Di Beranda Indonesia, Sebatik Menanti Fajar Bersama Piala Dunia
Senin, 20 Juli 2026 | 16:00
Penulis: Rojes Saragih

Sumber: Antara/M Risyal Hidayat
Sebatik, Kalimantan Utara - Dini hari biasanya adalah waktu paling sunyi di pulau ini.
Ketika jarum jam baru melewati pukul 03.00 WITA, jalan-jalan di Sebatik masih lengang. Lampu-lampu rumah menyisakan cahaya temaram, sementara sebagian besar warganya masih terlelap.
Namun Senin dini hari, 20 Juli 2026, suasananya berbeda.
BACA JUGA
Swedia Pesta Gol 5-1 Kontra Tunisia, Graham Potter Beri Sinyal Bahaya di Piala Dunia 2026
Inside Los Angeles Stadium, Venue Futuristik Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026: Babak 32 Besar! Amerika Serikat, Spanyol, Portugal & Belgia Berebut Tiket 16 Besar
Langkah-langkah kaki justru mengarah ke satu tempat: Rumah Dua Negara.
Di halaman sederhana di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, puluhan kursi plastik telah tersusun menghadap dua layar lebar. Udara perbatasan masih dingin. Asap kopi mengepul dari gelas-gelas yang digenggam warga.
Mereka datang dengan mata yang masih berat.
Tetapi tak seorang pun ingin terlambat.
Malam itu, mereka hendak menyaksikan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina.
Bagi Indonesia, Sebatik bukan sekadar pulau perbatasan.
Ia adalah beranda negeri.
Pulau yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia, itu lebih sering dikenal sebagai beranda terdepan Indonesia. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tetapi pada dini hari itu, denyut Piala Dunia terasa sama nyaringnya seperti di belahan dunia lain.

Sumber: Wikimedia Commons/Ezagren
Ada yang datang bersama anaknya.
Ada yang berjalan bersama tetangga.
Ada pula remaja yang memilih begadang demi menyaksikan dua raksasa sepak bola dunia bertarung memperebutkan trofi paling bergengsi.
Tak ada tiket stadion.
Tak ada perjalanan lintas benua.
Namun di halaman kecil itu, mereka merasa cukup dekat dengan panggung terbesar sepak bola dunia.
Jarak ribuan kilometer menuju stadion final seolah lenyap ketika bola mulai bergulir.
Semua mata mengarah ke layar.
Semua percakapan berhenti.
Sesekali tawa anak-anak memecah kesunyian.
Lalu kembali hening.
Setiap serangan membuat puluhan kepala bergerak mengikuti arah bola. Ketika peluang tercipta, napas seolah tertahan bersama.
Tak ada yang ingin berkedip.
Tak ada yang ingin melewatkan satu momen pun.
Di sela pertandingan, kopi panas, teh hangat, gorengan, kukusan, hingga soto khas Sebatik berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Tak ada yang benar-benar memikirkan kantuk.
Malam itu, mereka sedang menjaga sesuatu yang lebih besar daripada sebuah pertandingan.
Mereka sedang menjaga kebersamaan.
Waktu perlahan bergerak menuju pagi.
Lalu azan Subuh berkumandang.
Beberapa warga bangkit meninggalkan kursi. Sebagian menuju masjid. Sebagian lainnya menunaikan salat di Rumah Dua Negara.
Tak lama kemudian mereka kembali.
Kursi-kursi yang sempat kosong kembali terisi.
Pertandingan berlanjut.
Pemandangan itu terasa begitu Indonesia.
Sepak bola berhenti sejenak.
Ibadah didahulukan.
Lalu semua kembali duduk berdampingan, melanjutkan cerita yang belum selesai.
Ketika pertandingan tampak akan ditentukan melalui adu penalti, ketegangan memenuhi halaman itu.
Tak ada suara.
Hanya tatapan.
Lalu semuanya berubah dalam sekejap.
Ferran Torres mencetak gol.
Riuh langsung pecah.
Sebagian warga melompat dari kursi. Anak-anak berteriak sekencang-kencangnya. Seorang bocah bahkan berlari sambil melepas bajunya, larut dalam euforia yang mungkin akan dikenangnya bertahun-tahun kemudian.
Di sudut lain, pendukung Argentina hanya menggeleng pelan.
Sepak bola memang selalu menghadirkan dua cerita.
Tentang kemenangan.
Dan tentang menerima kekalahan.
Peluit panjang akhirnya berbunyi.
Spanyol menjadi juara dunia.
Namun ketika layar mulai dipadamkan, yang tertinggal di Sebatik bukan hanya hasil pertandingan.
Yang tersisa adalah cerita.
Cerita tentang sebuah Senin dini hari ketika warga di beranda Indonesia memilih menunda tidur demi merasakan kegembiraan yang sama dengan jutaan pencinta sepak bola di seluruh dunia.
Kegiatan nonton bareng tersebut difasilitasi oleh LKBN ANTARA sebagai bagian dari upaya menghadirkan semarak final Piala Dunia hingga ke wilayah perbatasan Indonesia.
Selain menyediakan layar lebar dan fasilitas pendukung, kegiatan itu juga melibatkan pelaku UMKM setempat yang menyajikan makanan dan minuman bagi warga, sehingga turut memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Matahari perlahan mulai mengusir gelap dari langit Sebatik.
Satu per satu warga beranjak pulang.
Sebagian masih membahas gol Ferran Torres.
Sebagian lain menggandeng anak mereka yang mulai mengantuk.
Di halaman yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi sorak-sorai, kursi-kursi plastik kembali kosong.
Piala Dunia memang dimenangkan Spanyol.
Namun bagi warga Sebatik, yang akan mereka kenang bukan sekadar siapa yang mengangkat trofi.
Mereka akan mengingat sebuah malam ketika jarak ribuan kilometer tak lagi terasa berarti.
Di beranda Indonesia, sepak bola telah membuat mereka menjadi bagian dari peristiwa yang sama.
Dan ketika fajar akhirnya benar-benar datang, Sebatik telah memiliki satu cerita baru untuk dikenang.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!