ID EN

Patrick Kluivert Dipecat, Rizky Ridho: Kami Semua Gagal Bersama

Senin, 20 Oktober 2025 | 12:46

Penulis: Respaty Gilang

Rizky Ridho
Rizky Ridho.
Sumber: Antaranews

Bagi Rizky Ridho, mengenakan jersey merah putih selalu tentang kebanggaan. Tapi kali ini, ada nada getir di balik kata-katanya. Ia baru saja menyaksikan babak baru dalam perjalanan Timnas Indonesia. Patrick Kluivert, pelatih asal Belanda yang didatangkan dengan harapan besar namun tak bisa memenuhi ekspektasi akhirnya resmi dipecat oleh PSSI.

Keputusan itu diumumkan oleh PSSI, yang menyatakan kedua pihak sepakat mengakhiri kerja sama lebih cepat lewat mekanisme mutual termination. Padahal, kontrak Kluivert sejatinya berdurasi dua tahun.

“Coach Patrick juga pelatih bagus, pergantian ini mungkin hasil dari kemarin beliau gagal, sama kami juga sebagai pemain. Jadi, beliau dikeluarkan dari Timnas Indonesia,” ujar Ridho ketika ditemui usai sesi latihan bersama Persija Jakarta.

Kata-kata itu sederhana, tapi terasa berat. Dalam kalimatnya, terselip kesadaran bahwa kegagalan tidak berdiri sendiri tapi kolektif. Baik pelatih maupun pemain, semuanya terlibat dalam hasil yang sama, mimpi Piala Dunia 2026 yang kandas di ronde keempat.

Padahal, sejak awal kedatangannya, Kluivert sempat membawa angin baru. Dengan pengalaman bermain di klub raksasa seperti Barcelona dan Ajax, publik berharap ia bisa menanamkan DNA sepak bola Eropa modern di skuad Garuda.
Namun, perjalanan Timnas di babak kualifikasi terasa seperti roller coaster, penuh semangat, tapi kehilangan momentum di saat genting.

Antara Ekspektasi dan Realitas

Ketika ditanya tentang sosok pelatih ideal untuk Timnas ke depan, Ridho memilih untuk tidak berspekulasi. 

“Kalau itu saya tidak tahu. Harapannya semoga sukses dan target-target terpenuhi,” katanya singkat.

Pernyataannya menunjukkan kedewasaan seorang pemain muda yang tumbuh dalam sistem yang terus berubah.
Dalam empat tahun terakhir, Timnas Indonesia sudah berganti pelatih lebih dari tiga kali dari Shin Tae-yong, Indra Sjafri (interim), hingga Patrick Kluivert.

Pergantian itu menggambarkan satu hal, stabilitas masih jadi barang langka dalam sepak bola nasional.

Meski begitu, Ridho mengakui ada banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Kluivert. Mulai dari pendekatan profesional, komunikasi yang terbuka dengan pemain, hingga visi taktik yang menekankan progresi cepat dari belakang, sebuah gaya yang mirip dengan permainan Belanda modern.

“Ya, tentunya semuanya kecewa tidak bisa ke Piala Dunia 2026, ini mimpi kita semuanya,” ujar Ridho.

“Dari awal sudah bekerja keras dengan mengganti pelatih dan banyak pemain datang, pemain baru, dan ya, kami gagal. Kami akan evaluasi lagi,” tambahnya.

Dari Kegagalan Menuju Rebuild

Bagi publik sepak bola Indonesia, kegagalan kali ini memang pahit. Namun di balik itu, ada momentum untuk evaluasi besar-besaran. PSSI kini dihadapkan pada keputusan besar mencari pelatih baru yang tak hanya mampu membangun taktik, tapi juga menyatukan visi dan karakter pemain lokal dengan kultur kompetisi modern.

Nama-nama seperti Thomas Doll, Boaz Solossa (untuk tim pelatih lokal), hingga penerus dari Eropa Timur mulai ramai disebut di media. Tapi siapa pun yang datang, tantangannya akan sama, membangun kembali semangat Garuda yang sempat patah.

Di tengah situasi itu, sosok seperti Ridho menjadi penting. Di usia muda, ia sudah menjadi bagian dari generasi transisi, generasi yang harus belajar dari kegagalan, tapi juga tetap percaya pada masa depan.

Mungkin, justru dari kegagalan inilah Indonesia bisa memulai sesuatu yang baru. Karena dalam sepak bola, seperti dalam hidup, tidak ada perjalanan besar tanpa luka di awal.