ID EN

Stay Fit, Stay Away, Liburan Modern Tak Lagi Pasif

Kamis, 16 Oktober 2025 | 07:27

Penulis: Respaty Gilang

Hiking
Hiking salah satu active vacationer.
Sumber: Pixabay

Di tengah tren liburan santai yang identik dengan rebahan di pinggir kolam hotel, muncul satu gelombang baru dari para traveler modern mereka yang tak bisa diam. Bukan karena gelisah, tapi karena tubuh mereka terbiasa bergerak baik di lapangan maupun di pantai. Mereka adalah generasi “active vacationer”, kelompok wisatawan yang menjadikan liburan sebagai cara untuk tetap aktif, bukan sekadar jeda.

Fenomena ini makin kentara dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Global Wellness Institute 2024 mencatat bahwa pasar active travel tumbuh hampir 20% lebih cepat dibandingkan sektor wisata konvensional. Tren ini dipicu oleh semakin banyaknya profesional muda dan kalangan jetset yang menganggap liburan bukan hanya pelarian dari rutinitas, tapi investasi untuk kesehatan dan pengalaman hidup.

“Bepergian bukan lagi sekadar melihat tempat-tempat baru. Ini tentang melewatinya,” tulis laporan tersebut.

Dari sisi destinasi, pantai-pantai tropis dan resort mewah kini tak lagi sekadar menawarkan kursi malas dan koktail. Banyak dari mereka merancang ulang paket liburan dengan sentuhan aktivitas fisik, mulai dari kelas yoga di tepi laut, paddle board di laguna tenang, hiking ringan di perbukitan, hingga tennis camp dan mini turnamen basket di kawasan resort.

Contohnya, Bali Active Escape yang digelar tiap tahun menarik ratusan pelancong asing. Alih-alih hanya bersantai di Seminyak, mereka memilih pagi dengan sesi beach run, siang dengan court game seperti tenis atau pickleball, dan sore ditutup dengan sunset yoga. Pola ini menciptakan keseimbangan antara eksplorasi dan aktivitas, tanpa kehilangan nuansa liburan yang santai.

Di Eropa, tren serupa juga terlihat jelas. Beberapa resort di Spanyol dan Italia kini menawarkan program court & coast, yakni menggabungkan kegiatan olahraga seperti tenis atau padel dengan sesi relaksasi di pantai. Data dari European Travel Commission menunjukkan peningkatan pemesanan hingga 42% untuk paket liburan aktif di kawasan Mediterania pada musim panas 2024.

Sementara itu, Amerika Serikat menjadi salah satu pasar terbesar untuk segmen ini. Berdasarkan laporan Adventure Travel Trade Association, sekitar 65% pelancong muda profesional menyatakan lebih suka liburan dengan aktivitas fisik dibandingkan sekadar bersantai. Tak heran, banyak hotel dan resort di California, Florida, hingga Hawaii menawarkan fasilitas multisport vacation lengkap dengan pelatih pribadi dan community workout.

Fenomena ini juga mulai merembet ke Asia Tenggara. Indonesia menjadi salah satu magnetnya. Dari pantai Mandalika, Uluwatu, hingga kawasan Danau Toba, wisata aktif makin populer. Sejumlah operator lokal mulai menawarkan sport packages yang menggabungkan tenis, sepeda, lari, hiking, hingga selancar.

“Orang-orang ingin liburan tapi tetap merasa produktif, sehat, dan terkoneksi dengan alam. Ini bukan tentang kompetisi, tapi tentang ritme hidup yang lebih dinamis,” ujar seorang pengelola resort wellness di Bali.

Bagi banyak orang, liburan aktif bukan sekadar soal keringat atau kalori yang terbakar. Ini tentang membangun hubungan baru dengan tempat yang mereka kunjungi. Ketika seseorang bermain tenis di tepi pantai atau jogging melewati rute hutan tropis, mereka tak sekadar “berkunjung” mereka “mengalami”.

Gaya liburan seperti ini cocok bagi mereka yang terbiasa hidup cepat. Kaum profesional yang sibuk, para pelari maraton akhir pekan, penggemar olahraga raket, hingga para peselancar digital yang membawa laptop dan sepatu lari dalam satu koper. Bagi mereka, bergerak adalah bentuk relaksasi.

Dan mungkin, inilah definisi baru dari liburan masa kini, bukan tentang seberapa lama kamu diam, tapi seberapa dalam kamu bergerak bersama dunia di sekitarmu.