Lima Ronde Dibabat Habis: Makhachev Kunci Sabuk Welter UFC
Minggu, 16 November 2025 | 23:17
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Tangkap layar YouTube UFC
Di dunia MMA, hanya sedikit petarung yang mampu mempertahankan level konsistensi, disiplin, dan kegigihan seperti Islam Makhachev. Dan pada malam bersejarah di Madison Square Garden, New York, Minggu, 16 November 2025, petarung asal Dagestan itu menegaskan satu hal, dia belum selesai. Bahkan, dia baru memulai babak baru dalam kariernya.
UFC 322 bukan sekadar laga perebutan sabuk welterweight ini adalah panggung pembuktian bagi Makhachev. Setelah bersinar di kelas ringan, banyak yang bertanya apakah gaya bertarung khas Dagestan bakal tetap mematikan di kategori yang lebih besar. Jawabannya? Lima ronde penuh dominasi.
Awal Laga yang Panas, tetapi Makhachev Tetap Tenang
BACA JUGA
Duel JDM Vs Islam Makhachev, Tinju Lawan Grappling Siapa Unggul?
Ilia Topuria Mundur Sementara dari Octagon, Demi Fokus Urusan Keluarga
Bukan Makhachev Vs Topuria, Ini Susunan UFC White House Versi Arman Tsarukyan
Jack Della Maddalena datang membawa reputasi sebagai salah satu striker paling eksplosif di divisi welter. Di awal ronde pertama, agresivitasnya langsung terlihat. Ia mencoba menekan Makhachev dengan kombinasi tangan kiri-kanan yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Namun, Makhachev tidak terjebak dalam permainan Maddalena. Alih-alih berdiri terlalu lama, ia menjaga jarak, membaca timing, dan menunggu momen yang tepat. Momen itu datang cepat ketika ia menangkap satu kaki Maddalena dan menjatuhkannya ke kanvas, sebuah transisi khas Dagestan wrestling yang langsung mengubah atmosfer laga.
Begitu berada di atas, duel sepenuhnya menjadi milik Makhachev. Maddalena dipaksa bertahan di bawah tekanan teknik grappling yang nyaris mustahil dibalikkan. Upaya arm triangle sempat dibangun, tetapi Maddalena masih mampu bertahan sampai bel berbunyi.
Grappling Clinic dari Ronde ke Ronde
Ronde kedua membuka cerita baru, Makhachev justru tampil lebih agresif dalam permainan striking. Ia mendaratkan kombinasi yang memaksa Maddalena mundur sebelum membawa duel ke clinch di pagar oktagon.
Maddalena sempat menjegal kaki Makhachev dan membuatnya jatuh lebih dulu, tetapi seperti deja vu, situasi langsung berbalik karena Makhachev lebih cepat memulihkan posisi.
Ground and pound kembali menjadi senjata utama. Tekanan konstan selama hampir seluruh ronde kedua membuat Maddalena baru bisa berdiri ketika hitungan tinggal 10 detik. Proporsi waktu di kanvas membuat dampaknya jelas, stamina Maddalena mulai terkuras.
Memasuki ronde ketiga, pertarungan berdiri kembali memanas. Maddalena mulai lebih berani menukar pukulan jarak dekat, tetapi kesalahan kecil kembali dimanfaatkan Makhachev dengan menangkap kaki lawan dan menjatuhkannya. Dominasi grappling lagi-lagi mengambil alih.
Ronde empat memperlihatkan variasi lain dari Makhachev, low kick bertubi-tubi, tekanan konstan, dan kontrol penuh. Ia bahkan sempat mendapatkan posisi untuk mengunci rear-naked choke meski gagal menyelesaikannya.
Maddalena Butuh Keajaiban, tetapi Makhachev Terlalu Solid
Memasuki ronde kelima, Maddalena tahu satu-satunya cara mempertahankan sabuk adalah finish. Ia membuka ronde dengan ayunan tangan kanan yang keras, pukulan desperado yang sebelumnya berhasil ia gunakan melawan beberapa petarung top.
Tetapi Makhachev sudah membaca semua itu. Ia kembali menjatuhkan Maddalena dengan mudah, menjaga kontrol, dan menghabiskan sisa ronde dengan stabilitas yang membuat juri tak punya ruang ragu.
Akhirnya, tiga juri kompak memberikan skor 50-45 untuk Islam Makhachev. Tidak ada ronde yang meragukan. Tidak ada momen krusial yang membuat laga terasa imbang. Lima ronde itu milik Makhachev sepenuhnya.
Kemenangan Kedua di Kelas Berbeda
Dengan kemenangan dominan ini, Islam Makhachev resmi mengamankan gelar keduanya di UFC, setelah sebelumnya menjadi raja kelas ringan. Tidak banyak petarung yang mampu menjuarai dua divisi berbeda, dan Makhachev kini masuk ke daftar elite itu.
Lebih penting lagi, ia membuktikan bahwa teknik grappling Dagestan bukan hanya efektif di kelas ringan, tetapi juga mampu menaklukkan salah satu welterweight tertangguh era ini.
Setelah pertarungan, reaksi para analis MMA pun cenderung seragam, dominasi Makhachev ini bukan sekadar kemenangan, melainkan sebuah pernyataan untuk sisa divisi welter.
Dengan kemampuan adaptasi, disiplin latihan, dan kecerdasan dalam membaca duel, Islam Makhachev terlihat seperti ancaman yang tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Satu hal yang pasti, era baru sang juara baru saja dimulai.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!