ID EN

Gratis Liburan Tambah Pengetahuan, Menjelajah Lima Museum di Surabaya

Rabu, 12 November 2025 | 11:17

Penulis: Arif S

Rumah HOS Tjokroaminoto
Rumah HOS Tjokroaminoto.
Sumber: Wikimedia

Surabaya bukan cuma soal gedung pencakar langit, jalanan padat, dan aroma rawon yang menggoda. Di balik hiruk-pikuk kota metropolitan terbesar di Jawa Timur ini, tersimpan banyak ruang yang menawarkan ketenangan, pengetahuan, dan nostalgia yang bisa dinikmati tanpa tiket masuk sepeser pun.

Liburan murah bukan berarti murahan. Lima museum di tengah Kota Surabaya mengajak pengunjung menelusuri kisah masa lalu, mengenal tokoh besar, hingga merasakan atmosfer perjuangan.

1. Museum Surabaya Siola: Menapak Jejak Kota Pahlawan

Di ujung legendaris Jalan Tunjungan, berdiri bangunan tua bersejarah bernama Gedung Siola. Gedung yang dibangun pengusaha asal Inggris, Robert Lidlaw pada tahun 1877 ini, merupakan salah satu saksi bisu perjalanan panjang Surabaya. Dulunya gedung ini bernama Whiteaway Laidlaw.   

Kini, bagian dalam Gedung disulap menjadi Museum Surabaya Siola, rumah bagi sekitar 1.000 koleksi benda dan foto yang merekam perjalanan kota. Mulai dari dokumentasi wali kota sejak 1916, baju adat, wayang, replika dapur kuno, dokumen berbahasa Belanda, hingga arsip kependudukan era Hindia Belanda.

Tak hanya itu, ada replika biola WR Supratman, uang kuno, televisi tabung, radio lawas, hingga becak dan bemo yang dulu menjadi alat transportasi warga Surabaya.

Lokasi: Jl. Tunjungan No.1, Genteng, Surabaya
Buka: Selasa-Minggu, 08.00–15.00 WIB

2. Museum Bawah Tanah Surabaya: Seni, Teknologi, dan Ruang Publik yang Estetik

Bayangkan berjalan di bawah tanah, tapi bukan di stasiun atau parkiran melainkan di sebuah galeri seni modern. Itulah pengalaman unik yang ditawarkan Museum Bawah Tanah Surabaya di Jalan Gubernur Suryo No. 15.

Tempat ini membentang hingga 1,46 hektare, mencakup area Balai Pemuda, bawah tanah Jalan Yos Sudarso, hingga lahan Persil Pemuda 17.

Di sini, pengunjung bisa menikmati pameran seni, instalasi kreatif, dan ruang publik estetik yang cocok untuk bersantai, berfoto, atau sekadar merenung sejenak dari riuh kota. Gratis, adem, dan instagramable.

3. Museum HOS Tjokroaminoto: Dari Rumah Guru Bangsa

Di Jalan Peneleh Gang VII, berdiri rumah bersejarah milik HOS Tjokroaminoto. Di rumah ini, sejumlah nama besar seperti Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo pernah tinggal, berdiskusi, dan menyalakan api pergerakan nasional.

Kini, rumah tersebut menjadi museum sederhana namun penuh makna. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat barang pribadi HOS Tjokroaminoto, arsip Sarekat Islam, dan dokumentasi perjuangan tokoh yang dijuluki “Guru Para Pemimpin Besar.”

4. Museum Rumah Kelahiran Bung Karno: Jejak Sang Proklamator

Masih di pusat kota, tepatnya di Jalan Pandean IV No. 40, berdiri Museum Rumah Kelahiran Bung Karno, tempat Presiden pertama Republik Indonesia itu lahir dan menghabiskan masa kecilnya.

Museum ini memiliki tiga ruangan utama, Ruang Soekeni, Ruang Koesno, dan Ruang Srimben, masing-masing menampilkan potongan kisah hidup Bung Karno lewat foto, video, dan teknologi augmented reality.

Pengunjung bisa “berinteraksi” dengan perjalanan hidup sang Proklamator.

5. Museum Pendidikan Surabaya: Belajar dari Masa ke Masa

Jika ingin Ingin melihat wajah pendidikan Indonesia tempo dulu, Museum Pendidikan Surabaya bisa menjadi pilihan. Lokasinya di Jalan Genteng Kali No.10, yang dulunya merupakan gedung Sekolah Taman Siswa.

Museum ini menyajikan koleksi tentang perkembangan pendidikan sejak masa Pra-Aksara hingga Kemerdekaan.

Dari papan tulis kayu, buku pelajaran jadul, hingga replika ruang kelas kolonial, semuanya membuat pengunjung seolah kembali ke masa lalu.

Cocok untuk pelajar, peneliti, maupun siapa saja yang ingin belajar dengan cara menyenangkan.

Menjelajah Tanpa Bayar Tapi Penuh Makna

Berjalan dari satu museum ke museum lain di Surabaya bisa menjadi petualangan kecil yang menyenangkan.

Selain mudah dijangkau dengan kendaraan umum, beberapa lokasi bahkan bisa diakses **hanya dengan berjalan kaki.

Menjelajahi wisata gratis di Surabaya bukan sekadar hemat, tapi juga menjadi cara terbaik mengenal jiwa kota ini dari dekat, dari masa perjuangan, kebudayaan, hingga semangat modern yang terus hidup.***