ID EN

Dibayangi Ketegangan dengan China, Pariwisata Jepang Tetap Melejit di 2025

Kamis, 29 Januari 2026 | 16:30

Penulis: Arif S

Osaka salah satu destinasi wisata favorit di Jepang
Osaka salah satu kota destinasi wisata favorit di Jepang.
Sumber: Envato

Jepang mencatatkan tonggak baru dalam sejarah pariwisata. Sepanjang tahun 2025, negeri kepulauan ini menerima 42,7 juta kedatangan wisatawan, melampaui rekor tahun sebelumnya 37 juta kunjungan.

Data dari Kementerian Transportasi Jepang menunjukkan lonjakan terjadi di tengah kekhawatiran serius pemerintah terhadap memburuknya hubungan diplomatik dengan China sejak November 2025. 

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. China selama ini menjadi sumber wisatawan terbesar bagi Jepang, dengan hampir 7,5 juta pengunjung dalam sembilan bulan pertama 2025. 

Jumlah itu sekitar seperempat dari total Wisatawan Mancanegara yang datang ke Negeri Sakura.

Dilansir Japan Today, situasi menjadi semakin rumit ketika pemerintah China melarang warganya berlibur ke Jepang. 

Dampaknya mulai terasa pada akhir tahun. Badan Pariwisata Jepang atau Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat penurunan jumlah Wisatawan China pada Desember 2025.

Jumlah wisatawan pada akhir tahun lalu 330.300 orang, turun signifikan dibanding November sebanyak 562.600 orang dan Oktober 715.700 orang.

Namun Jepang tak kehilangan daya tariknya. Arus wisatawan dari Australia, Eropa, dan Amerika Serikat justru meningkat, menutup celah yang ditinggalkan pasar China. 

Menteri Transportasi Yasushi Kaneko menyebut capaian ini sebagai momen bersejarah bagi pariwisata nasional.

"Meski Kunjungan Wisatawan China pada Desember menurun, kami mendapatkan cukup banyak wisatawan dari beberapa negara dan wilayah lain untuk mengimbanginya," ujarnya.

Ia juga menegaskan optimisme pemerintah terhadap pemulihan pasar China sesegera mungkin.

Peningkatan kunjungan ini tak lepas dari Promosi Pariwisata yang agresif dan terencana. 

Pemerintah Jepang mencanangkan target 60 juta wisatawan per tahun pada 2030. 

Namun, overtourism masih membayangi destinasi ikonik seperti Kyoto dan Gunung Fuji, sementara perilaku wisatawan yang tak tertib memicu ketegangan dengan warga lokal. 

Pemerataan distribusi turis menjadi pekerjaan rumah besar, agar keindahan Jepang tidak hanya dinikmati, tetapi juga dijaga keberlanjutannya.