ID EN

Bagaimana Spanyol Membungkam Messi dan Meruntuhkan Argentina di Final Piala Dunia 2026?

Senin, 20 Juli 2026 | 20:00

Penulis: Rojes Saragih

Sentul, Bogor - Papan skor hanya menunjukkan kemenangan tipis 1-0 untuk Spanyol atas Argentina pada final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, AS. Namun, di balik skor itu tersimpan sebuah pertandingan yang jauh lebih timpang daripada yang terlihat.

Dominasi La Roja tidak hanya tercermin dari gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu, tetapi juga dari data yang menggambarkan bagaimana tim asuhan Luis de la Fuente menguasai hampir seluruh aspek permainan.

Data Opta Analyst memperlihatkan betapa timpangnya dominasi Spanyol pada laga final itu. La Roja mencatat 235 operan sukses di sepertiga akhir lapangan, sedangkan Argentina hanya membukukan 47 operan di area pertahanan lawannya.

Selisih itu menggambarkan siapa yang benar-benar menguasai wilayah permainan dan siapa yang sepanjang laga lebih banyak dipaksa bertahan.

Tekanan Spanyol terus mengalir sejak menit pertama. Mereka menghasilkan 20 percobaan ke gawang, memaksa Emiliano Martinez bekerja tanpa henti di bawah mistar. Penjaga gawang Argentina itu melakukan 11 penyelamatan untuk menjaga harapan timnya tetap hidup hingga babak tambahan waktu.

Sebaliknya, Argentina nyaris tak terlihat sebagai juara bertahan. Tembakan pertama mereka baru tercipta pada menit ke-117 melalui sepakan Lionel Messi dari sisi kanan yang diblok Mikel Merino. Hingga saat itu, Spanyol telah menguasai ruang, tempo, dan arah permainan, membuat Argentina lebih sibuk bertahan daripada membangun serangan.

Statistik ini menjelaskan bahwa kemenangan Spanyol bukan sekadar hasil dari satu gol Ferran Torres. Mereka memenangkan pertarungan ruang, tempo, dan penguasaan wilayah permainan.

Lionel Messi tetap berusaha menjadi pusat permainan Argentina. Namun, sepanjang pertandingan ia lebih sering turun ke area tengah untuk membantu sirkulasi bola karena jalur menuju sepertiga akhir lapangan terus diputus oleh organisasi permainan Spanyol. Alih-alih menerima bola di sekitar kotak penalti, Messi dipaksa memulai serangan dari area yang jauh lebih dalam.

Di sisi lain, Luis de la Fuente tidak mengubah identitas timnya meski menghadapi juara bertahan di partai final. Spanyol tetap mengandalkan pressing tinggi, rotasi posisi yang dinamis, serta penguasaan bola yang sabar. Pendekatan itu membuat Argentina lebih banyak bereaksi terhadap permainan lawan daripada mampu memaksakan ritme mereka sendiri.

Kemenangan ini sekaligus menegaskan bahwa sepak bola modern semakin ditentukan oleh kualitas organisasi permainan.

Spanyol menutup turnamen dengan hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan dan memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 38 laga. Rekor tersebut menjadi cerminan konsistensi sistem permainan yang dibangun De la Fuente, bukan semata-mata bergantung pada kecemerlangan individu.

Bagaimana sebenarnya Luis de la Fuente membangun dominasi tersebut? Mengapa Lionel Scaloni gagal mengeluarkan permainan terbaik Argentina? Benarkah final Piala Dunia 2026 lebih merupakan kemenangan sebuah sistem daripada kemenangan individu?

Namun, benarkah final itu hanya ditentukan oleh satu gol Ferran Torres? Ataukah Spanyol sesungguhnya telah memenangi pertandingan jauh sebelum bola bersarang di gawang Emiliano Martinez?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi benang merah Podcast ITSMe edisi final Piala Dunia 2026.

Dipandu Gilang Respaty dan Yatna dari Studio ITSMe di Sentul, Bogor, Senin (20/7/2026), diskusi bersama Ronny Pangemanan dan Kesit Budi Handoyo mengupas dominasi Spanyol dari sudut pandang taktik, data, hingga filosofi permainan yang membawa La Roja kembali ke puncak dunia.