ID EN

Indonesia Pimpin Tren Pariwisata Hijau di Asia Tenggara

Rabu, 1 Oktober 2025 | 12:17

Penulis: Respaty Gilang

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.
Sumber: Kemenpar

Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai pemain utama dalam mendorong pariwisata berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam forum ASEAN Tourism Minister (ATM) Retreat yang digelar di Melaka, Malaysia, Senin, 29 September 2025.

"Forum ini menjadi momentum memperkuat kerja sama ASEAN di sektor pariwisata, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti perlambatan ekonomi, perubahan iklim, dan pergeseran preferensi wisatawan," kata Ni Luh di Jakarta, Rabu, 1 Oktober 2025.

Dari Kuantitas ke Kualitas

Menurut Ni Luh, arah pembangunan pariwisata Indonesia kini tidak lagi sekadar mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga menekankan pada kualitas pengalaman, keberlanjutan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Strategi ini sejalan dengan penerapan prinsip Blue, Green, Circular Economy (BGCE) yang telah ditetapkan sebagai pilar utama pembangunan pariwisata nasional.

Prinsip tersebut sudah diintegrasikan dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029, di mana pariwisata berkelanjutan menjadi prioritas. Artinya, setiap pertumbuhan sektor ini harus berjalan selaras dengan konservasi alam, pelestarian budaya, serta mitigasi risiko iklim.

Komitmen Global dan Aksi Nyata

Keseriusan Indonesia terlihat dari berbagai langkah strategis. Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Sidang Umum PBB menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap Perjanjian Paris. Bahkan, Indonesia termasuk salah satu negara pertama yang mendukung Deklarasi Glasgow tentang Aksi Iklim dalam Pariwisata, dengan target mengurangi emisi hingga 50 persen pada 2030 dan mencapai net zero emission sebelum 2050.

Di tingkat sektoral, Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan UNDP untuk menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Pariwisata Indonesia. Sementara di level masyarakat, program desa wisata menjadi wujud nyata pemberdayaan lokal. Hingga kini, sudah ada 40 desa wisata yang tersertifikasi dengan standar ramah lingkungan, dan jumlah ini diproyeksikan terus bertambah.

"Indonesia menegaskan komitmen pada pariwisata berkelanjutan, inklusif, dan tangguh, dengan fokus pada adaptasi iklim, dan pemberdayaan masyarakat lokal sejalan dengan agenda ASEAN," ujarnya.

ASEAN sebagai Destinasi Tunggal Dunia

Lebih jauh, Indonesia juga mendorong peningkatan konektivitas intra-ASEAN melalui penguatan infrastruktur, digitalisasi layanan, dan promosi bersama. Dengan strategi ini, ASEAN diharapkan semakin diakui sebagai destinasi tunggal** yang menawarkan pengalaman wisata kelas dunia.

Pendekatan Indonesia menitikberatkan pada penyederhanaan regulasi, pembangunan infrastruktur yang lebih terintegrasi, serta mobilitas yang lancar antar-negara anggota.

“Indonesia siap berkolaborasi dengan negara ASEAN maupun mitra dialog agar pariwisata kawasan semakin berdaya saing, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Indonesia percaya kolaborasi adalah kunci,” tegasnya.

Menjadi Pemimpin Tren Wisata Hijau

Dengan strategi berlapis mulai dari level global, nasional, sektoral, hingga lokal Indonesia semakin mantap memosisikan diri sebagai motor penggerak pariwisata hijau di kawasan. Langkah ini bukan hanya menjaga daya tarik wisata, tetapi juga mengangkat citra Indonesia sebagai negara yang serius menjaga keseimbangan antara bisnis, budaya, dan keberlanjutan. (Antara)