Mengapa Wisatawan Tiongkok Jatuh Cinta pada Laut Manado dan Bromo? Ini Alasannya
Selasa, 25 November 2025 | 14:00
Penulis: Arif S

Sumber: Kemenpar
Di tengah arus perjalanan global yang terus berubah, Indonesia menemukan momentum penting. Wisatawan Tiongkok tidak lagi hanya mencari kenyamanan paket tur, tetapi petualangan autentik yang mengalir dari alam dan budaya Nusantara.
Dari kedalaman biru laut Manado hingga siluet magis Bromo di bawah langit fajar, negeri ini menjadi panggung baru bagi eksplorasi yang lebih personal dan bermakna.
Destinasi yang digemari wisatawan asal Tiongkok ketika berkunjung ke Indonesia adalah pemandangan alam seperti laut di Manado, Sulawesi Utara dan area pegunungan Bromo, Tengger, Semeru (BTS).
BACA JUGA
Jepang Kembali Jadi Primadona Turis China, Indonesia Masuk Radar Favorit Baru
Desa Osing Kemiren Masuk Jaringan Wisata Dunia Versi UN Tourism
Tren Baru Wisatawan China ke Bali: Anak Muda, Digital, dan Solo Traveling
Di dua lanskap kontras itu, karang tropis dan savana gunung api, mereka menemukan ruang yang menginspirasi, jauh dari kepadatan kota.
Namun petualangan mereka tidak berhenti pada panorama. Wisatawan Tiongkok juga banyak menghabiskan dana untuk mencicipi masakan bahari (seafood) dengan cita rasa Indonesia.
Hidangan laut Bajo dan Manado menjadi magnet, mematahkan anggapan lama tentang preferensi kuliner mereka.
"Dulu kita pikir mereka harus makanan China, enggak juga. Ada seafood di Bajo, di Manado, makanya di Manado banyak turis China," ujar Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini.
Tren baru pun tampak di hari besar seperti tahun baru dan Tahun Baru Imlek. Pada periode khusus ini, wisatawan Tiongkok lebih gemar menyewa kamar junior suite.
Konten yang mereka unggah bukan hanya foto perjalanan, tetapi juga representasi gaya hidup, menampilkan kemewahan hotel yang mereka kunjungi.
Opsi lain yang semakin diminati adalah menginap di resort bersama keluarga, menikmati waktu berkualitas di tengah suasana tropis.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat wisatawan Tiongkok pada aktivitas berpetualang seperti menyelam (diving) dan bermain golf juga meningkat.
"Ini bagus untuk kita (karena dipromosikan), karena spending-nya tinggi dan mereka enggak masalah. Apalagi lautnya kita bagus sekali," tambah Made.
Perubahan Perilaku Wisatawan Tiongkok
Di balik meningkatnya jumlah kunjungan, terdapat transformasi cara wisatawan Tiongkok merayakan perjalanan mereka.
Kemenpar menyoroti adanya perubahan tren perilaku wisatawan asal Tiongkok saat berwisata ke Indonesia.
"Sekarang itu telah terjadi perubahan substantif dari perilaku wisatawan dari Tiongkok,"* katanya.
Sebelum pandemi, perjalanan mereka identik dengan grup besar yang berkeliling dengan bus wisata. Rata-rata lima hingga enam orang berada dalam satu rombongan karena kendala bahasa.
Namun kini, pola itu berubah drastis. Banyak wisatawan memilih berwisata berdua atau bahkan seorang diri. Teknologi menjadi jembatan yang membuat perubahan ini mungkin terjadi.
Kemajuan platform penerjemah dan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan mereka berkomunikasi lebih mudah.
"Jadi ketika traveling misalnya ke Bromo, tidak ada masalah, tinggalnya sudah tahu, sekarang mereka sudah punya online platform yang besar dari sana, dulu kan tidak ada agen perjalanan. Perubahan zaman ini yang membuat berubah perilakunya," kata Made.
Tak hanya Indonesia, mereka kini menjelajah lebih jauh hingga Eropa dan berbagai kawasan Asia lain, pertanda daya beli semakin kuat dan keinginan eksplorasi lebih luas.
Tiongkok, Pasar Besar yang Terus Mengalir ke Indonesia
Dengan hampir 1,2 juta kunjungan pada Januari-September 2025, Tiongkok menjadi salah satu dari 15 negara dengan jumlah wisatawan terbanyak di Indonesia.
Angka itu bukan sekadar statistic tetapi juga mencerminkan hubungan semakin erat antara dua negara dan peluang yang terus membesar.
Dalam konteks geopolitik, adanya konflik antara Jepang dan Tiongkok membuka peluang tambahan bagi Indonesia.
"Kami berharap akan mendapatkan windfall-nya ya, jadi positif untuk kita dan mereka (wisatawan mancanegara) bisa ke Indonesia," harapnya.
Untuk memastikan momentum ini tidak terbuang, Kementerian Pariwisata terus menggencarkan promosi internasional dan merancang berbagai paket wisata yang lebih relevan dengan minat baru wisatawan Tiongkok, baik pencari ketenangan, pecinta kuliner, maupun penjelajah alam.










