Nusa Penida dan Mimpi Green Island: Menjaga Surga Tersembunyi Tetap Lestari
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:20
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Di tenggara Bali, tebing kapur menjulang di atas laut biru, membingkai lanskap dramatis yang selama bertahun-tahun menjadi rahasia para penjelajah. Nusa Penida kerap disebut sebagai permata yang belum sepenuhnya diasah. Liar, indah dan memikat.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto melihat potensi itu sebagai fondasi bagi masa depan Pariwisata Berkelanjutan.
Dalam kunjungannya ke Kabupaten Klungkung, Bali, ia bahkan menyebut kawasan tersebut sebagai hidden paradise atau surga tersembunyi yang belum sepenuhnya tersentuh.
BACA JUGA
Bali di Puncak Dunia, Destinasi Wisata Terbaik Pilihan Pelancong Global
Tren Wisata Kebugaran: Indonesia Andalkan Bali, Jogja dan Solo Sebagai Destinasi
Pemerintah Pastikan Wisata Lebaran Aman dan Nyaman untuk Traveler
“Saya ingat dulu waktu saya kecil itu ada komik tentang Nusa Penida. Nah, sekarang begitu ke sini kesan utama saya adalah ini hidden paradise yang belum tersentuh,” ujar Bima, Senin.
Pernyataan itu disampaikan usai Dialog dan Pemaparan Potensi Wisata Nusa Penida oleh Bupati Klungkung di Seven Dreams Hotel, Kabupaten Klungkung, Bali.
Green Island Sebagai Arah Baru
Bima mendorong Pemerintah Kabupaten Klungkung untuk mematangkan Konsep Green Island sebagai arah pengembangan Nusa Penida.
Gagasan yang dipaparkan Bupati Klungkung I Made Satria dinilainya sebagai konsep strategis.
Menurutnya, pendekatan Green Island tidak bisa setengah hati. Pendekatan ini harus mencakup pengelolaan sampah yang efektif, pemanfaatan energi terbarukan, pembatasan kendaraan bermotor, hingga penguatan budaya lokal sebagai identitas kawasan.
“Jadi kalau saya sarankan Pak, ini konsep Green Island ini kita matangkan, terintegrasi semua, dan kemudian dari situ diturunkan, mana yang kita kejar dari pinjaman, mana yang kita kejar dari korporasi, mana yang dari CSR (corporate social responsibility), mana yang dari investor gitu,” tegasnya.
Bagi destinasi yang tengah naik daun seperti Nusa Penida, konsep ini menjadi kerangka untuk menjaga keseimbangan ANTARA kunjungan dan Konservasi.
Integrasi Tata Ruang dan Kekuatan Sosial
Bima menekankan pentingnya keterpaduan antara visi besar dengan dokumen resmi seperti Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Konsep Green Island, harus benar-benar terakomodasi dalam perencanaan pemerintah daerah agar tidak berhenti sebagai wacana.
Ia mengingatkan pembangunan fisik semata tidak cukup. Desain kawasan yang baik harus berjalan beriringan dengan pembangunan sosial dan karakter masyarakat setempat. Tanpa fondasi social kuat, infrastruktur berkelanjutan sulit bertahan.
Nusa Penida kini berada di titik krusial. Popularitasnya terus meningkat, foto-foto tebing dan pantainya beredar luas di media sosial, dan arus wisatawan semakin deras.
Namun, di balik euforia itu, tersimpan tantangan. Infrastruktur dan ekosistem pendukung harus dibenahi seiring dengan pertumbuhan kunjungan. Tanpa percepatan pembenahan, ekspektasi tinggi wisatawan bisa berubah menjadi kekecewaan.










