Raih Medali Emas di 2023, Indonesia Tersingkir di Fase Grup SEA Games 2025
Sabtu, 13 Desember 2025 | 06:45
Penulis: Arif S

Sumber: Antara Foto/NAY/sth/foc
Upaya Tim Indonesia U-22 untuk mempertahankan medali emas sepakbola SEA Games akhirnya terhenti lebih cepat. Garuda Muda tak mampu mengulang kejayaan dua tahun lalu setelah tersingkir di fase grup SEA Games 2025, meski menutup laga terakhir Grup C dengan kemenangan.
Bertanding di 700th Anniversary Stadium, Chiang Mai, Jumat 12 Desember 2025, Indonesia meraih kemenangan 3-1 atas Myanmar.
Kemenangan ini membawa mereka finis sebagai runner-up Grup C dengan tiga poin, namun tetap tak cukup untuk lolos ke semifinal melalui jalur runner-up terbaik.
BACA JUGA
Pahit! Indonesia Gagal ke Semifinal Sepak Bola SEA Games 2025 Meski Kandaskan Myanmar
Tradisi Semifinal Sepak Bola SEA Games Putus, Indra Sjafri Buka Suara
Dari Emas ke Eliminasi Dini: Jejak Panjang Pencapaian Indonesia di Sepak Bola SEA Games
Produktivitas gol menjadi penentu pahitnya nasib Indonesia. Skuad asuhan pelatih U-22 mencatat memasukkan-kemasukan 3-2, kalah tipis dari Malaysia yang menjadi runner-up Grup B dengan catatan 4-3. Padahal, kemenangan atas Myanmar sempat membuka harapan untuk melangkah jauh.
Situasi ini kontras dengan pencapaian SEA Games 2023, ketika Indonesia tampil mendominasi sejak awal turnamen.
Kala itu, Garuda Muda yang juga dipimpin Indra Sjafri menyapu bersih empat kemenangan di fase grup. Mereka menyingkirkan Vietnam di semifinal, lalu merebut medali emas dengan mengalahkan Thailand lewat perpanjangan waktu di final.
Kini, hanya dua tahun berselang, ceritanya berbeda. Indonesia mengakhiri fase grup SEA Games 2025 dengan tiga poin dari dua pertandingan.
Sebelum menang atas Myanmar, Rafael Struick dan rekan-rekannya harus menelan kekalahan menyakitkan 0-1 dari Filipina di laga pembuka. Hasil yang pada akhirnya terbukti krusial dalam perburuan tiket semifinal.
Kegagalan ini menjadi refleksi, persaingan di level Asia Tenggara semakin ketat. Bagi Indonesia, SEA Games 2025 menjadi pengingat, mempertahankan gelar tidak pernah mudah. Bahkan kemenangan besar di laga terakhir pun tak mampu menutup celah yang sudah terbuka sejak awal turnamen.***










