugatan hukum dari Irlandia dan Swiss, yang berupaya memaksa organisasi itu memberi hukuman berdasarkan hukum internasional.

Dengan tekanan politik, hukum, dan opini publik, UEFA berada di tengah badai geopolitik yang jarang dialami dalam dunia sepakbola. 

Proses pemberian hukuman terhadap Israel masih berjalan, dan semua pihak kini menunggu bagaimana UEFA menyeimbangkan aspek hukum, sportivitas, dan diplomasi dalam keputusan yang bisa menjadi preseden baru sepakbola dunia.***