Pendaki Legendaris Nirmal Purja Meninggal di Broad Peak, Seberapa Mematikan Gunung 8.047 Meter Ini?
Minggu, 2 Agustus 2026 | 13:29
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Canva
Bahkan pendaki legendaris seperti Nirmal Purja ternyata tidak mampu mengalahkan ganasnya Broad Peak. Kabar meninggalnya pendaki asal Nepal itu dalam longsoran salju di Pakistan bukan hanya menjadi duka bagi dunia pendakian, tetapi juga memunculkan satu pertanyaan besar, mengapa gunung ini begitu mematikan, bahkan bagi orang yang dianggap sebagai salah satu pendaki terbaik di dunia?
Purja, yang dikenal luas setelah memecahkan rekor mendaki 14 gunung di atas 8.000 meter dalam waktu hanya enam bulan lebih sedikit, termasuk di antara rombongan pendaki yang dilaporkan hilang saat berada di kawasan Puncak Broad Peak, Kamis, 31 Juli 2026. Longsoran salju terjadi sekitar tengah hari waktu setempat ketika mereka berada di jalur menuju puncak gunung setinggi 8.047 meter tersebut.
Hingga kini, sedikitnya empat pendaki dipastikan meninggal dunia. Selain Nirmal Purja, korban tewas lainnya adalah pendaki Oman Nadhira Al Harthy, pendaki Nepal Pur Bahadur Gurung "Yukta", serta pendaki Amerika Serikat Sarah Mallory Geis.
BACA JUGA
Gunung Semeru Dibuka Lagi, Pendaki Kini Bisa Kembali Menikmati Ranu Kumbolo
Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup, Ini Penjelasan Tahura Raden Soerjo
Kabar itu membuat banyak orang bertanya-tanya. Jika seorang Nirmal Purja yang memiliki pengalaman luar biasa saja tidak mampu bertahan, seberapa berbahayakah Broad Peak sebenarnya?
Broad Peak memang bukan gunung yang asing bagi para pendaki kelas dunia. Gunung yang berada di kawasan Karakoram, Pakistan utara, itu merupakan salah satu dari 14 gunung dengan ketinggian di atas 8.000 meter. Namun, lokasinya yang terpencil, perubahan cuaca yang sulit diprediksi, hingga ancaman longsoran salju membuat setiap langkah menuju puncak memiliki risiko tinggi.
Bahaya tidak hanya datang dari medan yang ekstrem. Longsoran salju dapat terjadi dalam hitungan detik dan mengubah jalur pendakian menjadi kawasan yang nyaris mustahil dilalui. Kondisi inilah yang diduga menjadi penyebab utama tragedi yang menimpa rombongan pendaki tersebut.
Yang membuat situasi semakin mencekam, tragedi itu ternyata belum benar-benar berakhir.
Enam pendaki lainnya masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus berlangsung. Namun, upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan dengan leluasa karena tim evakuasi juga harus menghadapi ancaman longsoran susulan.
Sebelumnya, petugas darurat telah menyampaikan kekhawatiran bahwa kondisi lereng Broad Peak masih belum stabil. Risiko longsoran baru membuat setiap keputusan penyelamatan harus diperhitungkan dengan sangat hati-hati.
Pendaki gunung asal Pakistan, Naila Kiani, mengatakan peluang korban yang masih hilang untuk bertahan hidup kini semakin kecil.
"Pegunungan Pakistan sangat berbeda dengan Nepal," kata Kiani.
"Beberapa daerah tersebut masih rawan longsoran salju, jadi tim penyelamat kami harus sangat berhati-hati untuk menilai apakah mereka membahayakan nyawa mereka," tambahnya.
Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa proses evakuasi berlangsung lebih lambat dibanding yang diharapkan banyak orang. Bukan karena kurangnya upaya penyelamatan, melainkan karena tim penyelamat juga menghadapi ancaman yang sama besarnya dengan para korban.
Di tengah operasi pencarian yang masih berlangsung, dunia pendakian kini bukan hanya berduka atas kehilangan Nirmal Purja, tetapi juga menanti jawaban atas nasib enam pendaki lain yang hingga kini belum ditemukan.
Tragedi Broad Peak menjadi pengingat bahwa di balik berbagai rekor dan pencapaian luar biasa, alam tetap memiliki kekuatan yang tidak bisa ditaklukkan. Bahkan bagi seorang pendaki yang selama ini dianggap mampu menembus batas kemampuan manusia, satu longsoran salju sudah cukup untuk mengubah segalanya.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!