Dulu Jadi Destinasi Favorit, Kini Angkor Wat Sepi Wisatawan Imbas Konflik Kamboja–Thailand
Senin, 29 Desember 2025 | 18:00
Penulis: Respaty Gilang

Sumber: Canva
Angkor Wat selama ini dikenal sebagai ikon Pariwisata Asia Tenggara yang selalu ramai oleh pelancong dari berbagai penjuru dunia. Namun memasuki akhir 2025, suasana di kompleks candi warisan dunia UNESCO tersebut berubah drastis. Konflik Kamboja–Thailand membuat banyak wisatawan mengurungkan niat berkunjung, meninggalkan kawasan yang biasanya padat menjadi relatif lengang.
Letak Angkor Wat yang hanya sekitar dua jam perjalanan darat dari perbatasan Thailand membuat sektor pariwisata Siem Reap terkena imbas langsung. Penutupan jalur lintas batas dan meningkatnya ketegangan membuat banyak perjalanan dibatalkan, terutama oleh wisatawan yang sebelumnya merencanakan trip lintas negara di Asia Tenggara.
Dampaknya paling terasa di level akar rumput. Pemandu wisata lokal, Bun Ratana, mengungkapkan lebih dari 10 perjalanan wisata batal hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut memukul pendapatannya secara signifikan.
BACA JUGA
7 Tempat Wisata Terkenal di Chonburi Thailand yang Wajib Dikunjungi, Nomor 5 Bikin Takjub
Ambisi Thailand Guncang Asia Tenggara Lewat Taman Hiburan Selevel Disneyland
Kunjungan Wisatawan Turun, Industri Pariwisata Negara Tetangga Indonesia Masuk Fase Kritis
"Pendapatan saya turun sekitar 80 persen, sekarang tinggal sekitar USD 150 dolar (Rp 2,5 juta) dibandingkan Desember tahun lalu. Beberapa turis memang takut, tetapi di Siem Reap ini aman," ujar Bun Ratana dikutip dari France24, Senin, 29 Desember 2025.
Ketegangan antara Kamboja dan Thailand sendiri berakar dari sengketa perbatasan sejak era kolonial, yang kembali memanas sejak Mei lalu. Penutupan jalur penyeberangan darat tak hanya memukul pariwisata Kamboja, tetapi juga berdampak ke Thailand. Operator tur, pedagang, hingga sopir transportasi wisata di kedua negara ikut kehilangan penghasilan.
Pendiri agen wisata Journey Cambodia, Ream Boret, menyebut pemesanan terus menurun dalam beberapa bulan terakhir. Di sekitar Angkor Wat, sopir tuk-tuk Nov Mao bahkan mengaku pendapatannya turun hingga setengah sejak konflik pecah.
Situasi ini kontras dengan kondisi pariwisata Kamboja dalam beberapa tahun terakhir. Sektor wisata menyumbang sekitar 10 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Kamboja. Pada tahun sebelumnya, negara ini mencatat rekor 6,7 juta Kunjungan Wisatawan. Namun, data Angkor Enterprise menunjukkan penjualan tiket Angkor turun sedikitnya 17 persen sejak Juni hingga November, dengan penurunan paling tajam terjadi setelah bentrokan berdarah pada Juli.
"Biasanya Desember ramai, sekarang malah sunyi. Turis lokal dan asing seperti menghilang, saya rasa mereka takut, saya juga takut," kata penjual kaos di kawasan Angkor Wat, Run Kea.
Efek domino juga terasa hingga Thailand. Sekitar 420 kilometer dari Siem Reap, minibus yang biasanya mengangkut wisatawan ke Angkor Wat kini terparkir tanpa penumpang. Sejumlah agen perjalanan bahkan menghentikan rute bus menuju perbatasan sejak awal tahun.
Pemilik Lampoo Ocean Travel, Prasit Chankliang, mengaku kesulitan memberi kepastian kepada calon pelanggan.
"Saat mereka bertanya apakah bisa ke Kamboja, kami hanya bisa bilang tidak bisa pergi dan kami juga tidak tahu kapan bisa dibuka lagi," kata Prasit.
Meski begitu, tidak semua wisatawan memilih menjauh. Beberapa turis tetap datang ke Angkor Wat dengan pertimbangan matang. Salah satunya Dorothy, wisatawan asal Amerika Serikat. Ia menilai konflik yang terjadi tidak memengaruhi keputusannya untuk berkunjung.
Ia mengaku merasa aman karena sudah memahami kondisi perjalanan dan situasi di lapangan.
Para pengamat pariwisata menilai, tantangan terbesar Kamboja saat ini bukan hanya faktor keamanan, melainkan persepsi global. Sorotan media internasional, ditambah representasi negatif Asia Tenggara dalam film dan pemberitaan tentang jaringan penipuan daring, ikut memperburuk citra destinasi.
"Faktanya, Destinasi Wisata utama Kamboja aman, tetapi pemberitaan media sudah terlanjur menimbulkan dampak negatif," ujar Direktur Konsultan Pariwisata Pear Anderson, Hannah Pearson.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Siem Reap, Thim Sereyvudh, juga mengakui bahwa reputasi Kamboja sebagai lokasi aktivitas penipuan lintas negara menjadi beban tersendiri bagi industri wisata. Meski demikian, ia tetap optimistis kondisi ini tak akan berlangsung lama.
"Semakin cepat perang berakhir. Semakin cepat wisatawan akan kembali," kata dia.
Bagi Traveler Muda, situasi ini menjadi pengingat bahwa merencanakan perjalanan bukan hanya soal destinasi indah, tetapi juga soal membaca konteks geopolitik dan informasi yang akurat. Angkor Wat masih berdiri megah, namun kini menunggu kembalinya kepercayaan wisatawan dunia.










