ID EN

Allano Lima Jadi Korban Rasisme, Persija Minta Federasi dan Operator Liga Bertindak Serius

Senin, 12 Januari 2026 | 22:25

Penulis: Arif S

Arsip - Pesepak bola Persija Jakarta Allano Brendon De Souza Lima (kiri). Antara Foto/Bayu Pratama
Antara Foto/Bayu Pratama
Sumber: Allano Brendon De Souza Lima

Persija Jakarta buka suara setelah salah satu pemain asingnya, Allano Lima, menjadi korban aksi rasisme di ruang digital. Serangan bernuansa rasial itu muncul di kolom komentar akun Instagram pribadi Allano, tak lama setelah laga panas BRI Super League kontra Persib Bandung, Minggu 11 Januari 2026.

Insiden tersebut memicu reaksi dari manajemen Persija. Klub menegaskan posisi mereka berdiri di sisi pemain dan tidak menoleransi segala bentuk rasisme yang mencederai nilai kemanusiaan dan sportivitas.

“Persija berdiri sepenuhnya bersama Allano Lima. Klub memberikan dukungan penuh secara moral dan psikologis kepada pemain kami, serta memastikan ia tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini,” ujar manajer Persija Ardhi Tjahjoko, dikutip dalam keterangan tertulis, Senin 12 Januari 2026.

Bagi Persija, rasisme bukan sekadar persoalan etika, tetapi ancaman nyata terhadap integritas Sepak Bola nasional. 

Klub menilai tindakan tersebut sebagai perilaku tidak bermoral yang mencoreng nilai keberagaman dan persatuan yang selama ini dijunjung tinggi di Indonesia.

Klub asal Jakarta itu sangat kecewa karena tindakan memalukan seperti ini masih terus berulang. Rasisme adalah kekerasan verbal yang melukai martabat seseorang.

Allano Lima merespons dengan pernyataan yang tegas sekaligus reflektif. Ia memilih menjadikan pengalaman pahit itu sebagai cermin perjalanan hidup dan kariernya.

“Saya bangga dengan siapa diri saya, saya bangga dengan apa yang telah saya capai. Tindakan rasisme ini justru menunjukkan seberapa jauh saya telah bertumbuh dari titik awal saya berasal. Pohon yang berbuah lebat adalah pohon yang paling sering dilempari batu. Kini saatnya kembali bekerja dan melanjutkan perjalanan kami. Jalan masih panjang. Kami akan terus berjuang,” katanya.

Tak berhenti pada kecaman moral, Persija mendesak adanya langkah nyata dari seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional agar kasus serupa tidak lagi berulang.

Persija mendesak operator liga, federasi, suporter, dan para pemangku kepentingan sepak bola lainnya bersikap tegas, serius, dan konsisten dalam memberantas segala bentuk rasisme, baik di stadion maupun di ruang digital.

Persija meyakini sepak bola seharusnya menjadi ruang aman untuk kompetisi sportif dan saling menghormati, bukan medan bagi kebencian dan diskriminasi.

Selain rasisme, klub berjuluk Macan Kemayoran itu juga menyoroti maraknya ujaran kebencian dan ancaman di ruang publik, yang dinilai berbahaya bagi ekosistem sepak bola.

Dengan sikap tegas ini, Persija berharap momentum ini menjadi titik balik bagi Sepak Bola Indonesia untuk bersih dari rasisme, baik di tribun stadion maupun di lini masa media sosial. 

Klub menegaskan kemenangan sejati bukan hanya soal skor di papan, tetapi juga tentang menjaga martabat permainan itu sendiri.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!