ID EN

Mengenal Piring Terbang, Cabang Olahraga Unik yang Debut di SEA Games 2025

Kamis, 11 Desember 2025 | 16:30

Penulis: Arif S

Permainan piring terbang
Permainan piring terbang di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Sumber: Antara/HO-Perkumpulan Piring Terbang Indonesia (PPTI)

Piring terbang (flying disc) akhirnya mencatat sejarah setelah menjadi cabang olahraga demonstrasi di SEA Games ke-33 Thailand 2025. Untuk pertama kalinya, olahraga yang berkembang dari permainan kasual mahasiswa Amerika Serikat ini masuk ke panggung multi-olahraga terbesar di Asia Tenggara.

Keputusan ini tak hanya menandai pengakuan regional atas popularitas flying disc, tetapi juga membuka kesempatan bagi publik lebih luas untuk mengenal format olahraga ini. 

Dari Loyang Pai ke Arena Kompetitif

Dilansir dari laman SEA Games 2025, asal-usul olahraga flying disc tercatat sejak 1871, ketika mahasiswa Universitas Connecticut menggunakan loyang pai buatan Frisbie Company sebagai alat lempar-tangkap. 

Permainan itu berkembang pesat dan masyarakat mulai menyebutnya “Frisbee”, mengadopsi nama produsen loyang tersebut.

Seiring evolusi piring terbang berbahan plastik diproduksi massal. Olahraga ini kemudian dinamai “Flying Disc”, meski istilah "Frisbee" tetap populer, seperti istilah “ping pong” untuk tenis meja.

Seiring dengan popularitas kompetisinya yang meningkat, olahraga ini diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC). Pengakuan ini turut mendorong tampilnya flying disc di SEA Games 2025 sebagai cabor demonstrasi. 

Rencananya, pertandingan piring terbang SEA Games akan digelar di Bangkok dan sekitarnya.

Dua Nomor Unggulan di SEA Games

Dari sejumlah nomor flying disc, SEA Games 2025 memilih dua nomor paling populer sebagai ajang demonstrasi:

1. Disc Golf

Disc Golf mengadopsi prinsip golf tradisional. Bedanya, pemain melempar piring ke keranjang target alih-alih memukul bola ke lubang. 

Pemenangnya ditentukan dari jumlah lemparan paling sedikit yang dibutuhkan untuk mencapai target, mirip konsep par atau stroke dalam golf konvensional.

Olahraga ini menuntut teknik, presisi, dan kemampuan membaca arah angin, menjadikannya salah satu cabang yang cocok untuk pecinta permainan taktis.

2. Ultimate

Ultimate adalah format beregu yang dimainkan 7 lawan 7 di lapangan persegi panjang. Sportivitas, kecepatan, dan strategi menjadi kunci utama.

Mirip dengan American Football, pemain yang memegang piring tidak diperbolehkan berlari sehingga permainan mengandalkan operan antarpemain.

Tim mencetak poin dengan melakukan operan sukses di zona akhir lawan. Jika piring jatuh atau diintersepsi, kepemilikan piring langsung berganti.

Olahraga Global dengan Komunitas Berkembang

Meskipun belum menjadi bagian dari Olimpiade, flying disc terus berkembang di berbagai negara dengan dukungan Federasi Piring Terbang Dunia (WFDF), lembaga resmi yang berdiri sejak 1985 dan mengatur kompetisi dari tingkat lokal hingga internasional.

Selain Disc Golf dan Ultimate, disiplin lain seperti lempar ketepatan, jarak tempuh, dan gaya bebas juga memperkaya dunia flying disc.

Ketua Perkumpulan Pemain Piring Terbang Indonesia, Randi Tulus mengatakan flying disc sebenarnya telah lama dikenal di tanah air. 

Namun, pertumbuhannya masih terbatas karena komunitas pemain didominasi siswa sekolah internasional, sehingga penyebarannya belum merata.(Antara)