Indra Sjafri Bongkar 5 Fondasi Wajib Jika Indonesia Ingin Tampil di Piala Dunia
Rabu, 4 Februari 2026 | 10:28
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Donny Aditra
Mimpi Indonesia tampil di Piala Dunia bukan lagi sekadar wacana emosional tetapi membutuhkan peta jalan yang jelas, konsisten, dan berani dieksekusi. Praktisi Sepak Bola sekaligus mantan pelatih tim nasional Indonesia, Indra Sjafri, memaparkan lima langkah mendasar yang harus ditempuh PSSI jika ingin membawa Garuda terbang ke panggung sepak bola tertinggi dunia.
Berbicara dalam Dialog Meja Bundar bertema “Piala Dunia 2026, pers, dan peradaban publik kita, siaran Olahraga sebagai ruang edukasi, literasi, dan penguatan nilai kepublikan” di Auditorium Bung Karno LPP TVRI, Jakarta, Selasa, Indra menegaskan target realistis Indonesia bukan esok hari, melainkan pembangunan jangka panjang dengan horizon Piala Dunia 2034.
Fondasi pertama dimulai dari pembangunan infrastruktur. Menurut Indra, pembenahan tidak boleh terjebak pada proyek stadion megah di kota besar semata. Akar Sepak Bola Indonesia justru berada di desa-desa, tempat bibit pemain lahir dan berkembang.
BACA JUGA
Indra Sjafri Dipecat Usai Garuda Muda Gagal Penuhi Target SEA Games 2025 Thailand
Era Baru Siaran Bola! YouTube Jadi Platform Piala Dunia 2026
Harga Tiket FIFA Series 2026 Dirilis, Cek Skema Penjualan dan Cara Pemesanan
"Infrastruktur bukan hanya membangun stadion di kota, lapangan sepak bola di desa juga harus diperbaiki," ujar Indra.
Tanpa akses lapangan yang layak sejak usia dini, proses pembinaan akan timpang sejak awal. Ia menilai Indonesia masih membutuhkan pembenahan mendasar agar peluang menembus Piala Dunia menjadi realistis, bukan sekadar mimpi kolektif.
Langkah kedua adalah pembaruan kurikulum sepak bola nasional. Sepak bola modern bergerak cepat—baik dalam hal intensitas, taktik, maupun pendekatan sains olahraga.
Kurikulum yang stagnan hanya akan membuat Indonesia tertinggal dari negara-negara yang terus beradaptasi dengan tren global.
Bagi Indra, kurikulum adaptif adalah fondasi agar metode latihan dan filosofi permainan selaras dengan perkembangan Sepak Bola Dunia.
Pilar ketiga menyentuh aspek yang kerap luput dari sorotan public yaitu ketersediaan pelatih berkualitas dan berlisensi A Pro. Indra menyebut angka yang mencerminkan tantangan besar Indonesia saat ini.
Indonesia, lanjutnya, baru memiliki 44 orang pelatih berlisensi A Pro. Jumlah itu kontras jika dibandingkan dengan Jepang yang telah memiliki ribuan pelatih dengan lisensi serupa—sebuah investasi sumber daya manusia yang berdampak langsung pada kualitas pemain.
Langkah keempat adalah membangun jalur pembinaan pemain yang jelas dan terstruktur. Dari usia dini hingga level profesional, setiap pemain harus melalui sistem berjenjang yang saling terhubung.
Tanpa kesinambungan, talenta berpotensi terputus di tengah jalan sebelum mencapai level tertinggi.
Struktur pembinaan yang rapi diyakini mampu menciptakan konsistensi kualitas dan karakter pemain dari generasi ke generasi.
Terakhir, Indra menekankan pentingnya penguatan kompetisi usia muda sebagai fondasi regenerasi jangka panjang. Kompetisi yang rutin dan berkualitas bukan hanya soal jam terbang, tetapi juga pembentukan mental bertanding dan daya saing sejak dini.
Terkait poin ini, Indra memberikan apresiasi kepada PSSI yang dinilai mulai mengambil langkah konkret.
"Kalau lima hal ini diperbaiki, baru cita-cita 2034 bisa dibicarakan," pungkasnya.










