ID EN

Mbappe Sebut Ronaldo Masih Raja di Bernabéu Hingga Kini

Senin, 13 Oktober 2025 | 16:34

Penulis: Respaty Gilang

Mbappe
Mbappe.
Sumber: Antaranews

Kylian Mbappe boleh jadi wajah baru Real Madrid saat ini, tapi di matanya, hanya ada satu sosok yang masih menjadi simbol terbesar klub, ia adalah Cristiano Ronaldo. Meski sang legenda sudah meninggalkan Santiago Bernabéu sejak 2018, Mbappe menegaskan bahwa pengaruh Ronaldo belum pernah pudar.

“Cristiano selalu menjadi panutan bagi saya. Saya beruntung bisa berbicara dengannya, dia sering memberi nasihat dan banyak membantu saya. Menurut saya, di Madrid dia masih nomor satu. Dia tetap menjadi titik referensi bagi para pemain Real Madrid," kata Mbappe, dikutip dari ESPN, Senin, 13 Oktober 2025.

Pernyataan itu datang dari pemain yang kini dianggap sebagai pewaris tahta Ronaldo di Madrid. Tapi buat Mbappe, membandingkan dirinya dengan CR7 adalah hal yang berlebihan. Ia lebih memilih mengakui bahwa Ronaldo adalah blueprint dari apa yang disebut sebagai ikon Los Blancos.

Warisan Ronaldo Masih Hidup di Bernabéu

Selama sembilan musim berseragam Real Madrid (2009–2018), Ronaldo mencetak 450 gol dan mempersembahkan 16 trofi, termasuk empat gelar Liga Champions, angka yang masih sulit ditandingi siapa pun sampai hari ini.

Tidak heran jika Mbappe percaya, aura Ronaldo masih terasa di ruang ganti maupun di tribun Bernabéu.

“Para fan masih memimpikan Cristiano. Namun saya ingin menempuh jalan saya sendiri,” ujarnya dengan nada penuh hormat.

Kalimat itu menggambarkan keseimbangan antara rasa hormat dan ambisi pribadi Mbappe. Ia tahu, menggantikan sosok selegendaris Ronaldo bukan hal mudah, tapi Mbappe datang ke Madrid bukan untuk menjadi duplikat, melainkan menciptakan bab baru dalam sejarah klub.

Musim Debut yang Tajam, Tapi Belum Sempurna

Musim debut Mbappe di Madrid berjalan spektakuler dari sisi individu. Ia menutup musim 2024–2025 dengan 44 gol, sebuah catatan luar biasa bahkan untuk pemain yang baru pindah ke LaLiga. Di awal musim berikutnya, ia sudah menambahkan 14 gol lagi, menegaskan statusnya sebagai mesin gol utama Los Blancos.

Namun, semua pencapaian itu belum cukup mengantar Madrid mengangkat trofi besar musim lalu. Klub asuhan Carlo Ancelotti masih mencari keseimbangan setelah kekalahan pahit 2–5 dari Atletico Madrid dalam laga derbi.

“Mereka datang untuk bermain di derbi, dan kami juga, tapi tanpa intensitas. Mereka memenangkan semua duel. Sulit menang jika bermain seperti itu,” ucap Mbappe, reflektif tapi jujur.

Kini, Madrid memuncaki klasemen sementara LaLiga setelah delapan laga, unggul dua poin dari Barcelona. Tapi Mbappe tahu, perjalanan menuju gelar masih panjang dan penuh tekanan.

Selain tampil garang di level klub, Mbappe juga masih jadi andalan utama timnas Prancis. Ia baru saja mencetak gol saat Les Bleus menumbangkan Azerbaijan 3–0 dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.

Sayangnya, laga itu juga membawa sedikit kekhawatiran karena ia mengalami cedera pergelangan kaki, kondisi yang sama seperti yang sempat dialaminya di Madrid pekan sebelumnya.

Meski begitu, Mbappe tetap optimis dengan peluang Prancis di Piala Dunia mendatang.

“Menurut saya, Spanyol adalah tim terbaik di Eropa sekarang. Tapi Piala Dunia adalah ajang yang berbeda,” ujar peraih trofi Piala Dunia 2018 itu.

Buat Mbappe, turnamen dunia itu bukan sekadar ajang pembuktian tim, tapi juga momentum untuk menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain terbaik di generasinya.

Vinicius Bukan Rival, Tapi Rekan Seirama

Satu hal lain yang sering mencuri perhatian publik adalah dinamika antara Mbappe dan Vinicius Junior. Keduanya sama-sama beroperasi di sisi kiri serangan, yang membuat media kerap menggiring isu rivalitas internal. Tapi Mbappe dengan tegas menepis anggapan itu.

> “Dua pemain terkenal dalam satu tim memang menarik perhatian, tapi kenyataannya hubungan saya dengan Vinicius sangat baik. Tahun ini jauh lebih baik karena kami sudah saling mengenal,” katanya.

Di lapangan, keduanya kini terlihat lebih sinkron. Vinicius sering jadi creator, sementara Mbappe memanfaatkan ruang untuk menuntaskan peluang. Kombinasi keduanya bisa jadi senjata paling mematikan Madrid musim ini dan mungkin, kunci untuk mengembalikan dominasi klub di Eropa.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!