ID EN

Restoran Ini Bikin Kamu Serasa Jalan-Jalan ke Shanghai 1920 di Tengah Jakarta

Kamis, 16 Oktober 2025 | 11:30

Penulis: Arif S

Ruang utama Shanghai Blue 1920 Jakarta
Ruang utama Shanghai Blue 1920, restoran yang mengadopsi warung sederhana milik perantau Tionghoa di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Sumber: Antara/Nabila Charisty

Kini tak perlu jauh ke pesisir utara untuk merasakan suasana Batavia tempo dulu. Kini, nuansa sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa yang simbol lahirnya Jakarta, hidup kembali melalui sebuah restoran bernama Shanghai Blue 1920 di Jakarta Pusat. 

Dari Pelabuhan Tua ke Jejak Kuliner Legendaris

Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Utara adalah salah satu pelabuhan tertua di Indonesia yang masih aktif. 

Letaknya yang strategis membuatnya berkembang menjadi jalur perdagangan penting di Pulau Jawa. 

Bukan hanya pedagang dari Nusantara yang singgah, tetapi juga dari Tiongkok, Arab, India, Inggris, sampai Portugis. 

Mereka berlayar dan berlabuh di wilayah yang pernah bernama Jayakarta dan Batavia itu.

Di tengah lalu-lalang kapal asing dan pelaut dari berbagai bangsa, muncul satu sosok perantau Tiongkok bernama Chan Mo Sang, atau akrab disebut Babah Chan. 

Pada awal tahun 1920-an, ia mendirikan warung kecil di sekitar pelabuhan. Ramainya pelaut dari berbagai negara yang hilir mudik di sana membuat warung Babah Chan semakin laris.

Warung berdinding papan itu tidak pernah sepi. Selain menyajikan makanan, Babah Chan membuka jasa mencuci pakaian hingga potong rambut untuk para pelaut yang telah berada di laut berbulan-bulan. 

Dari sinilah muncul masakan yang memadukan cita rasa oriental dan Betawi. Salah satunya yang paling legendaris, Bihun Lada Hitam.

Warung itu bukan sekadar tempat singgah, tetapi menjadi titik pertemuan budaya yang berkembang menjadi restoran besar. Tercatat, Anna May Wong, artis Asia pertama di Hollywood, pernah singgah menikmati hidangan di sana saat kapalnya berlabuh di Batavia.

Shanghai Blue 1920: Masa Lalu yang Dihidupkan Kembali

Seratus tahun kemudian, kenangan itu bangkit di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Restoran Shanghai Blue 1920 seakan memindahkan suasana Pelabuhan Sunda Kelapa ke pusat kota. Setiap sudutnya dirancang untuk mengajak tamu bernostalgia.

“Kami ingin membawa kembali suasana dan cita rasa yang dulu pernah hidup di Pelabuhan Sunda Kelapa,” ujar Julie Nursanty, manajer restoran.

Interiornya menghadirkan nuansa Shanghai era 1920-an, terasa dari dominasi kayu dan papan yang menimbulkan sensasi seolah berada di dalam kabin kapal laut klasik. 

Kursi art deco bermotif bunga, rotan khas Betawi, sempoa tradisional Tiongkok, foto-foto perempuan Tionghoa bergaya klasik, hingga alat musik asli seperti saxophone dari warung Babah Chan membuat setiap sudut terasa hidup.

Kini, warga Jakarta tak harus ke utara untuk menyelami sejarah. Di pusat kota pun, kisah Batavia bisa dirasakan sambil menikmati hidangan.(Antara)