ID EN

Diversifikasi Wisata NTT: Dari Flores Daratan hingga Rote, Alternatif Baru Selain Labuan Bajo

Jumat, 27 Februari 2026 | 14:31

Penulis: Arif S

Gunung Kelimutu
Keindahan Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende, NTT.
Sumber: Antara/Kornelis Kaha

Selama bertahun-tahun, nama Labuan Bajo menjadi pintu gerbang utama bagi pelancong yang ingin menyusuri gugusan pulau eksotis di timur Indonesia. Namun, pesona Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya bertumpu pada satu destinasi saja.

Pengurus daerah Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTT mendorong diversifikasi destinasi pariwisata. 

Tujuannya agar pengembangan wisata tidak hanya terpusat pada Labuan Bajo, tetapi menjangkau wilayah lain yang selama ini tumbuh dalam senyap.

Ketua Astindo NTT, Jeme Hungga Matalu, menegaskan wilayahnya menyimpan lanskap pengalaman jauh lebih luas dari yang selama ini dikenal publik.

"NTT memiliki kekayaan destinasi beragam, mulai dari Wisata Bahari, budaya, hingga religi, yang tersebar di berbagai wilayah dan dapat menjadi alternatif pilihan wisatawan," katanya.

Flores, Sumba, hingga Alor

Bagi banyak pelancong, Flores identik dengan Komodo. Padahal Flores daratan menghadirkan danau tiga warna Kelimutu, kampung adat Wae Rebo, hingga garis pantai yang berlekuk dramatis. 

Di Sumba, hamparan savana bertemu ombak Samudra Hindia, sementara ritual adat masih menjadi denyut kehidupan sehari-hari.

Timor menawarkan jejak sejarah dan bentang alam perbukitan kering yang kontras dengan birunya laut. 

Di Alor dan Rote, bawah laut menjadi panggung utama dengan biodiversitas memikat penyelam dunia. Sabu dan Lembata, dengan tradisi dan lanskap vulkaniknya, memperkaya spektrum pengalaman.

Menurut Jeme, diversifikasi bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Menurut dia, diversifikasi destinasi penting, agar pariwisata NTT tumbuh lebih merata dan berkelanjutan.

Menjaga Kepercayaan Pasar di Tengah Dinamika

Isu penutupan sementara kawasan Konservasi kerap menimbulkan persepsi keliru. Namun, Astindo NTT memilih hadir langsung di ruang promosi nasional untuk meluruskan narasi tersebut.

Saat mengikuti ASTINDO Jakarta Travel Exchange pada 2 Februari 2026 dan ASTINDO Travel Fair 2026 pada 5–8 Februari 2026, mereka mempromosikan potensi wisata di luar Labuan Bajo kepada buyer, mitra industri, dan calon wisatawan.

Menurut Jeme, kehadiran Astindo NTT dalam dua agenda tersebut merupakan strategi komunikasi untuk menjaga kepercayaan pasar.

“Karena itu, penting bagi kami untuk hadir langsung menjelaskan kepada pasar bahwa pariwisata NTT tetap berjalan. Banyak destinasi lain yang siap dikunjungi dan menawarkan pengalaman wisata yang tidak kalah menarik,” ujarnya.

Dari B2B ke B2C: Menguatkan Fondasi Pariwisata Berkelanjutan

ASTINDO Jakarta Travel Exchange menjadi forum business to business (B2B) yang mempertemukan ratusan buyer dari dalam dan luar negeri. 

Di sana, jejaring dibangun dan narasi destinasi disampaikan langsung kepada pasar global.

Sementara ASTINDO Travel Fair 2026 membuka ruang business to consumer (B2C), mempertemukan pelaku industri dengan wisatawan secara langsung, memberi edukasi destinasi, memperkenalkan paket perjalanan, sekaligus memperkuat rasa percaya di tengah tantangan industri.

Harapannya, promosi dengan fokus pada diversifikasi destinasi dapat memperluas manfaat ekonomi ke berbagai daerah, bukan hanya satu simpul wisata.

Langkah ini memperkuat posisi NTT sebagai destinasi yang tanggap, bertanggung jawab, dan berdaya tahan menghadapi dinamika.(Antara)

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!