ID EN

Bidik Wisatawan Timur Tengah dan Australia, Museum NTB Jadi Ujung Tombak Promosi Wisata

Kamis, 29 Januari 2026 | 12:00

Penulis: Arif S

Koleksi Museum NTB dalam pameran di Jeddah
Arsip - Koleksi Museum NTB dalam pameran di Jeddah, Arab Saudi.
Sumber: Antara/HO-Museum NTB

Di balik etalase sejarah dan artefak budaya, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi jembatan diplomasi kebudayaan dengan dunia. Melalui Strategi Promosi Pariwisata berbasis budaya, Museum NTB membidik dua pasar internasional utama, Arab Saudi dan Australia, yang dinilai memiliki kedekatan strategis.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam menyebut pemilihan kedua negara tersebut bukan tanpa alasan, melainkan hasil pembacaan atas arus pergerakan wisatawan global dan keterkaitan historis maupun geografis dengan NTB.

"Ketika kami ingin melakukan promosi atau second diplomacy, maka kami harus mencari negara yang punya kaitan dengan NTB," ujarnya, Selasa.

Arab Saudi dipilih sebagai pintu masuk kawasan Timur Tengah dengan pertimbangan dinamika perjalanan ibadah haji. 

Setiap tahun, jutaan jemaah dari Indonesia berangkat ke Tanah Suci. Pesawat yang membawa mereka kerap kembali ke Tanah Air tanpa penumpang. Momentum inilah yang dilihat Museum NTB sebagai peluang pariwisata pasca-haji.

Menurut Nuralam, pada periode tertentu, kota-kota suci di Arab Saudi justru menjadi terlalu padat bagi warganya.

"Ketika musim haji mereka (Wisatawan Arab Saudi) mencari negara untuk berlibur karena Mekah dan Madinah serta kota-kota lain yang ada di Arab Saudi padat, mereka datang ke Indonesia," kata Nuralam.

Melalui pameran dan promosi kebudayaan di luar negeri, Museum NTB berharap dapat memperkenalkan NTB sebagai Destinasi Alternatif, menawarkan lanskap tropis, tradisi hidup, dan ruang berlibur yang lebih tenang. 

Upaya ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan Arab Saudi untuk menjadikan NTB sebagai tujuan liburan, terutama saat musim liburan mereka.

Sementara itu, Australia dipandang sebagai mitra alami NTB dalam pengembangan pariwisata internasional. 

Selain memiliki konektivitas penerbangan kuat dengan Indonesia, jarak geografis yang relatif dekat menjadikan NTB relevan sebagai destinasi lanjutan atau alternatif dari Bali.

Nuralam melihat adanya pergeseran preferensi wisatawan Australia yang mulai mencari pengalaman baru di luar Pulau Dewata.

"Kami berharap NTB bisa menjadi pilihan baru karena dekat dengan Bali. NTB punya budaya pariwisata yang tidak mahal dan karakter masyarakat yang ramah," paparnya.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Museum NTB telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga budaya ternama di Australia, termasuk Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Art Gallery South Australia (AGSA), dan Australian Museum. 

Kolaborasi ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga diwujudkan melalui pertukaran pengetahuan dan kegiatan kuratorial bersama.

Pada 2 Desember 2025, Museum NTB menggelar lokakarya bersama tiga Museum Australia tersebut. Fokusnya pada perawatan keris dengan menghadirkan kurator pewarangan dari Paguyuban Anjani sebagai narasumber. 

Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana artefak tradisional dapat berfungsi sebagai duta budaya lintas negara.

Melalui pendekatan diplomasi budaya, Museum NTB tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan Pariwisata NTB di peta global.