Stasiun Whoosh Jadi Magnet Wisata Baru di Jalur Jakarta-Bandung
Selasa, 28 Oktober 2025 | 11:48
Penulis: Arif S

Sumber: Dok. KCIC
Suara roda baja berpacu di atas rel, meluncur mulus dari Halim menuju Padalarang, seolah menjadi simbol perubahan besar dalam wajah pariwisata Indonesia. Whoosh, kereta cepat pertama di Asia Tenggara, kini bukan hanya moda transportasi canggih, tetapi juga penggerak utama kebangkitan ekonomi dan wisata di koridor Jakarta–Bandung.
Sejak awal 2025, kawasan sekitar stasiun-stasiun utama seperti Padalarang, Tegalluar, dan Halim tumbuh menjadi simpul baru aktivitas pariwisata dan perdagangan. Jumlah penginapan, restoran, dan kafe meningkat signifikan, menampung arus wisatawan dari Jakarta hingga mancanegara.
Hingga September 2025, tercatat 566.829 wisatawan asing telah menikmati perjalanan dengan Whoosh.
BACA JUGA
Mau ke Bandung Tanpa Macet? Tiket Kereta Cepat Whoosh untuk Libur Nataru Sudah Bisa Dipesan
Bandung-Jakarta Cuma 1,5 Jam? Terobosan Kereta Kilat Pajajaran Sedang Disiapkan
Menjelajah Wisata Alam Bandung Barat: Liburan Sekejap dari Jakarta Naik Kereta Cepat
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menguatkan tren tersebut. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia melonjak tajam, dari 5,89 juta kunjungan pada 2022 menjadi 11,67 juta pada 2023 dan 13,88 juta pada 2024. Bahkan, sepanjang Januari–Agustus 2025 saja, angka itu sudah mencapai 10,03 juta orang, naik dari periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya pariwisata, denyut ekonomi lokal ikut berputar cepat. Di area stasiun, kini berdiri 188 tenant aktif yang terdiri dari 76 pelaku UMKM dan 112 tenant non-UMKM.
Mereka menghadirkan ragam produk mulai dari kuliner khas daerah, fesyen lokal, hingga suvenir unik yang memanjakan penumpang.
Program Whoosh Official Merchandise di Stasiun Halim dan Padalarang bahkan menjadi wadah ekspresi kreatif anak muda dengan produk seperti kaus, totebag, dan tumbler bertema kebanggaan nasional.
Semangat ekonomi hijau juga menjadi nadi dari setiap inovasi. Whoosh memperkuat integrasi antarmoda dengan kolaborasi bersama LRT Jabodebek, shuttle pariwisata, dan bus feeder yang memudahkan wisatawan menuju destinasi populer seperti Lembang, Ciwidey, dan Pangalengan.
Kini, perjalanan dari ibu kota menuju kebun teh dan kawah putih tak lagi melelahkan, tapi menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Lebih dari sekadar transportasi modern
Antusiasme masyarakat terhadap Whoosh juga tercermin dalam program Frequent Whoosher Card (FWC). Hingga Oktober 2025, sudah 20.996 kartu diterbitkan, meningkat hampir lima kali lipat dari tahun sebelumnya.
Angka ini menunjukkan kepercayaan publik terhadap layanan cepat, nyaman, dan berorientasi masa depan yang ditawarkan Whoosh.
Lebih dari sekadar transportasi modern, Whoosh telah menjelma menjadi simbol mobilitas berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Keberadaannya memperkuat arah pembangunan rendah emisi dan ekonomi hijau yang sejalan dengan kerangka Asta Cita Pemerintah, terutama dalam memperluas konektivitas dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Whoosh adalah gambaran bahwa inovasi transportasi dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Melalui teknologi tinggi, tata kelola profesional, dan kepedulian terhadap bumi, KAI Group menghadirkan masa depan mobilitas yang tidak hanya efisien, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat dan pariwisata nasional,” pungkas Anne.***










