ID EN

Kunjungan Wisatawan ke Guci Turun Pascabanjir Bandang, Pancuran 13 Masih Ditutup

Selasa, 6 Januari 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Pancuran 13 ikon objek wisata Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Objek wisata Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebelum diterjang banjir bandang.
Sumber: Antara/Oky Lukmansyah

Kabut tipis menyelimuti kawasan pegunungan Guci di Kabupaten Tegal. Denyut wisata di salah satu Destinasi Favorit Jawa Tengah di lereng Gunung Slamet ini melambat pada libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026.

Dinas Pemuda, Pariwisata, dan Olahraga Jawa Tengah mencatat tingkat Kunjungan Wisatawan ke objek Wisata Guci mengalami penurunan signifikan pada momentum libur panjang akhir tahun. 

Kepala Disporapar Jateng, Muhamad Masrofi, menyebut penurunan hingga 27,45 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

“Banjir bandang yang menerjang kawasan Guci tentu menjadi salah satu faktor menurunnya minat masyarakat untuk mengunjungi Guci,” ujarnya.

Berdasarkan data resmi, jumlah Kunjungan Wisatawan ke Guci pada periode 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 tercatat 30.606 orang. 

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan momentum Libur Nataru 2024/2025 yang mencapai 42.187 wisatawan. 

Artinya, kawasan Wisata Pegunungan ini kehilangan sekitar 11.581 pengunjung.

Jika dilihat secara angka, objek wisata Guci telah kehilangan sekitar 11.581 pelancong pada momentum Liburan Nataru 2025/2026. 

Menurut Masrofi, selain dampak banjir bandang, faktor cuaca juga berperan besar. Curah hujan tinggi membuat hujan dan gerimis hampir turun setiap hari, sehingga memengaruhi kenyamanan wisatawan.

Selain itu, ikon utama kawasan Guci, kolam air panas Pancuran 13, hingga kini belum kembali beroperasi.

“Lokasi wisata yang ada di Guci itu dibuka, hanya Pancuran 13 itu tidak bisa digunakan karena kena lokasi banjir. Tapi, lokasi yang lainnya, pancuran kelima dan lain sebagainya masih bisa digunakan, masih bisa dikunjungi wisatawan,” katanya.

Ia menjelaskan Pancuran 13 mengalami dampak banjir paling parah. Sementara Pancuran Lima sudah selesai diperbaiki dan kembali dapat digunakan wisatawan.

Meski demikian, Masrofi menegaskan kawasan Guci secara umum tetap aman untuk dikunjungi. Fasilitas penunjang seperti hotel, vila, dan sebagian besar lokasi Pemandian Air Panas lainnya tetap beroperasi normal.

“Karena ada kejadian banjir besar itu sehingga kita mitigasi, kita memberikan pengamanan yang ekstra untuk kenyamanan daripada kunjungan wisata di Guci,” katanya.

Hingga saat ini, proses perbaikan Pancuran 13 masih berlangsung. Namun, pihak pengelola memastikan hal tersebut tidak mengganggu aktivitas wisata secara keseluruhan.

Di tengah upaya pemulihan pascabanjir, Guci tetap menawarkan pengalaman khas pegunungan: udara sejuk, lanskap hijau, dan Pemandian Air Panas alami. 

Pengelola berharap, seiring pulihnya fasilitas dan membaiknya cuaca, arus wisatawan ke Guci akan kembali menghangat seperti air panas yang sejak lama menjadi identitas destinasi ini.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!