Poros Kuntul Gunung Wajah Baru Wisata Yogyakarta Jelajah Pesisir Selatan 'One Gate for All'
Senin, 13 Oktober 2025 | 16:18
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Antaranews
Ada yang baru dari dunia pariwisata Yogyakarta. Kali ini bukan tentang Malioboro atau Tugu yang ikonik, tapi tentang poros baru di sisi selatan yang sedang naik daun. Pemerintah Kabupaten Bantul, bersama Kulon Progo dan Gunungkidul, baru saja sepakat membentuk kolaborasi bernama “Kuntul Gunung”, sebuah poros wisata yang dirancang untuk memperkuat potensi pesisir selatan DIY sebagai kawasan wisata unggulan.
Langkah ini bukan cuma formalitas. Kuntul Gunung diharapkan bisa menjadi wadah kerja sama nyata tiga kabupaten yang sama-sama memiliki garis pantai panjang dan eksotis di selatan Yogyakarta.
“Tujuannya untuk koordinasi dan kerja sama pengembangan pantai selatan, karena tiga kabupaten di bagian selatan DIY ini memiliki dan berhadapan langsung dengan pantai,” ujar Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, di Bantul, Senin, 13 Oktober 2025.
BACA JUGA
Segera Dibuka! Wisata Air Baru di Bohor, Menyusuri Jalur Rahasia Penghubung Dua Situ
Tak Hanya Super Prioritas, Kemenpar Diminta Buka Rute ke Destinasi Wisata Tersembunyi
Jembatan Kabanaran Ikon Baru Selatan Yogyakarta, Menyatukan Arsitektur Modern dan Pariwisata
Dari Jembatan Pandansimo ke Kelok 23, Infrastruktur yang Mulai Tersambung
Salah satu alasan munculnya poros ini adalah karena konektivitas antarwilayah di pesisir selatan mulai terbuka lebar.
Selesainya pembangunan Jembatan Pandansimo Srandakan, misalnya, kini membuat akses dari Bantul ke Kulon Progo jadi jauh lebih mudah. Perjalanan yang dulunya agak memutar, sekarang bisa ditempuh lebih cepat dan nyaman cocok buat wisatawan yang ingin road trip lintas pantai selatan DIY.
Tak berhenti di situ, proyek besar lain juga sedang dikebut, yakni Kelok 23 di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang menghubungkan Bantul dengan Gunungkidul. Pembangunan ini termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang didukung langsung oleh pemerintah pusat.
“Itu mesti ditindaklanjuti dengan diskusi-diskusi yang lebih fokus begitu. Dan oleh Gubernur DIY, pantai selatan kita menjadi teras depan DIY. Teras depan DIY itu Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo,” kata Halim.
Yogyakarta “Ngadep Kidul”, Wajah Baru dari Selatan
Kalimat “Yogyakarta ngadep kidul” kini bukan sekadar slogan. Filosofinya adalah menjadikan wilayah selatan sebagai pintu depan pariwisata Yogyakarta. Kalau dulu wisatawan lebih banyak mengenal Yogyakarta lewat Candi Prambanan, Kaliurang, atau Malioboro, kini pantai-pantai selatan seperti Parangtritis, Glagah, dan Wediombo siap bersinar sebagai wajah baru DIY.
“Yogyakarta ngadep kidul itu dilakukan dengan menata pariwisata. Alhamdulillah, ada tiga proyek strategis nasional yakni Jembatan Pandansimo, Jembatan Kretek II, dan Kelok 23 itu melintas di Kabupaten Bantul,” ujar Halim.
Dengan tiga proyek besar itu, jalur pesisir selatan Yogyakarta perlahan membentuk koridor wisata yang saling terhubung, sesuatu yang sangat penting untuk memperkuat ekosistem pariwisata di DIY bagian selatan.
Satu Tiket, Banyak Pantai
Langkah konkret yang sedang digodok oleh Pemkab Bantul adalah penataan sistem retribusi wisata pantai. Halim menjelaskan, sistem baru yang disebut “one gate for all” nantinya memungkinkan wisatawan cukup membayar satu kali tiket untuk bisa menikmati semua pantai di Bantul dalam satu hari.
“Nanti ada ‘one gate for all’, dari pintu manapun wisatawan masuk itu bisa menikmati pantai di sepanjang Bantul dalam satu hari, bukan beda hari. Karena di dalam kawasan pantai ada jalan penghubung pantai ke pantai,” katanya.
Konsep ini jelas jadi angin segar buat para traveler muda yang gemar menjelajah. Bayangkan, cukup satu tiket bisa mampir dari Pantai Samas, lanjut ke Parangtritis, dan menutup hari dengan sunset di Pantai Kuwaru semua dalam satu jalur yang mulus dan terkoneksi.
Eksplor Selatan dari Wisata Alam Hingga Budaya Lokal
Selain keindahan pantainya, kawasan selatan DIY juga punya kekayaan budaya dan kuliner yang belum banyak terekspos. Di beberapa titik, pengunjung bisa menemukan desa wisata, kerajinan tangan lokal, sampai kuliner seafood segar yang bisa jadi daya tarik tambahan.
Poros “Kuntul Gunung” bukan cuma tentang membangun destinasi, tapi juga soal mengangkat potensi masyarakat lokal agar ikut tumbuh bersama geliat pariwisata. Jadi, setiap kunjungan wisata bukan cuma soal menikmati pemandangan, tapi juga membantu roda ekonomi warga pesisir.










