ID EN

Jalur Pelayaran Kapal Wisata Labuan Bajo Ditutup Sementara, Ini Penyebabnya

Rabu, 28 Januari 2026 | 18:00

Penulis: Arif S

Sejumlah kapal berlabuh di Pelabuhan Labuan Bajo
Sejumlah kapal berlabuh di Pelabuhan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Sumber: Antara/Gecio Viana

Langit biru dan laut tenang adalah dua elemen yang selama ini membentuk citra Labuan Bajo sebagai gerbang petualangan menuju Taman Nasional Komodo. Namun, di balik pesona tersebut, alam juga menyimpan ritmenya sendiri. Dalam beberapa hari ke depan, denyut aktivitas Wisata Bahari di Labuan Bajo harus melambat sejenak.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menutup sementara jalur pelayaran bagi Kapal Wisata akibat Cuaca Ekstrem yang melanda perairan setempat. 

Penutupan ini berlaku untuk seluruh wilayah perairan Manggarai Barat, kawasan yang menjadi tulang punggung wisata laut Labuan Bajo.

Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo Stephanus Risdiyanto mengatakan kebijakan tersebut diambil demi keselamatan pelayaran dan wisatawan.

“Ditutup sementara mulai tanggal 27 hingga 29 Januari 2026 sampai cuaca membaik kembali berdasarkan informasi dari BMKG,” ujarnya.

Keputusan ini berdampak langsung pada kapal-kapal wisata yang biasa mengantar wisatawan menyusuri pulau-pulau eksotis, perairan karang, dan habitat komodo. 

KSOP mengimbau para nakhoda untuk tidak memaksakan pelayaran dan memastikan seluruh kapal berada dalam kondisi laik laut.

“Mesin kapal juga harus dalam keadaan standby,” katanya.

Selain itu, para nakhoda diminta saling berbagi informasi jika mengetahui adanya potensi bahaya cuaca di laut. 

Kapal-kapal yang sudah berada di perairan Manggarai Barat diminta menyesuaikan rencana pelayaran, berlabuh, atau melakukan mooring di area yang terlindung dari gelombang tinggi dan arus kuat.

KSOP juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemilik kapal, Basarnas, dan Syahbandar apabila kondisi cuaca semakin memburuk, sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang tidak diinginkan.

Penutupan jalur pelayaran ini sejalan dengan peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tenau. 

BMKG mencatat adanya sistem tekanan rendah di sekitar Teluk Carpentaria, Australia bagian utara, yang memicu pertemuan dan perlambatan angin serta meningkatkan potensi hujan di wilayah NTT.

Pola angin di wilayah ini umumnya bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan 10–40 knot. Kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter, terutama di Selat Sape bagian utara, perairan utara Flores, dan Selat Flores.

Bagi wisatawan, penutupan sementara ini menjadi pengingat bahwa perjalanan di kawasan kepulauan tropis bukan hanya soal keindahan, tetapi juga tentang menghormati dinamika alam. Labuan Bajo mungkin sedang berhenti sejenak, namun keselamatan tetap menjadi bagian terpenting dari setiap petualangan.