ID EN

Brahim Diaz Minta Maaf ke Rakyat Maroko Setelah Penalti Panenka Gagal di Final Piala Afrika 2025

Rabu, 21 Januari 2026 | 08:00

Penulis: Arif S

Penyerang Maroko Brahim Diaz
Penyerang Maroko Brahim Diaz.
Sumber: Antaranews/x.com/CAF_Online

Penyesalan mendalam menyelimuti Brahim Diaz setelah momen paling menentukan dalam karier internasionalnya berakhir dengan kegagalan. Penyerang Real Madrid itu menjadi sorotan usai gagal mengeksekusi penalti pada Final Piala Afrika 2025 yang mempertemukan Maroko dengan Senegal

Final yang digelar penuh tensi menghadirkan satu titik balik krusial ketika Maroko mendapat hadiah penalti. Namun alih-alih menjadi pahlawan, Diaz justru harus memikul beban berat setelah tendangan panenkanya gagal menembus gawang Senegal yang dikawal Edouard Mendy.

Melalui akun Instagram-nya pada Senin 20 Januari 2026, Brahim Diaz secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada rekan setim dan seluruh rakyat Maroko. Ia mengakui kegagalan itu sebagai tanggung jawab pribadinya dan mengaku sangat terpukul atas hasil akhir pertandingan.

“Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, dengan sepenuh hati. Kemarin saya gagal dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Saya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam,” tulis Diaz pada Senin.

"Luka ini tidak mudah sembuh, tetapi saya akan berusaha bangkit."

Ironisnya, kegagalan di final tersebut kontras dengan performa luar biasa Diaz sepanjang turnamen. 
Penyerang berusia 25 tahun itu tampil konsisten dan menjadi mesin gol Maroko hingga mengantarkannya sebagai top skor Piala Afrika 2025 dengan koleksi lima gol.

Diaz bahkan nyaris mengukir kisah heroik di partai puncak. Ia menjadi aktor utama saat Maroko mendapatkan penalti kontroversial akibat pelanggaran El Hadji Malick Diouf terhadap dirinya di kotak terlarang, sebuah keputusan yang memicu kemarahan kubu Senegal.

Protes keras pun terjadi. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, bahkan sempat meminta para pemainnya melakukan walk out sebagai bentuk ketidakpuasan atas keputusan wasit. Pertandingan pun tertunda cukup lama sebelum akhirnya dilanjutkan.

Penalti tersebut baru dieksekusi di menit ke-24 masa injury time. Di bawah tekanan luar biasa, Diaz memilih mengeksekusi dengan gaya panenka, namun Mendy membaca arah bola dengan sempurna dan menggagalkan peluang emas Maroko.

Kegagalan itu menjadi titik balik final. Senegal kemudian memastikan kemenangan lewat gol Pape Gueye di babak tambahan waktu, sekaligus mengamankan gelar Piala Afrika untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka.

Malam itu berakhir dengan air mata bagi Diaz. Ia tak kuasa menahan emosinya saat menerima trofi Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak turnamen, sebuah penghargaan individual yang terasa hambar tanpa trofi Juara.

Meski diliputi penyesalan, Diaz menegaskan tekadnya untuk bangkit dan menebus kekecewaan tersebut di masa depan.

“Saya akan terus melangkah maju hingga suatu hari nanti saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi kebanggaan bagi rakyat Maroko,” tutup Diaz.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!