Pertahanan Liverpool di Titik Terlemah Kebobolan 15 Gol dalam 9 Laga, Virgil van Dijk Buka Suara
Minggu, 26 Oktober 2025 | 13:21
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Kekalahan selalu jadi bagian dari sepak bola, tapi empat kekalahan beruntun jelas bukan sesuatu yang biasa buat klub sebesar Liverpool. Pada pekan ke-9 Liga Inggris 2025/2026, The Reds kembali tumbang 2-3 dari Brentford di Stadion Gtech Community, Minggu, 26 Oktober 2025, malam waktu Indonesia. Hasil itu melengkapi rangkaian hasil buruk setelah sebelumnya mereka dikalahkan oleh Crystal Palace, Chelsea, dan Manchester United—semuanya dengan skor identik 1-2.
“Itu hanyalah malam yang sangat mengecewakan bagi kami. Ini sulit diterima tapi itu kenyataannya dan kami harus terus maju,” kata Virgil van Dijk, bek tengah sekaligus kapten Liverpool, dikutip dari laman resmi klub.
Kekalahan ini terasa makin menyakitkan karena datang tak lama setelah kemenangan besar 5-1 atas Eintracht Frankfurt di Liga Champions yang sempat memberi harapan kebangkitan bagi fans. Tapi nyatanya, momentum itu tak bertahan lama.
BACA JUGA
Van Dijk Buka Suara soal 'Dosanya' Saat Liverpool Kalah Lawan Bournemouth
Piala Dunia 2026 Semakin Dekat! Ini Deretan Negara yang Sudah Lolos
Liverpool Terburuk dalam 60 Tahun, Juara Bertahan di Titik Nadir
“Jelas ini salah satu yang sulit diterima, kita tak bisa menyangkal itu. Ini bukan momen yang mudah,” tambah Van Dijk.
Ketika Pertahanan Mulai Rapuh dan Mental Diuji
Salah satu sorotan terbesar dalam periode sulit ini adalah lemahnya lini pertahanan Liverpool. Dalam sembilan pertandingan terakhir di semua kompetisi, mereka belum sekalipun mencatat clean sheet dan sudah kebobolan 15 gol. Angka itu jadi catatan terburuk sejak era pra-Jürgen Klopp, menurut data dari Opta Sports.
“Jadi mudah untuk menyalahkan seseorang atau lini belakang atau bola mati, tapi ini semuanya adalah hal kolektif pada akhirnya. Semua orang harus melihat ke cermin, termasuk saya sendiri. Itu yang kita semua lakukan dan yang kita semua diskusikan juga. Saya yakin kita akan keluar dari ini,” ujarnya.
Komentar sang kapten menunjukkan bagaimana Liverpool kini sedang berjuang menemukan keseimbangan antara gaya menyerang yang agresif dan soliditas pertahanan. Dalam analisis The Athletic, penurunan performa The Reds bukan hanya karena faktor teknis, tapi juga beban psikologis pemain utama yang terus bermain dalam jadwal padat. Klopp sempat mengakui bahwa intensitas latihan dan rotasi pemain menjadi dua hal yang harus segera dievaluasi.
Mencari Titik Balik di Tengah Tekanan
Kekalahan dari Brentford membuat Liverpool tertahan di posisi keenam klasemen sementara dengan 15 poin. Dalam situasi seperti ini, laga berikutnya melawan Crystal Palace di ajang Piala Liga Inggris, 30 Oktober terasa lebih dari sekadar pertandingan. Palace sudah dua kali mengalahkan Liverpool musim ini, dan pertandingan di Anfield nanti akan jadi ujian karakter sesungguhnya.
“Kami harus segera mengalihkan pola pikir agar siap, karena mereka akan datang ke Anfield untuk mencoba menyakiti kami lebih lagi,” ujar Van Dijk, tegas.
Namun, sejarah menunjukkan Liverpool selalu punya cara untuk bangkit. Musim 2020/2021 jadi contoh nyata ketika badai cedera sempat membuat performa tim ambruk, tapi mereka berhasil finis di posisi empat besar. Banyak pengamat meyakini, kunci kebangkitan kali ini ada pada kombinasi antara leadership Van Dijk dan konsistensi lini tengah baru yang sedang dibangun Klopp.
Seperti petualangan panjang yang penuh tanjakan dan tikungan tajam, perjalanan Liverpool musim ini masih jauh dari kata selesai. Mereka bisa saja sedang berada di lembah, tapi dengan semangat khas Anfield yang tak pernah padam, babak baru mungkin sedang menunggu di depan mata.










