ID EN

Desa Bawomataluo Nias Menuju Pengakuan Situs Warisan Dunia UNESCO

Kamis, 2 April 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Hombo (lompat) batu
Hombo (lompat) batu dalam bahasa suku Nias merupakan salah satu ciri khas budaya Nias Selatan.
Sumber: Antara Foto/Septianda Perdana

Desa Bawomataluo di Kabupaten Nias Selatan, Kepulauan Nias tengah melangkah menuju pengakuan global. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara resmi mengusulkan desa adat ini sebagai bagian dari daftar situs Warisan Dunia UNESCO.

"Saat ini kami sedang memproses Desa Bawomataluo agar dapat menjadi situs warisan UNESCO. Kita sudah melakukan sosialisasi di Nias dan nanti kita melanjutkan penyusunan dossier (dokumen) Bawomataluo," ujar Yuda Pratiwi Setiawan dalam jumpa pers di Medan, Rabu.

Jejak Megalitik di Atas Bukit

Nama Bawomataluo yang berarti “Bukit Matahari” bukan sekadar metafora. Desa ini berdiri di ketinggian sekitar 324 meter di atas permukaan laut, menghadirkan lanskap permukiman tradisional tersusun rapi di atas kontur perbukitan.

Di tengah desa, berdiri Omo Sebua, rumah adat raja berusia lebih dari dua abad. Struktur kayunya kokoh, menjadi saksi perjalanan panjang peradaban lokal yang masih bertahan hingga kini.

Tak jauh dari sana, tradisi Fahombo atau lompat batu terus hidup sebagai simbol kedewasaan dan keberanian. 

Generasi Muda desa masih melompati susunan batu setinggi dua meter, ritual yang telah menjadi identitas budaya sekaligus daya tarik bagi para pelancong.

"Desa ini juga memiliki tradisi lompat batu atau tradisi Fahombo yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Selama ini menjadi daya tarik tersendiri wisatawan berkunjung ke Sumatera Utara," katanya.

Dari Daftar Sementara Menuju Pengakuan Dunia

Bawomataluo bukan nama baru dalam radar UNESCO. Sejak 2009, desa ini telah masuk dalam tentative list, daftar sementara yang menjadi gerbang awal menuju pengakuan sebagai situs warisan dunia.

Kini, proses tersebut memasuki tahap lebih serius. Setelah sosialisasi kepada masyarakat lokal, pemerintah tengah menyusun dokumen dossier serta melakukan preliminary assessment sebagai syarat utama sebelum pengajuan nominasi penuh.

"Pemprov Sumut terus berupaya mendorong pengakuan dunia internasional atas Destinasi Wisata di Kepulauan Nias ini," tegas Yuda.

"Sesuai prosedur UNESCO, tahapan ini menjadi syarat sebelum pengajuan nominasi penuh secara resmi," tutur Yuda.

Menjaga Warisan, Menyambut Masa Depan

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Bawomataluo mencerminkan harmoni manusia, budaya, dan alam. Nilai-nilai itu tercermin dari tata ruang desa, kehidupan sosial masyarakat, hingga praktik budaya yang tetap lestari.

Upaya pengusulan ini juga sejalan dengan komitmen pelestarian Cagar Budaya di Sumatera Utara.