ID EN

Liverpool Terburuk dalam 60 Tahun, Juara Bertahan di Titik Nadir

Minggu, 23 November 2025 | 10:51

Penulis: Respaty Gilang

Virgil van Dijk
Virgil van Dijk.
Sumber: Antaranews

Liverpool sedang menghadapi badai besar. Dalam dua pertandingan terakhir di Premier League, mereka mengalami kekalahan telak, sebuah repetisi yang bahkan hanya pernah tercatat 60 tahun lalu untuk The Reds. Setelah tumbang 0–3 dari Nottingham Forest di Anfield, Sabtu, 22 November 2025, suasana di kubu Merseyside semakin mencekam.

Babak pertama berakhir dengan Forest unggul lewat gol Murillo. Belum selesai rasa pahit itu, Liverpool harus menelan dua gol tambahan di babak kedua melalui Nicolo Savona dan Morgan Gibbs-White. Hasilnya, kekalahan menyakitkan 0–3.

Tersirat ironi besar beberapa pekan sebelumnya, The Reds juga menderita kekalahan identik, 0–3, kala menghadapi Manchester City di Etihad. Momentum yang semestinya menginspirasi malah menjadi mimpi buruk berlanjut.

Angka Tragis, Rekor Digerus Sejarah

Catatan analitik tidak bisa diabaikan. Menurut Opta, ini adalah pertama kalinya sejak 60 tahun silam Liverpool kalah dengan selisih lebih dari tiga gol dalam dua laga beruntun di Liga Inggris. Rekor terakhir terjadi pada April 1965, saat di bawah asuhan Bill Shankly, Liverpool keok dari West Bromwich dan Tottenham Hotspur secara beruntun.

Lebih jauh, catatan kekalahan kini semakin berat, mereka telah menelan 8 kekalahan dalam 11 pertandingan terakhir di semua kompetisi, sementara di Premier League tersungkur sebanyak 6 kali dari 12 laga. Tren ini sangat mengkhawatirkan bagi juara bertahan.

Melorot di Klasemen, Krisis Bukan Isapan Jempol

Kekalahan dari Forest menegaskan keretakan performa Liverpool. Di klasemen sementara Liga Inggris, mereka tertahan di posisi 11 dengan 18 poin, tepat di bawah Manchester United yang juga mengoleksi 18 poin namun belum memainkan pertandingan ke-12.

Jika ini terus berlanjut, mimpi buruk bisa menyerupai sejarah lama, pertama kalinya dalam enam dekade, juara bertahan bisa “terjungkal” dari persaingan papan atas. Patut diingat, 60 tahun lalu Liverpool, meski sebelumnya sebagai juara, hanya finis di urutan ketujuh.

Virgil van Dijk Beri Tanggapan Kritis

Tak tinggal diam, kapten Virgil van Dijk memberikan komentar tajam usai laga. Ia menyebut bahwa kebobolan yang dialami tim adalah “kesalahan dasar” yang mestinya bisa dihindari, terutama dari set piece. 

“Kami kebobolan terlalu banyak gol mudah, tidak bagus dalam duel dan terlalu terburu-buru, situasi yang sangat sulit saat ini,” komentarnya dalam wawancara.

Van Dijk juga mengakui bahwa kegugupan semakin terlihat setelah gol pertama lawan, dan bahwa perbaikan tak cukup hanya dengan bicara.

“Dibutuhkan kerja keras,” ucapnya. 

Kata-kata itu jelas mengandung nada panggilan bangkit, tapi juga alarm bahwa masalah struktural sedang serius.

Titik Lemah yang Tak Tertangani

Salah satu momok terbesar Liverpool musim ini adalah situasi bola mati. Van Dijk menyatakan tim kembali kehilangan fokus pada set piece. Data mendukung, belakangan, mereka kebobolan banyak gol dari situasi tersebut.

Padahal, musim lalu, set piece merupakan kekuatan Liverpool. Namun kini, rapor defensif dari bola mati menjadi salah satu penyebab utama krisis. Arne Slot pun beberapa kali menyoroti hal ini sebagai tanggung jawab tim secara kolektif, terutama setelah performa bek sayap barunya belum sepenuhnya matang. 

Lebih konkret, dalam konferensi pers, Slot mengakui bahwa pertahanan mereka terlalu rentan di set piece, sebuah masalah yang harus segera dibenahi agar tidak terus menjadi duri di sisi leher The Reds. 

Beberapa analisis media menyoroti fakta bahwa meski Liverpool memenangkan gelar musim lalu, pertahanan mereka bukan tanpa cacat. Lini belakang menjadi “darurat” untuk dibenahi. 

Dalam 10 pertandingan terakhir di semua kompetisi, Liverpool belum sekalipun mencatat clean sheet. Mereka kebobolan 18 gol dalam periode tersebut.

Momentum untuk Bangkit?

Di tengah krisis, Arne Slot tetap memberi sinyal optimisme. Dalam wawancara, dia menyatakan bahwa kepercayaan diri tim belum musnah meski form sedang buruk. Tapi, Slot juga mengakui perbaikan pertahanan, terutama dalam duel bola mati, adalah prioritas utama.

Saat Liverpool menang besar di Liga Champions (5–1 atas Eintracht Frankfurt), salah satu momen gemilang justru berasal dari set piece. Itu menunjukkan bahwa potensi sudah ada, namun masalahnya adalah konsistensi dan eksekusi saat menghadapi tekanan Premier League.