ID EN

Kunjungan Wisatawan Turun, Industri Pariwisata Negara Tetangga Indonesia Masuk Fase Kritis

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:30

Penulis: Arif S

Kota Bangkok Thailand
Ilustrasi - Kunjungan wisatawan China ke Thailand turun drastis.
Sumber: Pixabay

Selama puluhan tahun, Thailand berdiri sebagai salah satu poros utama Pariwisata dunia. Pesona pantai tropis hingga kota bersejarah menjadi daya tarik jutaan pelancong ke Thailand. Namun kini, industri pariwisata Thailand berada di ambang kemerosotan, tertekan perubahan cepat dalam peta perjalanan global dan meningkatnya persaingan regional, khususnya dengan Vietnam.

Dilansir Thaiger, data terbaru menunjukkan adanya pergeseran signifikan. Kunjungan Wisatawan internasional ke Thailand turun 7,2% sepanjang 2025, sebuah kontras tajam dengan Vietnam yang justru melonjak 20,4% pada periode sama. 

Angka ini menjadi sinyal peringatan bagi Thailand yang selama ini nyaman di posisi puncak destinasi Asia-Pasifik.

Keberhasilan Vietnam tidak datang secara kebetulan. Negara tersebut dinilai lebih cepat membaca perubahan tren perjalanan, terutama dari wisatawan asal China, sembari memperluas konektivitas dan mempercepat pembangunan infrastruktur. 

Ketimpangan ini diperkirakan akan terus melebar jika Thailand tidak segera beradaptasi.

Vietnam tengah menjalankan strategi jangka panjang untuk merebut pangsa pasar pariwisata global, mulai dari rencana pembangunan 12 bandara baru, pengembangan jaringan Kereta Api cepat, hingga proyek hotel berskala besar di berbagai wilayah strategis.

Direktur Pelaksana C9 Hotelworks, Bill Barnett menilai industri pariwisata Negeri Gajah Putih telah memasuki fase krusial yang menuntut pendekatan baru.

Menurutnya, strategi jauh lebih penting daripada sekadar memperbesar skala, bukan lagi pemulihan, melainkan waktu untuk mengambil keputusan besar. 

"Para pesaing di kawasan sudah menginvestasikan dana sangat besar, dan Thailand tidak bisa terus bergantung pada kejayaan masa lalu. Keputusan yang diambil sekarang akan sangat menentukan arah pariwisata Thailand dalam sepuluh tahun ke depan,” ujar Barnett.

Meski tekanan meningkat, optimisme belum sepenuhnya pudar. Pelaku industri perhotelan dan investor masih melihat Thailand sebagai destinasi dengan daya tarik kuat, baik sebagai tujuan wisata maupun tempat tinggal. 

Namun, daya pikat itu dinilai perlu disertai dorongan kewirausahaan baru yang mampu menghadirkan pengalaman segar bagi wisatawan global.

Pandangan serupa disampaikan Managing Partner dan Co-Head Central Group Capital sekaligus Kepala Divisi Hotel dan Investasi Alternatif Central Pattana (CPN), Phoom Chirathivat. Ia menyebut optimisme tetap ada, meski dibayangi kehati-hatian.

“Sebagai investor, saya tentu optimistis, tetapi tetap berhati-hati. Sikap waspada ini muncul karena ketidakpastian global, termasuk isu geopolitik dan keamanan. Di tingkat regional, persaingan semakin ketat, sementara kondisi ekonomi dalam negeri juga belum sepenuhnya baik,” kata Phoom.

Salah satu tantangan utama Thailand adalah ketergantungan pada destinasi klasik seperti Phuket, Koh Samui, Pattaya, Chiang Mai, dan Pattaya. Phoom menilai pendekatan ini perlu diperluas dengan mengembangkan wilayah-wilayah lain yang selama ini luput dari sorotan.

Wilayah Isaan di timur laut Thailand, misalnya, menawarkan kekayaan budaya, kuliner khas, dan kehidupan masyarakat lokal yang autentik. 

Sementara Nakhon Sri Thammarat di pesisir tenggara menyimpan lebih dari 3.000 kilometer garis pantai alami, dengan lanskap masih tenang dan minim sentuhan pembangunan masif.