Jejak Enrique Corcuera: Bagaimana Padel Lahir dari Sebuah Eksperimen di Pesisir Meksiko
Minggu, 9 November 2025 | 15:21
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Freepik
Ada sesuatu yang unik dari lapangan berdinding kaca yang kini mulai muncul di kota-kota besar dunia termasuk di Indonesia. Di dalamnya, terdengar tawa, sorak, dan dentuman bola kecil yang memantul cepat dari tembok ke raket. Inilah padel, olahraga raket yang sedang jadi fenomena global, memadukan energi, keseruan, dan gaya hidup aktif dalam satu paket yang menawan.
Sejarah padel dimulai bukan dari stadion megah atau laboratorium olahraga, melainkan dari sebuah villa liburan di pesisir Acapulco, Meksiko. Di tahun 1969, seorang pengusaha bernama Enrique Corcuera membangun lapangan kecil di halaman rumahnya, dikelilingi dinding tembok dan pagar logam setinggi empat meter semata agar bola tak terbang ke tanah milik tetangga. Dari ide sederhana itu lahirlah permainan yang ia sebut “Paddle Corcuera.”
Namun, akarnya ternyata jauh lebih dalam. Di abad ke-19, penumpang kapal Inggris sudah memainkan permainan serupa di geladak kapal, sementara di Amerika, olahraga bernama platform tennis sempat populer pada 1910-an. Evolusi demi evolusi membawa permainan ini menuju bentuk yang kita kenal sekarang, padel, olahraga yang menggabungkan teknik tenis, kecepatan squash, dan keseruan bermain bersama.
BACA JUGA
Selain Raket, Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Bermain Padel?
Alessandro Nesta Hingga Ariel Noah Akan Meriahkan Ajang RANS Padel Wars 2025
Sportainment Level Baru, Serunya Duel Artis dan Atlet di Turnamen TOSI 2025
Marbella dan Mimpi Seorang Visioner
Awal 1970-an, seorang bangsawan sekaligus pengusaha asal Spanyol, Alfonso de Hohenlohe, berkunjung ke Meksiko dan jatuh cinta pada permainan itu. Ia lalu membawa padel ke Costa del Sol, membangun dua lapangan pertama di Marbella Club, sebuah resor legendaris tempat berkumpulnya para jetset Eropa.
Tak butuh waktu lama sebelum para sosialita dan atlet terkenal, seperti petenis legendaris Manolo Santana, ikut terpikat. Turnamen demi turnamen mulai digelar di sepanjang pesisir selatan Spanyol, dan tak lama kemudian, padel menyeberang ke Argentina, berkat pengusaha kaya Julio Menditenguia yang melihat potensi besarnya. Kini, Argentina memiliki lebih dari 10.000 lapangan dan dua juta pemain terdaftar, menjadikan padel bagian dari identitas olahraga nasional.
Dari Latin ke Eropa dan Dunia
Popularitas padel di Spanyol pun meledak. Negara itu kini memiliki lebih dari 20.000 lapangan dan sekitar enam juta pemain aktif. Di Spanyol, padel menempati posisi kedua olahraga paling populer setelah sepak bola pencapaian luar biasa untuk olahraga yang baru berusia beberapa dekade.
Pada tahun 1991, lahirlah Federasi Padel Internasional (International Paddle Federation), yang kemudian menggelar Kejuaraan Dunia pertama di Madrid dan Sevilla pada 1992. Setahun kemudian, pemerintah Spanyol secara resmi mengakui padel sebagai cabang olahraga, dan sejak itu ejaannya disesuaikan menjadi “padel” agar lebih mudah diucapkan dalam bahasa Spanyol.
Momentum besar terjadi di 2005 ketika dunia menyambut tur profesional pertama, Padel Pro Tour, yang berkembang menjadi World Padel Tour pada 2013, sirkuit global yang kini membawa para pemain top ke panggung dunia, dari Dubai hingga Buenos Aires.
Inggris dan Gelombang Baru Eropa
Inggris baru mengenal padel di awal 1990-an, ketika sekelompok ekspatriat membentuk British Paddle Association untuk ikut Kejuaraan Dunia. Dua dekade kemudian, olahraga ini mulai bangkit dengan dukungan resmi dari Lawn Tennis Association (LTA).
Sejak LTA menjadi badan pengatur resmi pada 2020, pertumbuhan padel di Inggris luar biasa pesat dari hanya 51 lapangan menjadi 760 dalam waktu empat tahun. Jumlah pemain juga melesat dari 65 ribu menjadi lebih dari 230 ribu pada akhir 2024 dan terus bertambah.
Kini, di banyak kota Eropa, padel bukan sekadar olahraga, tapi bagian dari gaya hidup. Ia hadir di hotel resor mewah, kompleks apartemen eksklusif, hingga destinasi wisata tepi pantai.
Padel bukan sekadar soal menang atau kalah, olahraga ini menciptakan interaksi sosial, kebugaran, dan kebahagiaan sederhana yang muncul saat bola memantul di antara dinding kaca dan suara tawa teman-teman menggema di udara sore.
Tidak perlu menjadi atlet profesional untuk menikmatinya. Cukup datang, genggam raket, dan rasakan sendiri energi khas olahraga yang kini disebut sebagai the fastest-growing sport in the world. (ltapadel.org.uk)










