ID EN

Rogojampi, Stasiun Bersejarah Penopang Mobilitas dan Pariwisata Banyuwangi

Rabu, 29 April 2026 | 15:00

Penulis: Arif S

Stasiun Rogojampi
Arsip - Stasiun Rogojampi.
Sumber: Antaranews

Di tengah hiruk-pikuk Pasar Rogojampi, denyut kehidupan Banyuwangi berirama mengikuti suara roda kereta. Stasiun Rogojampi bukan sekadar tempat singgah, melainkan simpul perjalananl, mempertemukan perdagangan, pendidikan, pekerjaan, hingga wisata dalam satu ruang.

Di sinilah perjalanan sehari-hari masyarakat dimulai. Ada yang berangkat bekerja, membawa hasil dagangan, menuju sekolah, atau menjangkau layanan kesehatan. Jalur rel yang membelah kawasan ini menjaga ritme kehidupan tetap berjalan, seolah menjadi nadi yang tak pernah berhenti berdenyut.

Peran penting itu tumbuh dari sejarah panjang sejak awal abad ke-20. Stasiun Rogojampi diresmikan Staatsspoorwegen sebagai bagian dari jalur Mrawan–Rogojampi–Banyuwangi sepanjang 58 kilometer pada 1903. Pada masa itu, jalur ini menjadi urat nadi distribusi hasil perkebunan menuju pelabuhan.

Seiring waktu, fungsi stasiun berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Dari pengangkutan komoditas, Rogojampi bertransformasi menjadi pusat mobilitas masyarakat dan penggerak aktivitas ekonomi kawasan barat Banyuwangi.

Secara geografis, Rogojampi berada di koridor strategis, menghubungkan pusat Kota Banyuwangi di timur dengan Genteng dan Benculuk di barat. 

Letak ini menjadikannya simpul pergerakan aktif, tempat arus manusia dan barang bertemu sepanjang hari.

Kehidupan ekonomi terlihat jelas di sekitar menjadi pusat perdagangan setiap harinya. Pedagang, petani, dan pelaku usaha kecil memanfaatkan kereta api untuk menjangkau pasar lebih luas dengan waktu tempuh lebih terukur dan biaya logistik lebih efisien.

Kedekatan Stasiun Rogojampi dengan Bandara Internasional Banyuwangi, sekitar delapan kilometer, memperluas makna konektivitas. 

Wisatawan dapat berpindah dari kereta ke pesawat dalam waktu singkat, sementara warga lokal memiliki pilihan perjalanan lebih fleksibel.

Bagi pelancong, kemudahan ini membuka pintu menuju beragam destinasi. Dari stasiun, perjalanan dapat dilanjutkan ke Taman Nasional Alas Purwo, lorong hijau Trembesi De Djawatan, hingga ombak Pulau Merah dan Pantai Mustika.

Rogojampi bukan hanya tentang Destinasi Alam. Identitas budaya Osing tetap terasa kuat di sekitar stasiun, terdengar dalam percakapan sehari-hari. 

Tradisi seperti Kebo-keboan di Desa Aliyan terus hidup, dan kemudahan akses transportasi membantu lebih banyak orang menyaksikannya secara langsung.

Pengalaman Perjalanan pun lengkap dengan cita rasa lokal. Sego Cawuk, Rujak Soto, dan Pecel Pitik menjadi kuliner khas yang sering dicari para pendatang. 

Kehadiran wisatawan memberi manfaat langsung bagi pedagang makanan hingga penyedia transportasi lanjutan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan pentingnya konektivitas tersebut.

“Perjalanan yang semakin mudah membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Akses yang dekat antara stasiun dan bandara membuka peluang usaha, memperkuat pergerakan ekonomi, serta mendukung pengembangan Pariwisata dan budaya daerah,” jelas Anne.

Seluruh perjalanan kereta api dari dan menuju Banyuwangi kini berhenti di Stasiun Rogojampi. Layanan lokal seperti Probowangi menopang mobilitas harian, sementara kereta jarak jauh seperti Wijayakusuma, Blambangan Ekspres, dan Sangkuriang relasi Bandung–Banyuwangi memperluas jangkauan kota ini ke berbagai penjuru Jawa.

Kepercayaan masyarakat terus meningkat. Pada Triwulan I 2026, jumlah pelanggan naik mencapai 67.212 orang, tumbuh sekitar 19,9 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sementara pelanggan turun tercatat 67.109 orang, meningkat 12,2 persen.

Angka-angka itu menunjukkan satu hal sederhana, Stasiun Rogojampi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di tempat ini, ekonomi bergerak, budaya tetap hidup, dan wisata berkembang dalam satu jaringan perjalanan saling terhubung.

Sumber: Antara

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!