Menyelamatkan Hiu Zebra di Raja Ampat, Misi Besar di Surga Bawah Laut Dunia
Kamis, 19 Februari 2026 | 12:19
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Prisca Triferna
Raja Ampat menjadi tempat hidup dan berkembang 75 persen spesies Terumbu Karang global, menjadikannya salah satu pusat keanekaragaman hayati laut paling penting di bumi. Di antara penghuni perairan tersebut, hiu zebra (Stegostoma tigrinum) pernah menjadikan Raja Ampat sebagai rumah, tempat mereka mencari makan dan berkembang biak.
Kisah itu sempat terhenti. Praktik pengeboman dan perburuan hiu di wilayah Indo-Pasifik mengakibatkan penurunan drastis Populasi Hiu Zebra selama beberapa tahun terakhir.
Data dari lembaga Konservasi Conservation International menunjukkan betapa langkanya spesies ini terlihat. Dalam 15.000 jam pengamatan sepanjang 2001–2021, hanya tiga individu hiu zebra yang tercatat.
BACA JUGA
Kuota Wisatawan TN Komodo 1.000 Orang per Hari Dievaluasi 3-6 Bulan Lagi
Menyelami Rahasia di Balik 10 Destinasi Wisata Prioritas Indonesia
6 Keindahan Alam Indonesia yang Bikin Dunia Terpukau di 2026
Para pakar dalam Proyek Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery (StAR) memperkirakan tersisa sekitar 20 individu, tersebar di 6 juta hektare wilayah Kepulauan Raja Ampat.
Statusnya pun dianggap punah secara fungsional di kawasan ini. Artinya. jumlahnya terlalu sedikit untuk mempertahankan populasi yang sehat secara alami.
Kehilangan hiu zebra bukan sekadar kehilangan satu spesies. Sebagai predator kunci dan indikator kesehatan lingkungan, keberadaan mereka berperan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang.
Hilangnya mereka berarti terganggunya rantai makanan dan pada akhirnya menghilangkan kesempatan Generasi Muda Papua untuk mengenal salah satu ikon lautnya sendiri.
Di Pulau Kri, dari Raja Ampat Research and Conservation Center (RARCC), Yolanda Wamaer bekerja dalam senyap namun penuh makna.
Ia adalah edukator konservasi di ReShark, salah satu inisiator Proyek StAR, sekaligus perempuan asli Papua yang terlibat langsung dalam upaya memulihkan populasi hiu zebra di perairan ini.
Melalui pendidikan konservasi yang menyasar masyarakat dan anak-anak sekolah, Yolanda berusaha menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga laut.
"Bahwa sebelum adanya konservasi, hewan-hewan laut, khususnya hiu di sini, banyak masyarakat yang mengonsumsi. Jadi, kita ingin agar hal-hal demikian tidak berdampak terus ke anak-anak yang masih usia belia. Jadi, harus sebisa mungkin kita edukasikan agar kegiatan tersebut tidak merusak lagi," kata Yolanda.
Upaya mengembalikan hiu zebra ke Raja Ampat bukan sekadar proyek ilmiah tetapi perjalanan pulang predator lembut bercorak tutul itu ke rumah yang pernah mereka jaga.
Di antara arus hangat Pasifik dan taman karang berwarna-warni, harapan itu kini tumbuh perlahan.
Di jantung Segitiga Terumbu Karang, kisah kebangkitan hiu zebra menjadi pengingat bahwa surga bawah laut tak hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipulihkan dan diwariskan.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!