Sejarah Riyadh yang Kini Menjadi Tuan Rumah ISG 2025
Sabtu, 8 November 2025 | 20:12
Penulis: Pudila

Sumber: Wikimedia
Di tengah gurun Arabia yang kering dan berangin, berdiri sebuah kota yang dulu hanyalah oasis kecil bernama Hajr al-Yamamah.
Dari oase itulah, sejarah panjang Riyadh bermula. Sebuah kota yang kini menjelma menjadi jantung Arab Saudi, dan tahun ini menjadi tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG) 2025).
Nama Riyadh sendiri berarti taman-taman dalam bahasa Arab yang menggambarkan kesuburan wilayah ini di masa lampau. Di tengah padang tandus Najd, tempat ini dulu menjadi persinggahan penting bagi para kafilah yang melintasi jazirah. Dari titik hijau itulah, peradaban perlahan tumbuh, mengalirkan kehidupan dan pertemuan antarbudaya.
BACA JUGA
Jadwal Resmi Piala Asia 2027 Resmi Diumumkan AFC
Potensi Long-Stay Turis Arab Saudi Target Pariwisata Indonesia
Pencak Silat Unjuk Gigi di ISG Riyadh 2025: Dari Warisan Nusantara ke Panggung Dunia
Pada abad ke-15, Riyadh menjadi bagian dari wilayah yang dikuasai oleh Bani Hanifa, suku besar yang membangun pusat kekuasaan lokal di sana.
Namun, masa keemasan sejati baru tiba pada abad ke-18 ketika Imam Muhammad bin Saud menjadikan daerah sekitar Riyadh—yakni Diriyah—sebagai pusat berdirinya Kerajaan Saudi pertama. Dari sinilah sejarah Arab Saudi modern dimulai, dengan Riyadh dan sekitarnya menjadi panggung utama perjalanan politik dan keagamaan negeri itu.
Setelah melalui masa konflik dan perebutan kekuasaan, Abdulaziz bin Abdul Rahman Al Saud (lebih dikenal sebagai Ibn Saud) berhasil merebut kembali Riyadh pada tahun 1902. Peristiwa itu menjadi simbol kelahiran kembali Arab Saudi. Sejak saat itu, Riyadh tumbuh pesat, dari benteng pasir menjadi ibu kota kerajaan modern.
Kini, lebih dari seabad kemudian, Riyadh berdiri sebagai kota kosmopolitan dengan langit yang dihiasi pencakar langit, jalan raya lebar, dan museum yang menjaga napas sejarah. Di sisi barat, At-Turaif District of Diriyah, yang kini menjadi situs warisan dunia UNESCO, menjadi saksi awal perjalanan panjang kerajaan ini.
Menariknya, di tengah kilauan modernitas dan festival seni seperti Noor Riyadh, kota ini tetap menjaga jati dirinya. Ia memadukan warisan Islam, budaya padang pasir, dan semangat pembaruan. Maka ketika Islamic Solidarity Games 2025 digelar di sini, seolah roda sejarah berputar penuh. Riyadh kembali menjadi tempat berkumpulnya dunia Islam, bukan dalam peperangan, melainkan dalam semangat sportivitas dan persaudaraan.
Riyadh hari ini bukan sekadar ibu kota Arab Saudi. Ia adalah simbol bagaimana tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Dari oasis kecil menjadi metropolis global, dari tanah sunyi menjadi pusat solidaritas dunia Islam, Riyadh telah menulis babak baru sejarahnya.










