Game Plan Dinilai Sudah Tepat, Tapi Kenapa Timnas Tetap Kalah? Ini Kata Pengamat!
Kamis, 9 Oktober 2025 | 14:16
Penulis: Arif S

Sumber: Antara
Kekalahan 2-3 dari Arab Saudi bukan hanya soal gol semata, tetapi juga bagaimana Timnas Indonesia gagal beradaptasi di tengah pertandingan.
Menurit pengamat sepakbola Indonesia, Mohamad Kusnaeni, masalah utama bukan pada rencana awal, melainkan pada eksekusi dan respons terhadap perubahan situasi.
"Game plan yang dibuat pelatih juga sesuai prediksi banyak orang. Sayangnya, game plan ini tidak bisa dieksekusi dengan baik," ujar Mohamad Kusnaeni, Kamis 10 Oktober 2025.
BACA JUGA
Kualifikasi Piala Dunia 2026: Garuda Hadapi Jalan Terjal, Kluivert Tetap Optimistis
Patrick Kluivert Dipecat, Rizky Ridho: Kami Semua Gagal Bersama
Patrick Kluivert Bingung Soal Masa Depannya di Timnas Usai Gagal ke Piala Dunia 2026
Ia menilai Indonesia sebenarnya punya peluang besar menang di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah.
Garuda memulai laga dengan percaya diri dan sempat unggul lebih dulu. Namun, peluang itu hilang karena banyak kesalahan sendiri.
Menurut Kusnaeni, Patrick Kluivert sudah menyiapkan formasi 4-2-3-1 dengan double pivot Joey Pelupessy dan Marc Klok untuk meredam agresivitas lawan.
Pemain cepat seperti Miliano Jonathan dan Beckham Putra juga dipasang untuk mengancam dari sisi sayap.
Meski secara konsep menarik, lini tengah justru menjadi titik lemah. Duet gelandang bertahan terlalu sering kalah duel dan tidak tampil kompak.
"Lemahnya lini tengah membuat keseimbangan permainan jadi timpang," katanya.
Dominasi Arab Saudi di tengah membuat alur serangan Indonesia tersendat.
Bola berkali-kali dialihkan ke sisi lapangan dan mudah diantisipasi lawan. Situasi makin sulit saat kesalahan demi kesalahan muncul dari para pemain.
Menurut Kusnaeni, inilah momen di mana pelatih seharusnya merespons cepat—sayangnya hal itu tidak terjadi. Ia menilai permainan terlihat monoton dan minim kreativitas, terutama setelah Indonesia tertinggal 1-2.
Pergantian pemain dinilai terlambat.
Setelah kebobolan lagi di awal babak kedua, barulah Kluivert memasukkan Ole Romeny dan Thom Haye.
Efeknya langsung terasa: keseimbangan permainan mulai terbentuk, lini tengah lebih hidup, dan serangan lebih terarah.
"Sayangnya, tidak cukup waktu untuk mengejar gol tambahan dan membalikkan keadaan. Apalagi beberapa peluang kita juga gagal menjadi gol," katanya.
Kusnaeni berharap kekalahan ini menjadi alarm penting. Bukan hanya soal taktik awal, tapi soal keberanian membaca pertandingan dan mengambil keputusan cepat.
Pada laga berikutnya melawan Irak, ia menekankan pentingnya pemilihan pemain yang lebih jeli dan respons pelatih yang lebih sigap ketika game plan tidak berjalan sesuai harapan.(Antara)










