ID EN

Tren Wisata Lebaran 2026: Perjalanan Naik, Pengeluaran Capai Rp19,86 Triliun

Kamis, 2 April 2026 | 12:00

Penulis: Arif S

Raja Ampat
Pesona keindahan Raja Ampat, Papua Barat.
Sumber: Envato

Gelombang mudik yang biasanya identik dengan tradisi pulang kampung mulai bertransformasi menjadi perjalanan berbasis pengalaman. Pada libur Lebaran 2026, pariwisata Indonesia menunjukkan denyut lebih hidup, bukan sekadar perpindahan manusia, melainkan pergerakan menuju destinasi wisata.

Menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar), momentum libur Lebaran tahun ini telah mendorong peningkatan perjalanan wisata sekaligus menggerakkan roda perekonomian nasional. 

Data Kementerian Perhubungan mencatat, sebanyak 147,55 juta perjalanan terjadi selama periode 13-29 Maret 2026. Angka ini melampaui proyeksi awal sebesar 2,53 persen.

Dari jumlah tersebut, sekitar 12 persen atau setara 17,27 juta orang memilih menjadikan perjalanan mereka sebagai eksplorasi wisata. 

Angka ini meningkat 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandai perubahan cara masyarakat memaknai liburan.

"Namun ini estimasi, data riil tentu akan menunggu dari BPS, karena kami berkolaborasi dengan BPS untuk penghitungan jumlah wisatawan baik nusantara maupun mancanegara," ujarnya.

Dari Ikon Kota hingga Lanskap Alam

Di tengah lonjakan mobilitas itu, sejumlah destinasi menjadi magnet utama. Kawasan Malioboro, Yogyakarta tetap menjadi denyut budaya yang tak pernah sepi. 

Di ibu kota, arus wisatawan mengalir ke Ancol, Monas, dan Taman Margasatwa Ragunan, ruang-ruang publik yang menawarkan jeda dari kepadatan urban.

Sementara itu, pesona sejarah dan spiritualitas juga menarik para pelancong. Kota Lama Semarang, Masjid Al Jabar, hingga Masjid Agung Demak menjadi titik temu antara perjalanan dan refleksi.

Di sisi lain, bentang alam seperti Pantai Pangandaran, Telaga Sarangan, dan Taman Safari Indonesia Bogor menghadirkan pengalaman lebih dekat dengan alam.

Pergerakan wisata ini turut mengerek pengeluaran sektor pariwisata secara signifikan, dari Rp11,04 triliun pada 2025 menjadi Rp19,86 triliun pada 2026.

"Hal ini menunjukkan ada pergeseran dari konsumsi berbasis rumah tangga menjadi konsumsi berbasis pengalaman, khususnya pada sektor pariwisata," kata Ni Luh.

Destinasi Wisata Prioritas Kian Bergeliat

Kemenpar juga mencatat pergerakan signifikan menuju 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP). Destinasi seperti Danau Toba, Candi Borobudur, Mandalika, Likupang, Wakatobi, Raja Ampat, hingga Bromo-Tengger-Semeru menjadi poros utama pertumbuhan.

Sebanyak 6,66 juta pergerakan tercatat menuju destinasi-destinasi tersebut, naik 13,74 persen dibandingkan tahun lalu. 

Sementara itu, Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR) seperti Bali, Greater Jakarta, dan Kepulauan Riau mencatat peningkatan lebih tinggi hingga 24,63 persen, dengan Kepulauan Riau melonjak tajam sebesar 125,5 persen.

Raja Ampat mengalami peningkatan kunjungan 19,9 persen, menguatkan posisinya sebagai salah satu surga bahari dunia yang kian diminati.

Secara keseluruhan, estimasi pengeluaran wisata ke destinasi prioritas dan regeneratif mencapai lebih dari Rp12,27 triliun, atau sekitar 61,8 persen dari total belanja pariwisata nasional selama periode Lebaran.

Infrastruktur Layanan dan Pengalaman Wisata

Untuk menopang lonjakan ini, Kemenpar mengaktifkan berbagai inisiatif, mulai dari platform informasi “Halo Wonderful”, kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI), hingga Belanja di Indonesia Aja (BINA).

Selain itu, penyusunan paket wisata Lebaran, dorongan penurunan harga tiket transportasi, serta pemantauan di 173 titik destinasi menjadi bagian dari upaya menciptakan perjalanan lebih aman dan nyaman. 

Pengawasan terhadap pungutan liar diperketat, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.

Lebaran 2026, pada akhirnya, bukan hanya tentang pulang melainkan bergerak, menjelajah, dan menemukan makna baru dalam perjalanan.