ID EN

Kemenpar Antisipasi Dampak Konflik AS-Israel dengan Iran pada Kunjungan Wisman

Jumat, 6 Maret 2026 | 15:15

Penulis: Arif S

Penerbangan ke Indonesia
Kementerian Pariwisata menyiapkan langkah mitigasi dampak kunjungan wisman akibat konflik AS-Israel dengan Iran.
Sumber: Kemenpar

Di tengah dinamika Geopolitik Global akibat konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran, pemerintah Indonesia bergerak cepat memastikan sektor pariwisata tetap stabil.  Bagi negara kepulauan yang menjadikan perjalanan sebagai jendela budaya dan ekonomi, arus kedatangan Wisatawan Mancanegara harus dijaga.

Kementerian Pariwisata menyiapkan langkah mitigasi strategis guna mengantisipasi kemungkinan dampak konflik tersebut terhadap mobilitas wisatawan internasional, khususnya yang melintasi kawasan Timur Tengah.

Saat meninjau kondisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada Kamis 5 Maret 2026, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan, pemerintah terus memantau perkembangan situasi global, terutama yang berkaitan dengan konektivitas penerbangan menuju Indonesia.

“Kita pantau terus. GM Bandara Bali menyampaikan bahwa terkait penerbangan ke Timur Tengah, dari lima maskapai yang beroperasi saat ini memang belum dapat terbang,” ujar Ni Luh Puspa di Bali.

Meski beberapa Rute Penerbangan terdampak, operasional di gerbang utama wisata Indonesia itu relatif stabil. Penurunan jumlah penerbangan tercatat hanya sekitar 0,5 persen.

Salah satu faktor penopangnya adalah fleksibilitas rute penerbangan. Banyak wisatawan memilih jalur alternatif melalui simpul-simpul transportasi udara di Asia, seperti Malaysia dan Singapura.

Selama ini Malaysia dan Singapura menjadi hub penting menuju berbagai destinasi di Indonesia.

Menurut Ni Luh Puspa, data konektivitas penerbangan menunjukkan sebagian besar arus wisatawan menuju Indonesia memang berasal dari kedua negara tersebut. 

Malaysia menyumbang sekitar 28 persen konektivitas penerbangan, diikuti Singapura sebesar 18 persen. Sementara kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 11 persen. 

Hub lain di Asia, termasuk Hong Kong turut berperan dalam menjaga kelancaran mobilitas wisatawan.

“Artinya, konektivitas kita masih didominasi Malaysia dan Singapura,” kata Ni Luh Puspa.

Gambaran ini juga selaras dengan data Kunjungan Wisatawan mancanegara pada 2025. Lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia berasal dari Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste.

Melihat pola tersebut, pemerintah semakin memperkuat strategi promosi di kawasan Asia dan Pasifik sebagai langkah mitigasi. 

Fokus ini diharapkan mampu menjaga stabilitas kunjungan wisatawan meski dinamika geopolitik global terus berubah.

Selain promosi pasar, Kementerian Pariwisata terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan global. Salah satunya UN Tourism, organisasi pariwisata dunia yang memantau tren perjalanan internasional dan mobilitas wisatawan lintas negara.

“Situasi ini masih terus kita pantau. Kami akan melihat laporan-laporan terbaru, termasuk perkembangan di Bali, untuk memastikan langkah mitigasi yang tepat bagi sektor pariwisata,” pungkasnya.