Taman Penangkaran Rusa, Destinasi Wisata Alam Edukatif Baru di Lampung
Rabu, 31 Desember 2025 | 23:14
Penulis: Arif S

Sumber: Antara/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Di tengah meningkatnya minat wisatawan terhadap perjalanan berbasis alam dan pengalaman bermakna, sebuah sudut hijau di Lampung perlahan mencuri perhatian. Taman Penangkaran Rusa di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman, hadir dengan wajah baru, menjelma menjadi Destinasi Wisata edukasi dan healing trip yang ramai dikunjungi selama Libur Akhir Tahun 2025.
Taman Penangkaran Rusa Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung menjadi salah satu tujuan wisata edukasi masyarakat pada periode Libur Akhir Tahun 2025.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansyah mengatakan ada perubahan konsep pengembangan taman penangkaran rusa Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung yang dibuka kembali pada 11 Desember 2025.
BACA JUGA
Museum Marsinah Diharapkan Jadi Destinasi Edukasi dan Desa Wisata
Harga Tiket Naik, Museum Nasional Tawarkan Pengalaman Wisata yang Lebih Dalam
Rumah Pengasingan Bung Karno Diusulkan Punya Kedai Kopi, Strategi Tarik Generasi Muda
"Saat ini taman penangkaran rusa dikerjasamakan dengan swasta, yakni Bungsu Grup, dan di sini ditata agar bisa digunakan sebagai wisata edukasi sekaligus healing trip," ujarnya di Bandarlampung, Rabu 31 Desember 2025.
Rebranding kawasan ini menghadirkan pendekatan baru. Hutan bukan sekadar latar, tetapi ruang belajar dan ruang pulih.
Jalur tracking, interaksi langsung dengan satwa, hingga kafe bernuansa alam dirancang untuk mempertemukan manusia dengan ritme alam yang lebih lambat.
Taman penangkaran rusa Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman dengan konsep baru tersebut menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat, terutama di periode libur akhir tahun.
Daya tariknya adalah area tracking untuk menikmati kesegaran dari pepohonan dan kafe bernuansa alam yang dikolaborasikan dengan kegiatan memberi makan rusa Konservasi di sini.
"Ini biasanya yang menarik wisatawan, terutama anak-anak untuk berinteraksi dengan rusa secara langsung," jelasnya.
Pengembangan kawasan ini dilakukan secara bertahap dan berhati-hati, menjaga keseimbangan antara fungsi wisata dan prinsip Konservasi. Pengelola merancangnya agar tetap memberi manfaat ekonomi tanpa menggerus nilai ekologis kawasan hutan.
Ia menjelaskan perluasan pengembangan tersebut dilakukan secara bertahap, namun tetap memperhatikan sejumlah aturan konservasi di Tahura Wan Abdul Rachman.
Nantinya di area wisata edukasi itu menyajikan produk hasil hutan bukan kayu dari kelompok tani hutan sebagai buah tangan, dibuat juga area pernikahan, serta area piknik.
"Mudah-mudahan ini menjadi salah satu Destinasi Wisata hutan baru yang menarik, sebab saat ini masyarakat berminat terhadap wisata konsep alam yang segar dan ini juga bisa menjadi salah satu bentuk optimalisasi pemanfaatan aset pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan swasta," tambahnya.
Bagi pengunjung, daya tarik utama Farmday Mountainside bukan hanya visual, melainkan pengalaman menyentuh, mencium, dan merasakan alam secara langsung.
Salah seorang pengunjung wisata edukasi taman penangkaran rusa Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung yang kini telah rebranding menjadi Farmday Mountainside at Tahura Wan Abdul Rachman.
"Sekarang itu lebih suka ke tempat wisata yang konsepnya dekat ke alam, karena selama ini kita saat bekerja hanya melihat handphone, komputer, kadang butuh udara segar dan pohon-pohon. Kalau untuk anak-anak kita coba kenalkan ke hewan-hewan secara langsung karena selama ini hanya lewat layar saja," kata Henny.
Ia mengatakan wisata edukasi tersebut menjadi salah satu pilihan berwisata bagi keluarganya di periode libur Natal dan akhir tahun, karena jaraknya pun tidak jauh dari pusat Kota Bandarlampung.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan digital, Farmday Mountainside di Tahura Wan Abdul Rachman menawarkan sesuatu yang sederhana namun langka. Waktu melambat, udara segar, dan ruang bagi keluarga untuk kembali terhubung dengan alam sekaligus belajar merawatnya.(Antara)










