ID EN

Roger Federer Selangkah Lagi Abadi di Hall of Fame

Jumat, 3 Oktober 2025 | 11:00

Penulis: Arif S

 Petenis Roger Federer
Petenis Roger Federer.
Sumber: Pixabay

Di dunia olahraga, ada nama-nama yang hanya sekadar tercatat di buku rekor. Namun ada pula sosok yang melampaui angka, melampaui trofi, dan menjelma menjadi bagian dari ingatan kolektif manusia. Roger Federer adalah salah satunya.

Kini, sang maestro asal Swiss itu berdiri di ambang pengakuan terakhir dalam karier tenisnya. Ia masuk nominasi International Tennis Hall of Fame angkatan 2026. 

Bagi banyak orang, berita ini bukan sekadar kabar penghargaan. Ini adalah momen yang meneguhkan kembali betapa Federer bukan hanya petenis, melainkan legenda yang mengubah wajah olahraga ini.

Federer bukan sekadar pemilik 20 gelar Grand Slam tunggal, atau rekor 310 pekan sebagai nomor satu dunia. 

Ia adalah sosok yang membuat orang jatuh cinta pada keindahan tenis, ayunan raketnya yang halus, langkah kakinya yang ringan, ekspresinya yang selalu tenang bahkan di titik kritis pertandingan. 

Seakan-akan ia sedang menari, bukan bertarung. Dari Wimbledon 2003, ketika ia meraih gelar major pertamanya di usia 21 tahun, hingga perpisahan emosionalnya di Laver Cup, Federer menghadirkan perjalanan yang terasa seperti dongeng.

Lebih dari gelar dan medali, Federer dikenal karena jiwa sportivitasnya. 

Ia 13 kali terpilih menerima penghargaan Stefan Edberg Sportsmanship Award, dan selama 19 tahun berturut-turut menjadi “favorit penggemar” ATP, sebuah rekor yang menunjukkan betapa cintanya penonton terhadap pria Basel ini. 

Ia mengibarkan bendera Swiss dengan bangga, memimpin negaranya meraih Piala Davis 2014, hingga berbagi medali emas Olimpiade di Beijing bersama sahabatnya, Stan Wawrinka.

Di antara nama-nama besar lain yang turut dinominasikan tahun ini adalah Juan Martin del Potro, sang “Menara dari Tandil” yang dengan keberanian mudanya menaklukkan Federer di US Open 2009, dan Svetlana Kuznetsova, juara empat kali turnamen major yang bertahan dengan konsistensi luar biasa.

Namun Federer tetap memiliki tempat khusus. Sebab bagi banyak orang, ia bukan hanya juara, tapi juga teladan.

Voting penggemar kini dibuka hingga 10 Oktober, memberi kesempatan bagi publik untuk ikut menentukan siapa yang layak abadi dalam Hall of Fame. 

Namun, sejujurnya, bagi dunia, Federer sudah lama ada di sana, di ruang abadi yang lebih besar dari sekadar dinding museum, di hati mereka yang pernah menonton satu pukulan backhand-nya, atau menangis ketika ia menitikkan air mata perpisahan.

Roger Federer mungkin telah berhenti bertanding. Tapi kisahnya, keanggunannya, dan inspirasinya akan terus hidup—sepanjang raket dan bola tenis masih bertemu di lapangan.(Antara)