PSSI Evaluasi Format Lama, Piala Presiden 2026 Bisa Lebih Inovatif
Senin, 13 April 2026 | 16:28
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: AntaraNews
Rencana penyelenggaraan Piala Presiden 2026 mulai mengerucut. PSSI tengah mengkaji kemungkinan perubahan format turnamen pramusim bergengsi tersebut agar lebih relevan dengan perkembangan sepak bola nasional.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa pihaknya masih mematangkan konsep Piala Presiden edisi kedelapan, termasuk potensi format baru yang berbeda dari musim-musim sebelumnya.
"Tadi Pak Ara ( Maruarar Sirait, Ketua Steering Committe Piala Presiden 2025) punya komitmen, dan untuk Piala Presiden yang kedelapan ini sedang kita godok lagi," kata Erick kepada wartawan setelah penutupan Piala Presiden 2025 di Jakarta, Minggu, 12 April 2026.
BACA JUGA
Jadwal Padat Menanti, Ujian Awal John Herdman Bersama Timnas Indonesia
Dipecat PSSI, Patrick Kluivert Bukan Pelatih Tersingkat di Kursi Panas Timnas Indonesia
Erick Thohir Tegaskan Makna PSSI Awards 2026, dari Pemain hingga Grassroots
"Tapi intinya kita juga mau semua gubernur, bupati harus berkontribusi ya, supaya sepak bola ini bisa terus bergelora. Mudah-mudahan dengan format ini juga nanti kita diskusikan lagi gitu," tambah dia.
Evaluasi Format Lama, Peluang Format Baru
Selama tujuh edisi sebelumnya, Piala Presiden diikuti oleh 6 hingga 20 klub dari berbagai kasta, mulai dari Liga 1 hingga Liga 2, bahkan melibatkan tim luar negeri pada edisi terakhir.
Format yang digunakan relatif konsisten, yakni fase grup di awal turnamen sebelum berlanjut ke babak gugur hingga final.
Namun, dinamika Sepak Bola Indonesia yang terus berkembang membuat PSSI membuka peluang untuk melakukan penyegaran format agar kompetisi semakin kompetitif dan inklusif.
Piala Presiden 2025 menjadi edisi dengan jumlah peserta paling sedikit, yakni hanya enam tim. Turnamen yang digelar pada 6-13 Juli itu dimenangkan oleh klub Thailand, Port FC, setelah mengalahkan Oxford United di partai final.
Kehadiran klub internasional dinilai memberi warna baru dan meningkatkan kualitas kompetisi.
Erick pun mengakui bahwa partisipasi tim luar negeri memberikan dampak positif dan membuka peluang kolaborasi di masa depan.
"Mereka juga ada keinginan untuk kembali. Tapi kembali kita lagi lihat formulanya dulu, formatnya. Karena memang pembangunan tim nasional sudah terjadi, Liga 1, Liga 2 juga klub-klub besar sudah terjadi," kata dia.
Jadwal Fleksibel, Menyesuaikan Piala Dunia 2026
Selain format, jadwal penyelenggaraan juga masih dalam tahap pembahasan. Erick menyebut bahwa Piala Presiden 2026 belum tentu digelar pada bulan Juli seperti edisi sebelumnya.
Hal ini tak lepas dari padatnya kalender sepak bola internasional, termasuk adanya Piala Dunia 2026.
"Belum tahu karena memang kompleksitas tahun ini kan ada kejuaraan Piala Dunia," ungkap dia.
PSSI juga ingin memperluas keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dalam mendukung perkembangan sepak bola nasional.
Erick menegaskan pentingnya kontribusi dari level kabupaten, kota, hingga provinsi agar pembinaan sepak bola semakin merata.
"Nah, memang ada pemikiran bagaimana kontribusi untuk klub-klub yang ada di kabupaten, kota, dan tingkat tentu provinsi. Ini yang perlu kita libatkan lagi. Tapi belum tuntas, nanti kasih waktu hari Kamis ya," lanjut dia.
Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa keberhasilan turnamen tidak lepas dari kerja sama seluruh elemen sepak bola nasional.
"Ingat, dalam sepak bola tidak ada superman, yang ada super tim. Yaitu klub, manajer, pemain, media, sponsor, regulator, pemerintah daerah, TNI, dan Polri yang membantu keamanan. Dan semua itu menjadi satu kesatuan ekosistem yang terkontrol," kata Ara.










