78,2 Persen Masih Rintisan, Pemerintah Genjot Transformasi Desa Wisata
Kamis, 12 Februari 2026 | 17:30
Penulis: Arif S

Sumber: Antara Foto/Ahmad Subaidi
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mempercepat Penguatan Desa Wisata di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini sebagai upaya membangun ekonomi berbasis komunitas dengan memanfaatkan potensi lokal yang sudah ada.
“Kita kerjakan sama-sama. Konsepnya harus mudah dikerjakan oleh desa dengan segala keterbatasannya. Kita buat panduan tertulis dan visualnya juga supaya mudah dipahami dan dikenal, dan RAB agar masyarakat desa juga tidak bingung. Nanti kita carikan pembiayaannya,” ujar Wakil Menteri Desa (Wamendes) Ahmad Riza Patria saat bertemu Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa di Jakarta, Kamis.
Peta Potensi Desa, Kunci Pengembangan Berkelanjutan
BACA JUGA
Wisman Serbu Indonesia, Kunjungan Naik 12,3 Persen dalam Setahun Capai 14,85 Juta
Kemenpar Bidik Wisatawan Makau, Ini Strategi Promosi Indonesia di Asia Timur
Pemerintah Pastikan Wisata Lebaran Aman dan Nyaman untuk Traveler
Ariza, sapaan Wamendes, menjelaskan konsep dan silabus penguatan desa wisata akan dibentuk berdasarkan peta potensi yang dimiliki masing-masing desa.
Pendekatan ini penting agar kerja sama dua kementerian berjalan efektif dan efisien, sekaligus memastikan setiap desa berkembang sesuai karakter uniknya.
Indonesia memiliki 6.189 desa wisata yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun, data menunjukkan tantangan besar masih menghadang.
Sebanyak 78,2 persen desa wisata masih tergolong rintisan, 16,11 persen berkembang, 5,14 persen maju, dan hanya 0,5 persen berstatus mandiri.
Angka ini menunjukkan potensi luar biasa sekaligus pekerjaan rumah yang mendesak.
“Salah satu pembangunan bangsa memang sektor pangan, tapi juga ditambah pariwisata. Indonesia kalau mau maju dua sektor itu paling utama,” kata Ariza.
Dalam lanskap global yang semakin menghargai pengalaman autentik dan keberlanjutan, desa wisata menjadi jawaban atas tren wisata berbasis komunitas (community-based tourism).
Desa bukan hanya menawarkan panorama, tetapi juga cerita, kearifan lokal, hingga interaksi manusia yang hangat—sesuatu yang tak bisa digantikan oleh destinasi buatan.
Roadmap Desa Wisata dan Peran UMKM
Keresahan atas kondisi desa wisata yang masih didominasi kategori rintisan juga dirasakan oleh Wamenpar Ni Luh Puspa.
Kolaborasi dengan Kemendes PDT menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi desa wisata agar lebih terarah dan berkelanjutan.
“Tahun ini kita akan membuat roadmap pembuatan desa wisata, sehingga pengembangan desa wisata bisa jalan maksimal dan terarah lagi. Karena tidak hanya objek wisata tapi juga ada pelaku UMKM, ada homestay, ada banyak sekali yang terkait. Ini perlu pendampingan dan menguatkan fasilitas infrastruktur,” kata Wamenpar.
Desa wisata bukan sekadar membangun spot foto atau panggung Atraksi Budaya. Ia adalah ekosistem yang melibatkan UMKM, pengelola homestay, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga pendamping desa.
Bahkan, sektor swasta dengan pengalaman bisnis juga akan dilibatkan untuk memperkuat tata kelola dan keberlanjutan usaha.
Media sosial menjadi senjata baru dalam memperluas jangkauan promosi. Dari desa terpencil, kisah tentang Air Terjun Tersembunyi hingga kopi lereng gunung, kini bisa menjangkau wisatawan internasional hanya lewat layar ponsel.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!