Festival Lom Plai Kutai Timur Raih KEN 2026, Pesona Tradisi Dayak Wehea Memikat
Kamis, 23 April 2026 | 15:43
Penulis: Arif S

Sumber: Diskominfo
Festival Lom Plai kembali menegaskan pesonanya. Tahun ini, perayaan adat masyarakat Dayak Wehea itu meraih penghargaan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata, menempatkannya dalam kalender ajang pariwisata nasional.
Pengakuan itu bukan sekadar penghargaan administratif tetapi penanda tradisi lokal, yang tumbuh dari relasi mendalam antara manusia dan alam, kini mendapat tempat di panggung nasional.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, mengapresiasi tinggi masyarakat adat Dayak Wehea yang selama ini menjaga warisan budaya dengan penuh kesetiaan.
BACA JUGA
Wonderful Indonesia di ADEX 2026, Promosi Destinasi Selam Kelas Dunia
Danantara Gandeng QIA Kembangkan Labuan Bajo Jadi Destinasi Kelas Dunia
NTB Siap Jadi Magnet Wisata 2026, Kunjungan Ditargetkan Naik
“Festival Lom Plai bukan sekadar perayaan, melainkan cerminan nilai-nilai luhur masyarakat adat Dayak Wehea yang sarat filosofi kehidupan. Di dalamnya terkandung pesan kebersamaan, penghormatan mendalam terhadap alam, serta keseimbangan antara manusia dan lingkungannya,” ujar Ririn saat menghadiri Embob Jengea di Desa Nehas Liah Bing.
Desa Nehas Liah Bing di Kutai Timur menjadi panggung utama perayaan ini, wilayah yang dikelilingi lanskap hijau, aliran sungai, dan denyut kehidupan adat terjaga.
Di sini, wisatawan tak hanya datang untuk menyaksikan festival, tetapi juga memahami cara hidup selaras dengan hutan.
Ririn menekankan Lom Plai menyimpan potensi wisata besar, dari panorama alam asri hingga keunikan keseharian masyarakat adat Dayak Wehea.
"Potensi ini sangat strategis untuk dikembangkan menjadi Destinasi Wisata berbasis budaya dan ekowisata unggulan di Kalimantan Timur," jelasnya.
Lom Plai merupakan pesta adat pasca-panen padi. Rangkaian upacara berlangsung sekitar 38 hari.
Segalanya dimulai secara khidmat melalui prosesi Ngesea Egung atau pemukulan gong pada 23 Maret, menandai dibukanya musim ritual.
Setelah itu, masyarakat menjalani Laq Pesyai dengan berbondong-bondong menuju hulu Sungai Wehea untuk mengambil buah hutan dan rotan sebagai perlengkapan upacara.
Perjalanan ini menghadirkan gambaran betapa erat ketergantungan tradisi terhadap kekayaan alam sekitar.
Prosesi berikutnya, Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min, menjadi simbol pembuatan batas wilayah hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan.
"Keunikan budaya Wehea juga tampak pada ritual Ngelwung Pan, di mana para perempuan adat melakukan ritual spiritual secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui," kata Ririn.
Memasuki April, warga membangun pondok darurat di tepi sungai dalam tradisi Naq Jengea.
Selanjutnya, puncak perayaan, Bob Jengea, ketika desa berubah menjadi panggung warna-warni melalui pawai budaya, tari Hudoq, dan atraksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal sebagai Seksiang.
Seluruh rangkaian ditutup dengan Embos Epaq Plai pada 29 April 2026, prosesi pembersihan kampung untuk mengusir hal buruk dan memohon keberkahan musim tanam berikutnya.
Bagi Kalimantan Timur, penghargaan KEN 2026 menjadi peluang memperkenalkan Lom Plai kepada Wisatawan Nusantara hingga mancanegara.
Namun lebih dari itu, festival ini adalah pengingat, masa depan pariwisata dapat tumbuh dari akar tradisi yang dijaga dengan hormat.
"Kami berharap kolaborasi antara pemangku adat dan pemerintah daerah dapat terus menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai warisan intelektual bangsa. Semoga Festival Lom Plai tetap menjadi identitas daerah dan wajah kebanggaan pariwisata Kaltim di level internasional," pungkasnya.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!