Bagi pecinta Sepak Bola Jawa Barat, nama Atep adalah personifikasi dari loyalitas dan kerja keras. Dalam perbincangan hangat di studio ITSMe, Sentul, Bogor, pria yang dijuluki "Lord Atep" ini membagikan kisah inspiratif yang jarang diketahui publik—mulai dari "pengkhianatan" demi mimpi masa kecil, hingga transformasi dirinya menjadi seorang maratoner pasca gantung sepatu.
Persija: Batu Loncatan Menuju Mimpi
Meski lahir di Cianjur dan memimpikan Persib sejak kecil, takdir membawa Atep muda ke Jakarta. Bergabung dengan Persija pada 2004 bukanlah pilihan mudah, namun ia sadar bahwa Persib saat itu belum melirik pemain muda tanpa nama. Persija menjadi kawah candradimuka bagi mentalnya. "Saya ditolong oleh Persija," akunya. Di sana, ia mengasah mental bersama para senior Timnas hingga akhirnya menarik perhatian manajemen Persib.
Momen kepindahannya ke Bandung pada 2008 menyisakan cerita unik. Karena takut dicap pengkhianat oleh suporter Persija, Atep bahkan tidak berani mengambil barang-barangnya sendiri di Mes Jakarta. Ia terpaksa meminta bantuan manajemen untuk membawakan barang-barangnya ke Bogor agar bisa diambil secara sembunyi-sembunyi.
BACA JUGA
Bursa Transfer Memanas! Siapa Pemain Super League yang Masuk Radar John Herdman?
Persib Bandung Buka Peluang Global Lewat Pertemuan dengan Dubes Prancis
Persib Bandung Butuh 24 Poin Lagi untuk Juara Super League 2025/2026
Filosofi Lord dan Kedisiplinan
Julukan "Lord" yang melekat padanya ternyata lahir dari apresiasi Bobotoh atas konsistensinya yang luar biasa. Baginya, konsistensi bukan sekadar bakat, melainkan hasil dari latihan gila-gilaan. Di masa mudanya, Atep terbiasa berlatih hingga empat kali sehari. Kedisiplinannya juga terlihat dari hal kecil: ia setia menggunakan satu tukang cukur yang sama sejak 2007 untuk menjaga gaya rambut mohawk-nya yang ikonik.
Menatap Masa Depan: Maraton dan Kepelatihan
Setelah pensiun di Persib pada 2018, Atep tidak lantas berhenti bergerak. Ia kini aktif sebagai pelari maraton dan telah menuntaskan Tokyo Marathon. Targetnya adalah menyelesaikan World Major Marathons. "Setelah pensiun, saya merasa terlahir kembali sebagai atlet," ujarnya. Namun, sepak bola tetap menjadi denyut nadinya. Berbekal lisensi kepelatihan B, Atep bercita-cita mencetak generasi baru yang lincah dan berkarakter, mengikuti jejak Beckham Putra yang ia sebut sebagai penerus nomor punggung 7 yang tepat.
Atep menutup perbincangan dengan optimisme tinggi terhadap Timnas Indonesia di bawah John Herdman. Sebagai mantan pemain, ia berharap sang Pelatih Baru bisa menjadi history maker yang mengobati dahaga prestasi masyarakat Indonesia.










