ID EN

Menyelam ke Dunia Haenyeo Jeju: Tradisi Penyelam Perempuan yang Memesona

Senin, 24 November 2025 | 12:23

Penulis: Rojes Saragih

Haenyeo, penyelam tradisional perempuan dari Jeju, Korea Selatan
Haenyeo, penyelam tradisional perempuan dari Jeju, Korea Selatan yang mengandalkan napas dan ketrampilan untuk mengumpulkan hasil laut
Sumber: Ade Irma Junida/Antara

Bagi penggemar drama Korea, Pulau Jeju dan para haenyeo tentu sudah tidak asing. Serial populer 'When Life Gives You Tangerine' telah membawa warisan budaya unik dari pulau terbesar di Korea Selatan ini ke khalayak global, mengisahkan perjuangan putri seorang haenyeo yang bercita-cita menjadi penyair

Haenyeo adalah para penyelam tradisional perempuan dari Jeju yang telah menjalani profesi ini selama hampir seribu tahun. Hanya mengandalkan napas dan keterampilan, mereka menyelam tanpa alat bantu untuk mengumpulkan berbagai hasil laut seperti teripang, abalon, kerang, dan rumput laut.

Awalnya, tradisi penyelaman ini tidak hanya dilakukan perempuan. Namun karena tingginya risiko yang dihadapi para penyelam pria, lambat laun perempuanlah yang mengambil alih peran ini. Dari Jeju, tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah pesisir, bahkan hingga Jepang dan China.

Warisan Ribuan Tahun di Bawah Gelombang

Di Desa Sagye-ri, Seogwipo, hidup seorang legenda hidup. Lee Bok-soo (71) telah menjadi haenyeo selama lebih dari setengah abad. Di pagi yang sejuk pada November 2025, ia berbagi cerita dengan para jurnalis ASEAN dalam program yang diadakan ASEAN-Korea Centre.

"Kami belajar menyelam secara alami sejak kecil. Selepas sekolah, tidak ada yang bisa dilakukan selain berenang dan bermain di laut," kenang Lee dengan senyum khasnya.

Perempuan yang kini telah memiliki dua cucu ini memulai debutnya sebagai haenyeo profesional di usia 18-19 tahun. "Menjadi haenyeo adalah sesuatu yang saya tekuni sepenuhnya. Mungkin kerja keras inilah yang membuat saya tetap awet muda," ujarnya sambil tertawa.

Haenyeo, penyelam tradisional perempuan dari Jeju, Korea Selatan yang mengandalkan napas dan ketrampilan untuk mengumpulkan hasil laut
Haenyeo, penyelam tradisional perempuan dari Jeju, Korea Selatan yang mengandalkan napas dan ketrampilan untuk mengumpulkan hasil laut
Sumber: Ade Irma Junida/Antara

Teknologi dan Tradisi yang Menyatu

Para haenyeo modern dilengkapi dengan peralatan yang telah disempurnakan: baju selam karet, kaki katak, kacamata selam bulat besar, dan tewak - pelampung bundar yang berfungsi ganda sebagai penanda posisi dan tempat menyimpan hasil tangkapan. Mereka juga membawa bitchang, alat besi berbentuk kail untuk mencungkil abalon dari bebatuan.

Lee dengan lincah masih bergerak di dalam air, bukti dari pengalaman puluhan tahun yang telah menjadikannya bagian dari laut itu sendiri. Seperti ibu yang penyayang, ia berulang kali mengingatkan para wartawan untuk menjauhi tangga batu yang licin di dermaga.

Antara Kebanggaan dan Kekhawatiran

Booming-nya drama Korea tentang haenyeo telah membawa berkah tersendiri. "Dari Mei hingga Oktober, banyak wisatawan yang datang untuk mencoba pengalaman menjadi haenyeo," ujar Lee bangga.

Namun di balik kebanggaan itu, tersimpan kekhawatiran yang dalam. Dari 35 haenyeo di Sagye-ri, hanya tiga yang berusia di bawah 60 tahun. Dua di antaranya bahkan adalah laki-laki. Yang lebih memprihatinkan, tidak satu pun anak para haenyeo ini yang berminat meneruskan tradisi.

"Saya punya dua putri, dan saya tidak ingin mereka menjadi haenyeo. Mereka sendiri bilang, terlalu sulit melihat ibu mereka melakukan pekerjaan ini," ucap Lee.

Profesi ini memang sarat risiko: sakit kepala akibat tekanan air, nyeri punggung kronis, hingga kecelakaan di laut. Lee mengaku dalam hati kecilnya, ia pun tidak akan merekomendasikan profesi ini kepada generasi muda.

Haenyeo, penyelam tradisional perempuan dari Jeju, Korea Selatan, yang mengandalkan napas dan keterampilan untuk mengumpulkan hasil laut.
Haenyeo, penyelam tradisional perempuan dari Jeju, Korea Selatan, yang mengandalkan napas dan keterampilan untuk mengumpulkan hasil laut.
Sumber: Ade Irma Junida/Antara

Masa Depan yang Dipertaruhkan

Pemerintah Provinsi Jeju tidak tinggal diam. Mereka menerbitkan peraturan khusus untuk melestarikan tradisi haenyeo, memberikan insentif seperti bantuan biaya medis, tunjangan bagi haenyeo lanjut usia, dan dukungan untuk haenyeo muda.

Gubernur Jeju Oh Young-hun mengakui bahwa meski populasi haenyeo terus menurun, minat wisatawan justru meningkat. "Tahun lalu, Jeju dikunjungi sekitar 2 juta wisatawan, mendekati angka sebelum pandemi," ujarnya.

Warisan budaya yang diakui UNESCO pada 2016 ini terus hidup melalui berbagai atraksi wisata: tur budaya, jelajah desa tradisional, kelas memasak makanan laut, dan tentu saja, Museum Haenyeo yang menyajikan sejarah lengkap tradisi ini.

Lee Bok-soo mungkin mewakili paradoks yang dihadapi banyak warisan budaya: bangga pada tradisi yang dijalani, namun realistis dengan tantangan di masa depan. "Saya akan terus menyelam mungkin 5 atau 10 tahun lagi. Tapi jika terlahir kembali, saya ingin bersekolah tinggi dan bekerja di kantor," ujarnya dengan nada haru, dikutip Antara, 24/11/2025.

Dalam ketegangan antara pelestarian dan perubahan, antara tradisi dan modernitas, para haenyeo terus melanjutkan tarian abadi mereka dengan laut - sebuah warisan yang terlalu berharga untuk hilang, namun terlalu berat untuk dipertahankan.